Selasa, 21 Juli 2026

Pazzle Waktu 23 “Pentingnya Efektivitas ”

Aroma kopi Arabica dimeja saya masih begitu smerbak khasnya, pagi ini agak berkabut. embun masih seperti biasa bagaimana berupaya menjadi seorang ayah yang benar-benar optimal setiap waktu yang diberikan baik pekerjaan rumah maupun kerjaan saya dikantor. harapan yang sama terhadap anak-anak bersekolah dengan produktif dan aktif baik dalam penyerapan ilmu maupun latihan-latihan keterampilan, besar harapan saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya.

Pagi ini saya dan kita semua mengawali berbagai ragam aktivitas harian sesui Jobdesk masing-masing. Berangkat dari hal yang sederhana dan saya punya pandangan, apakah saya benar-benar sudah bekerja secara efektif selama ini? Apakah energi saya justru lebih banyak terbuang kehal-hal yang dampaknya “Nol”?

Sekarang saya melihat perbedaan semakin siknifikan dari beberapa Negara tetangga khususnya Singapura serta gebrakan China, contoh yang paling sederhana; saya sebagai pecinta badminton dari kecil dimana saya selalu ngikutin perkembanganya dari awal tahun 2000 an (*Lin Dan dan Taufik Hidayat waktu itu masih begitu sangat muda) hingga hari ini!.

artinya lebih kurang sudah 26 Tahun yang lalu, apa faktanya?  selalu China yang mendominasi badminton dipentas Dunia. Ini baru “satu bidang” belum lagi soal “teknologi”, “budaya”, “hiburan”, “pembangunan” “energi terbarukan”, “otomotif”, “robotik” hingga “produk dalam negerinya” bahkan kita rasakan dan kita pakai hingga hari ini, betul?.

saya melihat salah satu kunci dari negara China adalah Negara yang memiliki Evektivitas tinggi.

Kenapa Efektifitas ini begitu krusial dalam sebuah perusahaan atau negara? ada beberapa hal yang saya fikirkan adalah;

Persaingan global ketat-Faktanya negera besar seperti Amerika, China , Jerman, Rusia saat ini negara-negara maju ini semakin gencar berlomba dalam inovasi teknologi, kecepatan produksi, Sumber Daya Manusia yang unggul, menekan biaya produksi, disinilah penentu siapa yang paling Efektif dimana dapat mencapai hasil yang paling maksimal dengan sumber daya yang minim.

Lalau bagaimana dengan indonesia?

Sumberdaya terbatas kebutuhan tidak terbatas-kita semua tahu mulai dari waktu,energi,SDM,Uang, semua itu sangat terbatas. sementara kebutuhan manusia hampir tidak ada batasnya.

Contohnya Perusaan Toyota sangat terkenal dengan sistem Produksinya Lean Manufacturing yang sangat terkenal efesien,dan kamu tau sendiri Indonesia salah satu pasar terbesarnya Toyota :) ,  contoh lain Amazon unggul dengan logistiknya sangat efektif dan terotomatisasi.

Lalu Kecepatan perubahan teknologi saat ini -dimanan AI,Big data,Energi terbarukan memaksa dan mendorong kita semua untuk ikut upgrade skill diri ,bila tidak Efektif dalam beradaptasi maka suatu perusahaan atau negara akan tertinggal.

Misalnya Korea Selatan dan Singapura mereka itu sangat fokus pada efisiensi system pedidikan dan industrialisasinya dimana agar selalu relevan dengan perkembangan global saat ini.

Menurut saya produktivitas adalah manivestasi dari kekuatan ekonomi-Artinya adalah dinegara maju kekuatan tidak selalu diukur dari SDM atau produktivitas perorangan, akan tetapi efektivitas akan meningkatkan Outpun per jam kerja, stabilitas ekonomi nasional, daya saing global, maupun nilai tambah ekonomi.

Terkahir adalah Era Digital menuntut presisi tinggi-saat ini kita tuh kerja sangat dituntut semuanya harus berbasis data, benar? korelasinya dimana? Contoh ketika suatu hari para Top management corporate mengeksekusi sebuah keputusan nah keputusan tersebut dipilih dan dibuat berdasarkan Analisis real time, Otomasi sistem, dan AI prediksi, artinya kita dituntut dalam pengambilan sebuah keputusan tidak boleh lambat dan tidak boleh salah arah. Jadi mari lakukan perubahan kecil itu terus berkelanjutan, dan efektivitas kecil itu kita mulai dari hari ini, dari sendiri.  :)

  “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 Oleh: Farie

 

 

Pazzle Waktu 22 “Bus Legendaris Kisah Sipenolong Ijazah tahun 2002-2008"

Dari kejahuan sebuah bus bewarna merah melewati kampung kami, berseragam putih biru dongker dan tas dipunggung saya perlahan mendekat pinggir jalan lalu melambaikan tanggan 50 meter sebelum bus mengarah check point titik saya berdiri.

Jam 7 pagi masih begitu terasa dingin, udara segar seakan bergelantungan lalu bergerilia dimana bangku-bangku kosong bus ini. pagi yang cerah ini adalah awal tahun ajaran baru tahun 2002 Dinas pendidikan Agama Sumatera Barat tingkat Mts.N. sekitar 24 tahun yang lalu, terbilang jauh dari modernisasi seperti saat ini.

Waktu menunjukan pukul 14:00 wib setelah melaksanakan sholat berjamaah sebagai bagian dari rutinitas sebelum kami pulang sekolah (saya yakin rutinitas ini hingga hari ini masih berjalan dengan baik bahkan lebih systematis dan terstruktur). saya dan beberapa teman yang lain seiring memisahkan diri dari gerombolan yang notabene teman-teman saya domisili disekitaran sekolah kami. Gadung surian adalah salah satu daerah hampir paling ujung perbatasan wilayah solok hampir ujung bagian selatan. kali ini mengharus saya sedikit keluar dari desa saya lebih kurang 10 KM setiap hari pulang dan pergi mengunakan oplet maupun Bus antar daerah hingga Kota.

Bus legendaris ini waktu itu ada beberapa unit, umumnya rute kota Padang-Solok selatan, maupun Kab Solok-Solok Selatan. Mereka barangkali sudah beroperasi sejak tahun 90 an.

Putri Tunggal, Suliti Indah, Gunung talang begitulah fond besar didepan kaca bus legendaris kebanggan saya tersebut. Ada lagi mungkin tapi saya sudah lupa.

Ada hal paling berkesan dari para sopir bus ini ia menegerti kebutuhan anak-anak sekolah kampung kami. Yaitu tidak akan bisa berangkat sekolah kalo bukan bersama bus yang melintas dikampung kami, makanya mereka selalu berhenti didepan anak sekolah setiap harinya. sebab oplet tidak rutin atau bahkan nyaris tidak ada kecuali hari-balai atau hari pasar .

Bus ini selalu berhenti didepan rumah saya, umumnya jam pulang sekolah bila bus penuh saya harus berdiri bergelantungan hingga sampai dirumah kembali. Ada yang bisa nebak berapa biaya bus/oplet tahun anak sekolahan awal tahun 2000 an? Benar sekali.. “500 Rupiah”!  :).

Waktu terus berjalan tampa saya rencanakan naik turun bus-bus kebanggan saya ini tiap hari berlangsung hingga Enam tahun kemudian (sampai Lulus Sekolah Menengah Atas). satu hal yang masih memebekas difikiran saya dimana moment beberapa bulan setelah saya lulus sekolah 2008.

