Tampilkan postingan dengan label Belajar Dari Mereka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Dari Mereka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Pazzle Waktu 22 “Bus Legendaris Kisah Sipenolong Ijazah tahun 2002-2008"

Dari kejahuan sebuah bus bewarna merah melewati kampung kami, berseragam putih biru dongker dan tas dipunggung saya perlahan mendekat pinggir jalan lalu melambaikan tanggan 50 meter sebelum bus mengarah check point titik saya berdiri.

Jam 7 pagi masih begitu terasa dingin, udara segar seakan bergelantungan lalu bergerilia dimana bangku-bangku kosong bus ini. pagi yang cerah ini adalah awal tahun ajaran baru tahun 2002 Dinas pendidikan Agama Sumatera Barat tingkat Mts.N. sekitar 24 tahun yang lalu, terbilang jauh dari modernisasi seperti saat ini.

Waktu menunjukan pukul 14:00 wib setelah melaksanakan sholat berjamaah sebagai bagian dari rutinitas sebelum kami pulang sekolah (saya yakin rutinitas ini hingga hari ini masih berjalan dengan baik bahkan lebih systematis dan terstruktur). saya dan beberapa teman yang lain seiring memisahkan diri dari gerombolan yang notabene teman-teman saya domisili disekitaran sekolah kami. Gadung surian adalah salah satu daerah hampir paling ujung perbatasan wilayah solok hampir ujung bagian selatan. kali ini mengharus saya sedikit keluar dari desa saya lebih kurang 10 KM setiap hari pulang dan pergi mengunakan oplet maupun Bus antar daerah hingga Kota.

Bus legendaris ini waktu itu ada beberapa unit, umumnya rute kota Padang-Solok selatan, maupun Kab Solok-Solok Selatan. Mereka barangkali sudah beroperasi sejak tahun 90 an.

Putri Tunggal, Suliti Indah, Gunung talang begitulah fond besar didepan kaca bus legendaris kebanggan saya tersebut. Ada lagi mungkin tapi saya sudah lupa.

Ada hal paling berkesan dari para sopir bus ini ia menegerti kebutuhan anak-anak sekolah kampung kami. Yaitu tidak akan bisa berangkat sekolah kalo bukan bersama bus yang melintas dikampung kami, makanya mereka selalu berhenti didepan anak sekolah setiap harinya. sebab oplet tidak rutin atau bahkan nyaris tidak ada kecuali hari-balai atau hari pasar .

Bus ini selalu berhenti didepan rumah saya, umumnya jam pulang sekolah bila bus penuh saya harus berdiri bergelantungan hingga sampai dirumah kembali. Ada yang bisa nebak berapa biaya bus/oplet tahun anak sekolahan awal tahun 2000 an? Benar sekali.. “500 Rupiah”!  :).

Waktu terus berjalan tampa saya rencanakan naik turun bus-bus kebanggan saya ini tiap hari berlangsung hingga Enam tahun kemudian (sampai Lulus Sekolah Menengah Atas). satu hal yang masih memebekas difikiran saya dimana moment beberapa bulan setelah saya lulus sekolah 2008.

Bak kisah dipulau Hokkaido tepatnya stasiun Kami-Shirataki Jepang, dimana di sebuah desa terpencil ada seorang siswa masih mengunakan jasa kereta api untuk berangkat dan pulang sekolah disetiap harinya. Padahal rute itu hampir tidak ada lagi penumpang, akhirnya perusahaan kereta api jepang berencana menutup permanen rute kami-shirataki tersebut demi efisiensi.

Lalu management KAI mereka dapat kabar dan mengatahui sebuah fakta dimana masih ada satu orang siswa tengah menempuh pendidikan dan memanfaatkan rute  kereta itu tiap hari, pada akhirnya perusahan kereta api memutuskan menunda penutupan jalur kereta di desa tersebut dan menunggu hingga siswa tersebut menamatkan sekolahnya. Setelah menamatkan sekolah rute kereta Kami-Shirataki resmi di tutup secara permanent.

Tahun 2008 beberapa bulan setelah saya menamatkan sekolah Tingkat SLTA bus-bus legendaris kebanggaan saya itu total stop beroperasi secara permanent. Saya tidak tau pasti penyebab semua bus Solsel-Padang tersebut tidak lagi beroperasi sama sekali hingga hari ini.

Tahun 2002-2008 adalah masa-masa transisi pola hidup saya setiap hari tak lepas dari angkutan umum, bergelantuangan dipintu bus maupun oplet. masih terekam jelas diingatan saya bagaimana keseharian kernek dan sopir lintas kota-daerah setiap hari hidup sepanjang jalanan, wajah-wajah sopir dan kernek bus legendaris ini masih tercatat difikiran saya hingga hari ini. Saya kirimkan doakan terbaik semoga para penyelamat ijazah saya, para penyelamat episode penting dalam hidup saya sehat-sehat selalu bersama kelurga tercinta hari ini hingga kemudian hari aamiin.

Masa SMA saya sering sendiri dipojok pojok jalanan duduk berjam-jam, karena saya termasuk siswa terjauh dari titik sekolah, jadi sangat jarang ada angkot atau oplet rute kekampung saya.

Bus adalah satu-satunya andalan saya setiap harinya.  

Merindukan dari begitu banyak moment pulang sekolah duduk dipinggiran jalan ditengah hujan begitu lebatnya basah kuyup sesampai dirumah pulang larut magrib. Tau kenapa? Karna saya ketiduran dibus karena saya kelelahan hingga terlewat jauh dan jauh dari titik pemeberhentian  yang seharusnyan didepan rumah wkwkw… :D

 “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Selasa, 31 Maret 2015

JEJAK LANGKAH Episode 7 : Pesona Malioboro

Sengatan terik matahari makin terasa di daun telinga. Seluruh pelataran, tangga, teras-teras prambanan tak lengang dikunjungi oleh banyak orang, semua kalangan. anak-anak, remaja, orang tua para turis-turis juga tak luput didalamnya. Dua jam lebih cukuplah membuat kami lelah naik-turun menikmati semua ini dari candi ke candi. Memerhatikan bebebalok yang indah itu, entah bagaimana