Bak kisah dipulau Hokkaido tepatnya stasiun Kami-Shirataki Jepang, dimana di sebuah desa terpencil ada seorang siswa masih mengunakan jasa kereta api untuk berangkat dan pulang sekolah disetiap harinya. Padahal rute itu hampir tidak ada lagi penumpang, akhirnya perusahaan kereta api jepang berencana menutup permanen rute kami-shirataki tersebut demi efisiensi.

Lalu management KAI mereka dapat kabar dan mengatahui sebuah fakta dimana masih ada satu orang siswa tengah menempuh pendidikan dan memanfaatkan rute  kereta itu tiap hari, pada akhirnya perusahan kereta api memutuskan menunda penutupan jalur kereta di desa tersebut dan menunggu hingga siswa tersebut menamatkan sekolahnya. Setelah menamatkan sekolah rute kereta Kami-Shirataki resmi di tutup secara permanent.

Tahun 2008 beberapa bulan setelah saya menamatkan sekolah Tingkat SLTA bus-bus legendaris kebanggaan saya itu total stop beroperasi secara permanent. Saya tidak tau pasti penyebab semua bus Solsel-Padang tersebut tidak lagi beroperasi sama sekali hingga hari ini.

Tahun 2002-2008 adalah masa-masa transisi pola hidup saya setiap hari tak lepas dari angkutan umum, bergelantuangan dipintu bus maupun oplet. masih terekam jelas diingatan saya bagaimana keseharian kernek dan sopir lintas kota-daerah setiap hari hidup sepanjang jalanan, wajah-wajah sopir dan kernek bus legendaris ini masih tercatat difikiran saya hingga hari ini. Saya kirimkan doakan terbaik semoga para penyelamat ijazah saya, para penyelamat episode penting dalam hidup saya sehat-sehat selalu bersama kelurga tercinta hari ini hingga kemudian hari aamiin.

Masa SMA saya sering sendiri dipojok pojok jalanan duduk berjam-jam, karena saya termasuk siswa terjauh dari titik sekolah, jadi sangat jarang ada angkot atau oplet rute kekampung saya.

Bus adalah satu-satunya andalan saya setiap harinya.  

Merindukan dari begitu banyak moment pulang sekolah duduk dipinggiran jalan ditengah hujan begitu lebatnya basah kuyup sesampai dirumah pulang larut magrib. Tau kenapa? Karna saya ketiduran dibus karena saya kelelahan hingga terlewat jauh dan jauh dari titik pemeberhentian  yang seharusnyan didepan rumah wkwkw… :D

 “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Jumat, 03 Juli 2026

Pazzle Waktu 21 “ Kenapa Transisi Energi harus dilakukan?”

Dulu waktu kita dibangku SMP barang kali masih ingat istilah dari “Hukum Kekekalan Energi”?, dimana Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahka, akan tapi bisa diubah dari satu bentuk kebentuk lain, begitulah sifat energi itu sendiri. Jadi sang Pencipta ngasih modal buat kita manusia hidup di planet bumi ini sungguh diselimuti oleh berbagai macam jenis sumber energi yang begitu besar. dan itu semua dapat dioptimalisasikan dalam hal memenuhi kebutuhan dan kelansungan hidup kita, dan pada dasarnya kita tidak bisa hidup tampa bantuan energi itu sendiri, sip!

Jenis pembangkit energi listrik saat ini berupa PLTU, PLTA, PLTS, PLTMG,PLTGU,PLTP, PLTN dan sebagainya. Berbagai jenis pembangkit energi tersebut dibangi menjadi 2 katagori Energi terbarukan dan energi fosil atau/tidak terbarukan. Data terakhir dinegara kita saat ini kapasitas terpasang energi listrik adalah sebesar 107 GW dimana 15 GW diantaranya adalah pembangkit energi baru terbarukan, dan itu masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Kenapa ini perlu saya bahas? karena Indonesia punya target dalam mengenjot pembangkit energi baru terbarukan(EBT) sebagai bagian dari transisi energi menuju Net Zero Emession (NZE) paling lambat realisasinya pada tahun 2060 bahkan lebih cepat.

Paris Agreement 2015 adalah dasar utamanya komitment Internasional soal ini, bertujuan menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 1,5°C - 2°C.

Dalam Nationally Determined Contributions: Setiap negara diwajibkan menyerahkan rencana aksi penurunan emisi secara berkala, yang memaksa mereka membuat target NZE, nah disini Indonesia paling lambat realisasi NZE di tahun 2060.

Artinya apa? Pembangkit listrik kita saat ini di indonesia faktanya masih didominasi oleh jenis pembangkit fosil atau PLTU (berbahan batu bara). Bahan batu bara ini secara internasional dinilai menghasilkan emisi cenderung merugikan dan berdampak negatif terhadap perubahan iklim dunia.

Secara perlahan dan berkelanjutan setiap negara harus melakukan transisi energi ke energi yang lebih ramah terhadap lingkungan. Misalnya optimalisasi pembangkit energi air, energi gas bumi, energi surya,  energi panas bumi, energi angin, laut, nuklir dan sebagainya.

Satu sisi saya melihat bahwa target transisi ini akan berdampak terhadap perlunya banyak Sumber Daya Manusia handal dan kopeten dibidang pembangkit listrik berbasis multi energi. Karena rentang waktu realiasinya sekitar 30an tahun lagi, mungkin proses realisasi hingga eksekutornya nanti adalah anak -anak kita sebagai generasi penerus. Ini bisa menjadi landasan konkrit bagi kita para orangtua bahkan pemerintah dalam mempersiapkan manusia-manusia yang relevan terhadap perwujudan EBT.

Saya melihat disini ada Opportunity lapagan pekerjaan baru bagi anak-anak muda berbakat dan berkopeten dalam bidang operasional pembangkitan energi. Dan hal ini saya sangat percaya dan begitu sangat relefan terhadapan pentingnya STEM bagi para penerus kita.

Dan data menunjukan kebutuhan energi nasional kita dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ayo semangat!


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



 

 

Kamis, 25 Juni 2026

Pazzle Waktu : 20 “Manusia Multidimensi”

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah artikel yang seakan beneran nyubit saya. ia mengatakan bahwa generasi kita saat ini diasuh oleh algorima Tiktok dan Instagram sayangnya media itu hanya ngasih ke kita hanya sampah. Kita dalam 24 jam sehari diluar  jobdesk ngerjain pekerjaan utama, malah dominan waktu kita habis untuk ngescroller media sosial yang pada dasar tidak ada habis dan hentinya. tampa kita sadari ia meng obok-obok lembut lalu mengambil Quality time kita secara perlahan hingga kita alfa dalam menghitung seberapa besarkah manfaatnya.

Kita tahu makin kesini tren distrupsi teknologi makin hampir tak bisa dibendung lagi, yang menjadi soal apakah spesifikasi kita versi hari ini mampu mengimbangi kemajuan dan pertumbuhan itu sendiri?.

Saya punya pandangan bahwa kali ini kita siap atau tidak dituntut untuk punya daya mampu lebih dari yang biasanya, kita diharuskan untuk dapat survive diberbagai situasi. Daya mampu yang hanya tidak sekedar menawarkan barang sebagai pedagang, menjadi guru di ranah pendidikan, bongkar mesin diranah mekanik, pelukis dibidang seni dan sebagainya.

Hari ini dalam tahap transisi manusia ke system robotik, kita dituntut untuk dapat menjadi manusia mutidimensi, bila selama ini kita punya skill bongkar dan pasang komponen mesin, tapi bagaimana kalo kita juga mengasah kemampuan management pemasaran plus ilmu negosiator. Basic disiplin ilmu kamu  misalnya dibidang teknik gimana kalau asah juga kemampuan dibidang seni menulis, atau ngembangin skill bahasa asing. Atau bahkan kamu dibidang management ekonomi gak ada salahnya kalo kamu mulai belajar coding, dan lain sebagainya.    

Saya setuju saran dan ide dari salah seorang Negarawan bangsa kita, “pilihan keluar dari satu dimensi adalah cara terbaik buat nutupun blind spot dihidup kita, disini akan tercipta warna dan versi yang unik dalam episode hidup kita, berpotensi akan menjadi inspirasi bagi anak atau cucu suatu hari nanti.

Masa depan kita bukan soal jago joget didepan kamera akan tetapi soal produktivitas dan koneksi internasional hingga berperan dalam komunitas orang-orang besar dan berpengaruh. Bila saya menyebut negara-negera tetangga yang makin naik kelas, faktanya memang mereka lebih baik dibidang penguatan mata uang, ekonomi perkapita, hak paten teknologi dalam negeri, hasil pertanian yang tidak main-main kwalitasnya. lalu bagaimana kita dibanding Singapura negara sebegitu kecil?, dari singapura bukan karena kita kalah pintar tapi karena mereka lebih fasih berkomunikasi dipentas Dunia.

Konsep “manisnya jus satu gelas itu berasal dari perpaduan komposisi kandungan gula didalamnya- jadi apa bila perpaduan manusia-manusia didalam suatu wilayah atau negara punya skill yang unggul serta daya mampu yang top, maka akan mempengaruhi kesejahteraan sistem dan tatananya ruang lingkup kenegaraan.

Saran dan ide sederhana saya kali ini mulailah kurangi main layar HP, tapi perbanyak membaca! tema apapun. dimana akan melahirkan sebuah persepsi dan sudut pandang baru; “oh hmm.. ternyata dunia itu tidak sesempit A, B, C ya”. Bila banyak membaca, banyak mendengar sudut pandang dari profile-profile berpengaruh dalam perkembangan dunia saat ini, terakhir belajar dan berlatih skill baru diluar zona kerjaan kita saat ini, saya selalu percaya hal kecil ini adalah bagian dari pertumbuhan sumber daya manusia indonesia yang menglobal.  

   

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Pazzle Waktu 19 “Bubur kacang hijau Spesial untuk Istri"

Tetesan embun di ujung bumbung pelan jatuh konstan diatas ubin pelataran halaman, lalu mengalir menyusuri tepian pagar, suara cit-cit cuit burung girang menyambut pagi kontras masih menyisakan gelapnya malam. Dinginnya udara subuh seakan saya begitu engan membuka lembaran daun pintu, suhu subuh ini barangkali dipastikan 14ÂșC kebawah, tinggal diwilayah 1300 MDPL merupakan hal biasa sedingin ini. Hunian kami menghadap kesudut cakrawala ufuk Timur, disana terarsir siluet orange seakan memberi tanda bermulainya hari ini, hari baru, tenaga baru, dan yang pasti opportunity baru.

Hari ini adalah hari minggu, udara dingin pagi nyilu menusuk tulang, sholat subuh selesai biasanya kita kembali menarik selimut menetralkan sisa air wudhu selalu bikin kaku. Hari minggu adalah hari spesial buat saya istri dan anak-anak. Senin- sabtu berjibaku subuh, beres-beres, berangkat sekolah anak-anak sekalian saya antar sebelum berngkat kekantor. Aktivitas berulang melelahkan bagi anak-anak agar tetap belajar disekolah seperti biasanya. Jadi hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu anak-anak, agar dapat sedikit lebih santai, bangun sedikit lebih siang. yes!

Progres diawal pagi seperti biasa beresin area ruangan lanjut sisa mainan para bocah, satt!! sett.!!bak seperti “Hayabusa” sang Assassin, saya lanjut meluncur ke pasar pagi terdekat, berburu bahan-bahan: kacang hijau, santan kelapa, ubi jalar dan beberapa  bahan pencampur lainnya. Sampai dirumah langsung Kacang hijau direbus hingga mengembang, cemplungin sepotong jahe, lalu santan aduk perlahan, garam secukupnya aduk hingga mendidih, menyusul takaran gula, vanile secukupnya dan potongan dadu ubi jalar merah. Dan terkahir tak lupa dua helai daun pandan, sip!.

Ada sebuah fakta bahwa Istri saya begitu suka dengan bubur kacang hujau buatan saya ini, tapi menu ini saya masak di hari-hari tertentu saja. Menu ini sekilas terkesan begitu sederhana tapi spesial tastenya manis bak bintang lima bagi kami. Istri saya perlahan terbangun dan hidangan ini sudah saya suguhkan di atas meja makan, kenikmatan hidangan hangat dihari minggu bersama istri tersayang. hanya kami yang dapat merasakan nikmatnya, manisnya bubur kacang hijau spesial.

Kadang apa yang saya buat istri begitu suka lalu bikin nagih minta buatkan lagi, walau saya hanya bermodalkan filling tambah rekomendasi tutorial dalam hal memasak. Satu hal lagi yang barangkali ini berlaku pada banyak para Pria dimungka bumi;

 

“kalo udah didapur yang dimasak sedikit, tapiiii…. perlengkapan masak di whastafel numpuknya segaban”.. hehe. Mohon maaf ssstttt….! :D

     

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 



 

Pazzle Waktu: 18 “Pentingnya Energi dalam pertumbuhan ekonomi”

Sejarah sudah mengajarkan banyak hal kepada kita, negera-negera yang terlibat langsung pada Perang Dunia I dan II seperti Jepang, Jerman, Inggiris, Rusia, Prancis, Amerika Serikat serta sekutunya. Faktanya menunjukan mereka semuanya adalah Negera-negara Industrialis, rata-rata negara-negera ini memiliki alasan yang sangat masuk akal dalam misi mengusai suatu wilayah bahkan aekelas Negara lain, yes! Jawabanya adalah  “kualitas dan kapasitas negara mereka yang begitu mendukung.

Disini saya melihat pola yang serupa pada negara-negera ini, unggul dalam optimalisasi Energi dalam membangun negerinya sendiri, menjadi Negara yang kuat mandiri dan sangat berkapasitas.

Muncul Pertanyaan bagaimana dengan Indonesia tercinta? Saya lebih dari 10 tahun telah mengambil peran di industri Energi nasional punya beberapa pandangan.

Tahun 2026 ini saya melihat ada pola menarik bagaimana proses transisi Energi, efeknya pelan tapi pasti dimana beberapa ratusan tahun yang lalu energi minyak bumi menjadi begitu sangat primadona. kita masih bisa merasakan hasil dari produk turunanya berupa bahan bakar kendaraan kita sehari-hari, bahkan hingga hari ini.

Dunia teknologi dan industrialisasi terus melakukan permbaharuan dan perbaikan mengejar efesiesi dan efektifitas.

Kita tahu kemunculan berbagai industri kendaraan ternama perusaan raksasa contoh gampangnya Tesla dan BYD mereka dengan Visi yang jelas disupport teknogi yang sangat canggih, system aplikasian operasi sangat kopleks itu dimana system penggeraknya mayoritas terelektrifikasi secara energi dasar, bukan lagi bergantung pada produk turunan minyak bumi layaknya kendaraan komvensional.

Point ini ngasih  catatan kepada kita bahwa efisiensi, efektifitas,harga ekonomis,tingkat proteksi tinggi, Auto operasi dan pastinya ramah lingkungan menjadi opsi utama masyarakat dunia saat ini.

Lantas bagaimana indonesia saat ini? Indonesia punya kapasitas energi listrik atau elektifikasinya terpasang lebih kurang 107.000 Mega Wat (Sumber Data Satisitik PLN tahun 2025) dimana beban puncak nasional total sekitar 61.287 MW.

Artinya dengan kapasitas terealiasasi ini sudah Oversulpply atau surplus. Dengan kapasitas energi berlebih ini muncul pertanyaan baru, apa yang harus kita lakukan dalam misi optimalisasi energi dan korelasinya dalam percepatan pertumbuhan ekonomi Negeri?

Pandangan saya adalah “Industrialisasi Opportunity”, pemodal dan pengusaha perlunya eksekusi usaha berbasis system pengolahan hasil pertanian misal tingkat provinsi-kabupaten, menjadi produk jadi, sekali lagi “produk jadi” siap ekspor! Artinya kita didaerah tidak lagi sibuk berkecipung dengan barang mentah lagi. Surplus energi ini tidak hanya di pulau jawa, tapi dipulau sumatera dan pulau lain juga surplus.

Jadi industrialisasi bukanlah sebuah ancaman akan tetapi bagian dari langkah pertembuhan ekonomi menuju negara mandiri. Negara Tiongkok (China) total terpasang pembangkit listrik negaranya sebesar 3.487.000 Mega Wat, bisa dibayangkan bagaimana seriusnya pergerakan industrilasisi dalam negerinya demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara mereka.

Saya bisa bayangkan bagaimana ribuan jenis pertanian kita yang selama ini di eksport dalam kondisi bahan mentah, tapi bagaimana kita olah didalam negeri sendiri menjadi barang jadi. Baru kita eksport barang jadi berkwalitas tinggi, ini akan berpotensi terbentuknya akselerasi dirantai nilai.

Surplus dari eletrifikasi negara kita saat ini secara rata-rata perkapita faktanya masih jaduh dibawah  dari rata-rata elektrifikasi perkapita pada negara maju pada umumnya, hal ini akan saya bahas di lain waktu.

Saya mengerti bagaimana kolpleksitas pemenuhan standarisasi internasional khususnya barang jadi untuk dijual keluar negeri tidaklah mudah, akan tetapi selagi dukungan dan kebijakan birokrasi pemerintah yang Total, saya percaya selalu ada jalan.    

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide serta dampak yang berarti” 

Oleh: Farie

 


 

Rabu, 03 Juni 2026

Pazzle Waktu : 17 “Surga itu Ada di Lombok”

Riak ombak kecil menari  indah bermain diatasnya busa-busa acak seakan tidak ada habisnya, ombak kecil itu menyapu hamparan samudra mendominasi, dan kapal yang saya tumpangi ini terasa begitu mungil dilautan ini. berpegangan disisi-sisi outdor penumpang saya menikmati laju angin begitu kecang, perlahan tapi pasti  merombak arah poni rambut saya yang tadinya cukup tertata.

Lekang panas terik tepat diatas kepala saya bila lama dipastikan dapat segera membuat kulit memerah lalu gelap.

Langit biru cerah mengagumkan memanjakan mata saya perlahan berbinar. Dalam hati saya pun terjadi perdebatan laut wilayah barat vs timur “masih jauh cantikan laut timur pasti”…ini bagi saya yang nota bene asli orang daratan Sumatara ini.

Pebukitan savana tampak berjejer saling menyambung, hijau bercorak kekuningan itu  seakan didekap oleh biru pekatnya langit. Alam disini sekan berbisik asik ditelinga saya “  hay..selamat datang kawan disurganya timur, menikmati hamparan alam termahal yang mungkin saja di wilayah barat tidak kamu temukan kawan”….

dalam hati saya pun menjawab “ .. ok baik” (sambil mengangguk yakin).

Tahun 2024 lalu, kala saya satu bulan di kota Sumbawa Besar, waktu senggang weekand saya bersama (*Mas andri dan mas Agung), malakukan perjalanan mandiri dari Sumbawa menuju Lombok. Dua wilayah ini berada dalam satu provinsi yang sama. Keduanya kira-kira berjarak 170 KM. Kami menggunakan angkutan umum dari Sumbawa besar lalu menyemberang dari pelabukan Poto Tano menuju pelabuhan Kayangan Lombok.

Tips dan cara paling efektif untuk menyusuri alam lombok? yap! menyewa kendaraan roda empat pas di Lomboknya. Lebih leluasa dan mudah, hal pertama yang saya tangkap dari pulau ini  adalah“keramahan warganya” mungkin hal ini menjadi alasan kuat dalam menarik minat wisatawan berdatangan ke wilayah cantik ini, hmm .. faktor yang masuk akal.

Jujur saja Terlalu banyak titik berkelas dan super menarik untuk didatangi di pulau ini, alhasil kami hanya dapat memilih beberapa saja karena libur hanya dua hari.

Desa Sade, Sirkuit Mandalika Internasional, Pantai Kuta lombok, dan Senggigi Beach dll. Ada point-point penting moment yang tak lekang oleh waktu dikepala saya, disetiap tempat keren itu. Desa Sade rumah adat unik budaya leluhurnyaa masih  terawat hingga hari ini, Sirkuit Balap F1 berstandar Dunia dimana View hamparan pebukitan savana dan lautan biru hebat tak kepalang, birunya pantai kuta air laut pepasir putih memanjakan mata seakan mensimulasikan begini lho surga dunia didepan mata, menikmati mie rebus di pinggiran jalan berkelok dibawahnya karang dan lautan seakan tak berujung.

Wajar saja lombok adalah salah satu destinasi kelas Dunia dan wilayahnya itu ada diNegera kita tercinta Indonesia bruuh.. B-), bila saya tuangkan dalam 10 halaman tentang detail yang berkesan di Lombok saya yakin tidak akan cukup teman”.

Saya duduk dibawah pohon rindang kala menatap jauhh hingga sudut cakrawala dalam hati kecil saya berkata:  “istri dan tiga bocah saya dirumah suatu hari nanti harus kesini”, mereka juga harus lihat begitu hebatnya apa yang aya lihat hari ini ” 

Saya mencoba melihat dari sudut padang yang berbeda, lombok adalah wujud optimalisasi warga dan pemerintahnya terhadap anugerah spesial dari sang Maha Cinta Maha Keindahan. jejeran Villa gacor di sepanjang pingiran pantai. titik medan magnet bagi para pemilik Dolar, pastinya pemodal handal misi utama berinfestasi dipulau ini. Inilah terjemahan yang sesungguhnya dan termanifestasi bahwa “Ranah Wisata” itu sangatlah Bernilai.

Valuenya tak terbatas bagaikan intan permata bagi pera pemburu ketenangan hati, hiburan, gejolak pertumbuhan ekonomi, Bisnis, kestabilan Kas daerah, Promosi wisata Nasional dan semua itu tetap berjalan berkeseimbangan dan berkesenambungan.   

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide serta dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 




Senin, 01 Juni 2026

Pazzle Waktu: 16 “Tetangga yang Baik”!

Terngiang suara pangilan tuturtertata mengumandang mengisi dilangit-langit putih sepanjang Gate ini, pendingin ruangan menderu mengimbangi panasnya sisi luar Kualanamu, masih terasa terik seperti  biasanya.

Saat menulis tulisan ini saya sedang duduk tenang  salah satu pojok diruang tunggu keberangkatan. waiting flight saya kali ini tujuan kota Semarang lebih kurang satu jam lagi.

Jauh dari rumah seperti ini saya jadi sering kebayang masakan sang istri, salah satu masakan yang sering kali saya request sama istri tercinta adalah sayur Gulai pakis cabe hijau ikan “teri” dengan toping spesial beberapa potong jengkol (*toping spesial yang terkahir ini hanya untuk saya :) ) lalu berduel dengan adukan gorengan cabe merah ikan laut kriuk kecil-kecil yang menjadi  faforitnya anak-anak.

Terakhir tak lupa ditemani kerupuk khas lebar-lebarnya,lengkap sudah. Makanan enak menu sederhana ini selalu terasa spesial bintang lima.

 

Ada kebiasan istri saya dan kluarga kecil kami yang mungkin sudah menjadi budaya hebat dari tahun ketahun dimana pun berada, saya tidak mengerti komplitnya formula dari campur tangan Allah SWT  gimana setiap menetap di wilayah baru selalu ada aja tetangga yang bener-bener cocok dihati kami, baiknya bak keluarga kandung sendiri, bahkan lebih.

Apa yang dimaksut dengan “budaya” diatas, sekali lagi saya tidak begitu faham apakah karena fakator ini atau ada faktor lain. Istri saya paling senang berbagi makanan ketetangga tempat kami dimanapun tinggal, istri saya senang memasak, apa yang kami makan, persis itu yang dipisahkan kepiring lain dan itu yang kami bagi ketetangga sebelah.


Saya masih ingat kebiasaan ini sudah sedari sepuluh tahun yang lalu, sampe hari ini masih tetap sama tidak berubah.

Ada rasa bangga tersendiri ke istri masih berkomunikasi begitu baik dengan tetangga lama dulu, apa lagi tetangga setelahnya lalu yang hari ini. Tetangga yang baik ini merupakan rejeki tersendiri dalam tahapan hidup kami .

Kebiasaan sederhana tapi memberi pangaruh besar terhadap tatanan sosial, memperkokoh ikatan kepercayaan. Satu, dua, tiga dan seterusnya bila diakumulasikan bahkan malah kami yang sering menerima hantaran dari sana, sini. tidak melulu apa yang dimasak lalu dibagi sering juga yang dibeli tapi diniatkan untuk dibagi.

Rahasia kecilnya adalah Inisiatif memeberi terlebih dahulu. Menumbuhkan dampak kepedulian, kekeluargaan, menciptakan lalu menyambung rantai persaudaraan dalam bertetangga.


Saya ingat beberapa bulan yang lalu saat itu saya kebetulan sedang ada urusan pekerjaan di Luar kota, istri saya dan anak-anak kendaraan yang disetirnya ada masalah sekitar 20 meter sebelum sampai rumah.

Saya sedang tidak ditempat, tapi para tetanggalah yang bersama-sama inisiatif membantu sehingga kendaraan dapat normal kembali..  Alhamdulillah.

Lain lagi ketika bencana beberapa bulan lalu koneksi internet terputus saya masih ditempat kerja, tidak bisa memberi kabar kerumah, sehingga saya harus terlambat pulang. anak dan istri dalam kecemasan, tapi tetangga-tentanggalah yang menemani menghibur anak-anak dan istri saya shubhanallah, terimakasih.

 

Faktanya memang begitu kadang disaat yang tidak terduga ada masanya kita benar-benar butuh bantuan orang disebelah rumah yang kita huni. Maka mari kita bangun hubungan sebaik-baiknya terlebih dahulu terlepas itu kita memang banyak kurangnya, misalnya anak-anak sering ribut brantem, mungkin hanya sebatas itu sisanya mari optimalkan dengan kebaikan-kebaikan terlebih dahulu, tampa harus menunggu.        


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

 

Farieco


Pazzle Waktu : 15 "Setiap anak itu hebat"!

Pernahkah kita merasa anak kita belum bisa ini, belum bisa itu seperti anak si A, atau anak si B.? Pernah? Oke saya juga ,

Beberapa dekade yang telah terlewati,  pertama saat saya posisi sebagai anak sekolahaan, kedua perguruan t hingga hidup mandiri diperantauan, lalu dekade terkahir punya keluarga kecil.

Tahap-tahap yang terlewati saya merasakan satu hal ternyata karakter anak itu terbentuk tergantung  lingkunganya, itu point satu.

Anak-anak akan berkembang berdasarkan lingkungan yang kita suguhkan saat ini. lalu pertanyaanya seberapa besar korelasinya antara lingkungan vs tingkat kemampuan dasar sang anak?


Hubunganya sangat berkesanambungan satu tahun terakhir ini sejak anak kedua saya masuk taman kanak-kanak, sang Istri dan saya punya program pribadi buat bocah ini; selama TK harus bisa membaca, wajib iqro’ 6, bisa main sepeda mandiri roda dua, mandiri urusan MCK, kemampuan hitung-hitungan dasar wajib bisa, ayat-ayat pendek, sholat berjamaah sama-sama minimal magrib dan isa. Hari ini anak ini baru masuk smester 2 TK tapi semua  target diatas sudah hampir tuntas olehnya.

Artinya baru beberapa bulan berjalan!

Dulu awal-awal saya sempat terfikir “anak ini bisa ga ya”… “dia mampu ga ya, tugas dan tantangan yang kami berikan”?

Seringkali kita sebagai orang tua meragukan kemampuan anak, pada dasarnya anak kecil itu jauh lebih fokus, kecepatan dan daya savenya jauh lebih efektif dan cepat dari kita, bahkan instingnya lebih baik dari kita sebagai orang tua. Walau tingkat kesabaran anak-anak cenderung masih relatif rendah, kekurangan dalam proses belajar ini lah kita sebagai orang tua buat ngebackupnya. Khususnya istri saya yang sangat luar biasa efortnya serta kelembutanya dalam mendidik anak-anak.


Saya mengabi banyakl pelajaran, balita itu hebat, anak kecil itu hebat. Awal-awal pengajaran/latihan kita akan menghadapi penuh penolakan, rengekan dan tantruman. Tapi bila konsiten terus pelan-pelan mereka akan ikut, perlahan mengerti, dan pada akhirnya memahami apa yang kita contohkan. Faktor pola pengemasan pengajaran kita ternaya juga mempengaruhi kecepatan anak dalam memahami. Terutama istri saya punya banyak trik jitu dan menarik .  


Ada segudang pengelaman manis bersama anak-anak yang akan menjadi kenangan henat nanti setelah mereka mulai beranjak besar, mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Hari ini saya juga semakin memahami nilai dari lego yang selalu berserakan terlihat saat pulang kerja, udah ratusan kali mereka mainkan pazzle-pazzle yang tak utuh lagi itu, krayon pensir warna yang sudah tak lengkap lagi warnanya, hingga boneka legendaris yang dipakaikan pampers itu :) .

Saya dan istri yang masih terus belajar dalam memaksimalkan gimana memenuhi kebutuhan happynes sebagai haknya anak-anak dimasa kecilnya, kebutuhan bermain sambil belajar.

Saya ingin suatu saat ketika bocah-bocah hebat ini sudah mandiri (*lalu kami berjauhan). Mereka selalu merindukan masa kecil mereka yang penuh kenangan manis dan bernilai, menjadikan suatu kerinduan berkepanjangan bagi mereka, hanya pulang kerumah adalah satu-satunya obat pelipur lara di hati mereka, berkumpul bersama kluarga.

 

Sukses dan sehat-sehat selalu istri saya tercinta dan para orang tua dimanapun berada.

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 


Jumat, 22 Mei 2026

Pazzle Waktu 14 : "Saya berkarya dibidang apa?"

Pagi selalu menyuguhkan harapan baru untuk kita, pilihan baru, lembaran putih baru. Dimana pilihan itu bebas kita menulis diatasnya tinta baik atau buruk, rasa happy, syukur, kecewa, kesal, marah dan sebagainya.

Apa yang kita tanam setiap kali mata terbuka dipagi hari itu lah yang kita tuai siang-sore dan hingga tertutup mata kembali dimalam hari.

Hidup setiap harinya punya pola berulang realitasnya benar-benar tidak selalu sama, baik skala bulan hingga tahunan. Seringkali fase transformasi hingga lompatan diri mau tak mau selalu jadi pilihan dalam Road Map perjalanan hidup kita.

Tahun Ini sudah masuk tahun ke “Sebelas” dedikasi saya dalam ambil bagian dikorporasi pembangkitan ketenaga listrikan Negeri ini.

Lebih dari 10 tahun berpengalaman dibidang System pengoperasian pembangkitan ketenaga listrikan, saya fikir perlunya sharing ringan terkait apa yang saya alami, apa yang saya jalani beberapa tahun ini  menyangkut disiplin pekerjaan saya pastinya.

Bila kamu saat ini bisa membaca tulisan ini artinya kamu terkoneksi dengan internet, daya lapotop /handponemu saat ini bisa dilihat indikator persen batrai disudut kanan atas handphone atau sudut kanan bawah laptopmu. Nah .. angka persentase tersebut berkorelasi dengan pekerjaan saya saat ini :) .

Fakta, peran energi listrik saat ini adalah ujung tombak perputarnya gardan perekonomian bangsa ini, tampa listrik kita tidak bisa terkoneksi dengan internet dengan konstan, tampa listrik operational distribusi bahan bakar di spbu untuk kendaraan kita sehari-hari tidak berjalan dengan baik, tampa listrik industrialisasi makanan minuman terhenti, operasi pertambangan stop, pelayanan masyarakat dan lain sebagainya tidak akan optimal pasti. Kita menyadari begitu sangat krusialnya kelangsungan hidup kita terhadap Energi Listrik.


Proses komversi energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang saya dan kami lakukan mempunyai prinsip prinsip cukup komplite mulai dari prinsip rotasi turbin, prinsip HE diboiler CFB, proses floagulan coaguland water treatment plant, racikan ideal pembakaran batu bara di furnace, Up/Down load di CCR sesuai kebutuan daya pemakaian masyarakat.

Dan pastinya bagaimana prinsip recovery yang aman efektif saat gangguan system pembangkit kala datang menghadang.


Jadi tugas saya dalam “Memastikan” daya maksimal yang kita produksi kita salurka kesistem jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi, umumnya masih di 150kv. dari 150kv ini akan diatur lagi oleh team Gardu Induk dan dikomversi lagi ke 20 kv melalui penyulang-penyulang, lalu baru terhubung ke rumah yang kamu tinggali saat ini. Ngerecharge peralatan eletronik, sehingga kalian dapat membaca tulisan ini saat ini, Sipp!.

Dalam hal “memastikan” diatas ada kompleksitas parameter system yang hampir setiap saat kita monitoring mulai dari temperatur, pressure,load,frequency, flow, fibrasi, arus, kekeruhan, tingkat kejenuhan zat, tekstur, tegangan, noise, PH air, dan lain sebagainya.

Pekerjaan ini memiliki filosofi yang begitu  dalam bagi saya, karena pekerjaan ini saya ikut berperan dalam menerangi anak-anak saat membaca buku, belajar memahami sebuah ilmu kelak bermanfaat baginya. Berperan dalam pengerak usah para orang tua demi menafkahi keluarga tercinta dirumah, seorang ibu dapat memasak semangkok sub ayam hangat untuk sang buah hati yang ia sayangi.

Oke Sip!

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 

 Farieco

Minggu, 17 Mei 2026

Pazzle Waktu 13 : “DO MORE”

Pertengahan tahun 2025 lalu saya berkesempatan mengikuti pembinaan Management Leadership beberapa hari di kota Surabaya dan beberapa hari di Mojokerto Jawa Timur. Saya dan beberapa orang Team Leader dari  berbagai jenis pembangkit Listrik hampir dari seluruh Nusantara ikutan disini.

Program ini merupakan tahapan pengukuhan sertifikasi strukturalisasi dalam memanagament leader-leader Pembangkit ketenaga listrikan dalam penerapan core values perusahaan. Bagian dari misi optimalisasi dan efektifitas pengelolaan sumber daya manusia ruang lingkup Pembangkit masa depan yang aman, handal dan ramah lingkungan.

Menurut saya setiap leader punya peran sangat krusial dalam penerapan konsep pengawasan, bimbingan, penilaian dan pengembangan SDM dalam team. Kita dibekali materi prinsip dasar bukan lagi memposisikan diri sebagai pengeksekusi jobdesk dasar tapi lebih ke me-manegemeni setiap personil dalam team, menjaga kosistensi system agar tetap berkesenambungan lalu memastikan iklim dalam team berjalan sesuai dengan core values korporasi saat ini.

Leader yang ideal adalah punya integritas pastinya, lalu mampu memetakan potensial SDM yang ada dalam team, punya arah yang jelas dan terukur. pastinya mau “ngopi” berdiskusi secara terbuka dan secara personal dengan angota team.

Memberi ruang dan keleluasaan berekspresi yang optimal kepada anggota team, memenuhi haknya dalam menerima dan memberi saran yang membangun.

Team yang sehat tak lain adalah kombinasi dari leader selalu terkoneksi dengan anggota teamnya secara personal serta mereka yang punya rasa kepedulian, maka hal ini akan termanifestasi dalam memberi dampak terhadap korporasi secara keseluruhan.

 Banyak hal baru yang saya dapat dari program Leadership management periode ini, pemahaman lebih detail dan mendalam konsep jati diri seorang leader, efektifitas dan produksifitas adalah visi utama, tapi konsistensi dalam menjaga nilai-nilai budaya dalam team adalah pegangan utama, eksekusi reposisi berdasarkan potensi yang tepat pada SDM persionil adalah konci penting untuk mencapai keselarasan antara proses dan hasil akhir.

 Ada istilah keren dari seorang pemateri namanya pak Hendra beliau adalah seorang specialist Human Capital seorang Expert dibidang Pembinaan Inovasi korporasi, ia menyampaikan satu kunci penting dalam memimpin diri sendiri dan orang lain, saya fikir hal ini akan selalu relevan dengan profesi apapun dan dari kalangan manapun kita.

 “Do More” singkat padat tapi bermakna dalam, dalam sistem struktural koporasi jobdesk memang menjadi sebuah tanggaung jawab,tapi ada hal lain yang menjadi “Pembeda” antara si A , B, dan C.

 Do more/berbuat lebih, mungkin penerapan konsep ini yang sudah menjadi budaya bagi bapak saya dulu sebagai tukang bangunan sehingga yang punya Rumah puas dan berdampak ketetangga sebelahnya, sehingga “nama baik” itu meneyebar akhirnya belum selesai satu proyek borongan rumah sudah datang penawaran baru yang lain. 

Memahami pemaparan materi beliau perpaduan antara pengalaman, praktek dan penerima dampak realistis dari pak hendra, saya menjadi sering kali memasukan topik “do more” disela-selah obrolan saya dengan team saya. Pentingnya berbuat lebih diluar jobdesk wajib sehari-hari.

Saya percaya akselerasi dan pertumbuhan pengembangan diri akan tercipta lebih cepat, bila kita punya banyak opsi dan kemampuan.

Contoh sederhana, suatu hari seorang profesional muda perlahan pindah haluan menjadi pengusaha UMKM misalnya, di Dunia Usaha seseorang secara tidak langsung akan dituntut untuk menegerti banyak hal mulai dari ilmu produsi, ilmu promosi, ilmu managemen keuangan, ilmu pengadaan barang, ilmu negosisasi dan partnertship juga pemebrdayaan ilmu Teknologi informasi dan sebagainya.

Artinya ditengah dunia distrubsi teknologi yang semakin tak terbendung ini kita sebagai SDM handal wajib mampu untuk Berbuat Lebih dalam kerjaan apapun, agar tidak tertinggal semakin jauh dari kemajuan moderenisasi saat ini.

Apakah kita seorang Leader atau sebagai staft dalam team, apapun profesi kita dengan berbuat lebih akan memperpanjang deretan Portofolio untuk menjadi SDM yang handal. dengan itu membantu kita untuk menciptakan lompatan baru, lingkungan baru, negosiasi baru, dan  pengahsilan baru tentunya. 

Berbuat lebih’ hal ini juga akan berdampak pada orang-orang  sekeliling kita, minimal untuk pengembangan diri sendiri, semakin diasah potensi itu akan semakin tajam, semakin tajam maka semakin efektif dalam eksekusi problem solving.

Pada akhirnya itulah menjadi pemebeda antara kita dan orang lain.      

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie




 

 

Senin, 11 Mei 2026

Pazzle Waktu 12 : “Doa-doa pasukan Bintang dilangit”

Tengah kuliah berlangsung (Tahun 2009);

“bro ntar sore pulang kuliah kita lanjutkan kerjaan kemarin ya”  

“lansung ni”.. ? (jawab saya)

“Ya lansunglah” ,menghitung hari plafon gedung itu segera di instal jaringan kelistrikanya jadi mesti kita dikelarin kerjaan kita”

“oke siap! Gass”  jawab saya singkat.

Namanya Syahrul, teman baik saya masa kuliah paling hebat memasang instalasi listrik rumahan, Ruko/Gedung usaha. Saya banyak belajar dasar-dasar rangkaian listrik dari beliau ini, dia mampu menghitung dengan cermat seberapa kebutuhan kabel, pipa konduit, klam kabel, stop kontak, sakelar, lasdop dan lain sebagainya.

 Dari bebera job terealisasi instalasi jaringan listrik ini, pernah dapat kerjaan lantai dua disalah satu gedung Showroom Mobil di Jl. Khatip Sulaiman kota Padang.  

Gedung itu tengah proses Renovasi dibeberapa ruangan, otomatis perlunya perubahan jaringan instalasi kelistrikan.

 Pekerjaan yang dilakoni sepulang kuliah ini biasanya berlanjut hingga tengah malam, ini menjadi sebuah moment hebat tersendiri disudut hati saya hingga hari ini. tahap membobok, ngklem, nyambung kabel, instal pipa bolak balik kami lakukan naik turun plafon atas saling bantu merangkai jaringan satu sama lain.

Tepat dibelakang gedung itu saat istirahat sholat makan, saya terduduk mengamati beberapa orang karyawan kantor itu tengah berolah raga Badminton riang gembira. Jiwa muda saya, jiwa muda si anak desa yang punya lapangan outdor badminton dibelakang sekolah dasar dikampungnya kembali meronta-ronta menonton pemandangan seru terpampang nyata didepan mata, ingin sekali hati ikut bergabung disana, melompat lalu mengayunkan raket. Tapi, seakan semesta bilang “belum waktunya anak muda”.. tidak untuk sekarang” Sabar!.

Lagi saya sampaikan itulah hebatnya memorial dijaringan otak manusia.

Masih saja ingat moment-moment se sepele begini padahal sudah bertahun-tahun berlalu.

Kami pulang pukul 22 an malam, Bos kami meminta untuk sekalian membawa hasil puing-puing sisa Renovasi bangunan mengunakan mobil barang L300 ke simpang Gia Padang masuk kedalam. Segenap sisa tenaga, kami memuat sisa material tersebut ketruk barang itu, sisa-sisa lembaran gibsum plafon, sisa batu bata,sisa pasir bercampur semen.

Sepatu kuliah kami penuh debu, baju kaos  bermandikan keringat.

Kami terkapar diatas sisa-sisa material bangunan diatas truk berdebu itu, menengadah keatas menatap langit malam,  tangan sudah lembab badan rasanya bengkok remuk, kumal dan berkeringat.

Dua mata saya nanar menatap langit, nun jauh disana berkelap-kelip seperti pasir diatas sana  Gemintang bertaburan indah bak ribuan penonton distadion Oldtrafford Riuhh…. tepuk tangan ditimpali penuh sorakan, moment seorang Nani mencetak Gol spektakulernya :D.

Bintang-bintang keren itu seakaan menyemangati kami …  “anak muda bila kamu hargai yang kecil ini malam ini, besok  siap-siap terimalah yang lebih besar dan lebih terhormat lagi anak muda!.”

 

(Dalam hati saya) keren sekali bintang-bintang itu jauuh diatas sana ribuanjutaan Kilometer jaraknya dari truk ini.

Semua ini saya jalani demi dapat mengetik satu baris SMS di Handphone Samsung jadul saya ke bapak saya dikampung sana, tentunya dengan rasa Gagah dan Bangga;

 

 ” Pak ndak usah kirim duit dulu, untuk makan dan jajan seminggu ini masih ada”

 

Hanya satu baris, lompatan kecil itu tapi sangat-sangat bernilai bagi saya. Saya bisa merasakan suasana hati dan aliran darah bapak saya waktu membaca sepotong sms dari saya itu.

Sederhana, Hanya saya berfikir Gimana caranya  meringankan beban orang tua dikampung, dimana usianya yang sudah semakin menua dan membuat saya semakin kasihan.

Ada kalanya Aktifitas memuat membongkar sisa material renovasi gedung ini juga harus saya jalani seorang diri. Sakit ditangan tapi lega dihati, dapat menangani kebutuhan sendiri dengan keringat sendiri walau hanya bertahan untuk beberapa hari.

Ini menjadi suatu kebangganan tersendiri bagi saya, telah berhasil meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Mencoba menolak menjadi beban keluarga, tapi dapat membuktikan bahwa bisa berupaya sendiri, walau menyisakan lelah tak terkira, biasanya kerap ngantuk  besok paginya saat kuliah kelas teknik kami pekerjaan diam-diam tampa banyak yang tahu. bahkan oleh teman-teman kuliah sekelas saya.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Pazzle Waktu 11 : “Apakah kita dapat dipercaya”

Seperti biasa selesai kroscek Ams pagi, sembari menyeruput kopi hitam hangat agak sedikit pahit pagi ini. terlintas difikiran bagaimana seorang kuli bangunan dapat kerjaan laluberkelanjutan tampa jedah dan berkelanjutan.memakan waktu berbulan-bulan, belum selesai mengerjakan rumah A tapi sudah datang penawaran baru proyek rumah B.

Ya, ini bagian dari pekerjaan utama dari bapak kami pada masanya, menjejaki Pola bekerja pindah dari satu daerah kedaerah lain, dari satu rumah kerumah yang lainya.

Profesi mulia ini beliau lakoni sedari muda, misinya hanya satu bukan mengejar kekayaan, tapi memenuhi kebutuhan pangan kelurga. dan menyekolahkan anak-anak dengan baik, ya itu saja. Intregritas seorang tukang pembangun rumah bak Insinyur Arsitek hebat bagi kami, bagi beliau kepercayaan orang harga matibukan dari Gelar.  

Ada hal yang  paling selalu saya rindukan,bagaikan rindu yang tak berujung. banyak waktu yang kami habiskan kala duduk berdua bersama bapak kami. Paling berkesan itu pulang kerumahliburan Smester, bahkan pulang untuk sekedar cuti kala jauh bekerja merantau berbulan-bulan tidak pulang.

Dibawa bohlam lapu kuning temaram duduk didepan rumah obrolin topik random atau sekedar berkelakar ngaurmemaknai moment ngumpul bersama keluarga,moment kehangatan itu sekarang makin terasa begitu Mahal.

Salah satu topik yang masih kuat diingatan saya adalah “diluar sana Kepercayaan adalah koncinya untuk hidup ”

“Nilai Kepercayaan” Ini bagian dari Pazzle penting dalam perjalanan kecil saya, menjadi pegangan dasar bagi kami dalam menapaki hidup dimanapun,walaupun reallitasnya tak sedikit dari orang sekeliling kita malah mempermainkan kepercayaan yang kita berikan.

Saya tau penerapanya tak selalu semudah  yang diucapkan. Tapi dalam tahap proses hidup, mau tidak mau apa yang kita persembahkan selalu relevan dengan apa yang kita terima, kita akan perlahan mengerti begitu bernilainya sebuah kepercayaan.

Saya ingat dulu pernah bergabung sebuah kominitas seni disekolah, saya terbilang berkemampuan  paling biasa dalam team, tapi nilai tambah adalah saya paling kosnsisten dan paling Ontime saat jadwal latihan.

Setelah mengikuti Festival seni antar komunitas usai; hanya saya yang penerima sertifikasi penghargaan dalam team yang lain malah di hold sertifikatnya.

Kadang apresiasi itu muncul karena sebab yang begitu sederhana yaitu : “ secuil kepercayaan”.

Pada dasarnya Bapak saya bermodal kepercayaanrejeki proyek datang bergantian, hal ini menjadi tolak ukur bahwa bagi siapa saja dalam profesi apapun, sejauh mana kita dapat dipercaya dan sejauh mana daya mampu kita dalam menajaga kepercayaan orang lain pelangan misalnya /klien/stakeholder kepada kita?

Sebab..  dalam dunia sosial serba ketidak pastian ini, kepercayaan menjadi parameter krusial dalam tahap pertumbuhan kita ke arah yang lebih baik.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berati”


Oleh: Farie

  

Farieco

Pazzle Waktu 10 : “BADMINTON! Hobi saya”

Ada yang sama hoby kita?

 Masih sangat teringat dengan jelas, dulu… masih Sekolah Menengah Pertama dikampung saya; Selatanya Sumatera Barat, tepat dibelakang Sekolah Dasar legendaris kami. Inisiatif goro bersama pemuda desa kami, patungan dana dan terbentuklah sebuah lapangan Bulu Tangkis beton (outdor) satu-satunya dikampung kami.

 Tahun 2003-2004 an, keberadaan lapangan itu cukup begitu Keren dimasanya  khusus dimata saya. Sudah bak Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium bagi kami anak-anak kampung yang haus akan hiburan olahraga melepaskan keringat sepulang sekolah.

Dari pinggir lapangan ini selalu menjadi hiburan seru tiap sore sentero kampung kami, terutama saya dan teman-teman sebaya. pemuda hingga kalangan bapaQ-bapaQ. Di masa ini euforia badminton meracuni saya dan kami para bocah belia.

rasa penasaran menerawang dikepala saya waktu itu kenapa bisa dari sebatang raket dapat memantulkan bulu ayam berkecepatan tinggi?, saat itulah saya mulai suka kepo di Koran-koran  halaman olahraga hingga berita ditelevisi; tentang Tournament dari kejuaraan Dunia hingga Superseries, mengenal yang namanya Taufik Hidayat dan atlet lainya.

Entah kenapa mejadi hiburan keren kalo nontonin bapak-bapak main disore hari padahal saya hampir tidak pernah diajak main, karena memang tidak ada peralatan satu apapun :D. Masa itu jika memang ingin mencoba main badminton, tidak ada yang bisa dilakukan selain minjam raket ke teman.

Faktanya: tak selamanya bisa mengandalkan itu :( .

Sekian tahun berlalu. Hobi yang terpedam.

Hingga dibangku perkuliahanTamat, sudah mandiri tahun 2011 merantau. Dititik diaman saya sudah menghasilkan uang sendiri, disitulah saya baru mampu beli yang namanya “Raket sendiri”, “Sepatu sendiri”, “Seragam sendiri”.

Tapi memang, entah kenapa! “aneh bin Ajaib”, bila kita merasakan suatu berupa filling yang kuat-Hasrat/daya dorong begitu bergejolak terhadap sesuatu, sebaiknya itu dikomversi menjadi kenyataan. tidak butuh lama saya jadi pemain Badminton  cukup diperhitungkan dimasanya (di Perantauan).

Saya fikir Ini bagian dari merefleksi diri sisi gejolak jiwayang tersimpantertahan bertahun-tahun di dalam hati dipikiran saya. Tak peduli itu selama apapun tersimpan bahkan tertunda dalam jangka waktu yang begitu lama. Bila itu memang potensi diri, dia akan muncul kepermukaan dengan sendirinya.

Saya percaya  sang “Maha Desainer” sudah mengatur sedetail dan sekomplit mungkin system dasar bertahan dan adaptasi pada Manusia. kita dipersilahkan untuk bertebaran dimungka bumi ini dengan segala keberagaman kita, tapi selalu dikasih jatah senjataberupa Potensti untuk beraksi, kreasi, karya, ber- ekspresi dalam hidup, goalsnya  membawa manfaat orang lain. tapi apakah kita sudah menemukanya atau belum?

Jadi, saya percaya setiap manusia selalu ada hoby yang bisa dikomversi kebentuk portofolio Keren minimal untuk diri sendiri.

Menembus babak semi final IKPP CUP tahun 2012 tempat saya bekerja adalah salah satu pencapaian hebat saya dalam Olahraga Bulutangkis, dalam partai Ganda selalu ada partner yang membantu dan saling menguatkan.

LaluTahun  2016, 2017,2018 adalah masa juara 1 dan 2 jadi langganan di cevitas perusahaan Electrical company.

Tahun 2019 satu satunya pemain yang dikirim dalam keikut sertaan POR Pembangkit di Surabaya. Terkhir 2025 lalu juara 1 (Emas) di Super Series 750 antar Regional Se-Nasional Pembangkit kembali dihelat juga di Kota Surabaya.

Perjalanan yang kita minati masing-masing kita juga bervariatif, tingkat kompetitif yang sangat beragam. kita bisa mengambil kopetisi sesuai kelas dan ambang batas daya yang kita miliki.

Badminton tak hanya sekedar soal menang atau kalah, tapi dalam konteks yang sangat luas. Ada fakta menarik; dari badminton akan terbentuklah komunitas lalu terciptalah persahabatan dan kekeluargaan baru.

Sejauh ini bagi saya barangkali jumlahnya ada ratusan lebih sudah menjadi keluarga baru terjalin hingga saat ini. sebagian besar karena bulu tangkis, setiap menetap disatu daerah selalu ada kelurga baru, begitu seterusnya hingga hari ini alhamdulillah.

Pada akhirnya muncul pertanyaan penting “ Jadi…  kapan kita Mabar” ? hehe

walau fisik tak sekuat dulu, lompatan tidak setinggi yang dulu, tetapi setidaknya bermain untuk berkeringat, tertawa  bareng dipinngir lapangan  sambil ngopi.

Misi demi Merawat, Memperkokoh tali Persaudaraan kita  Insyallah saya masih bisa. :D


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco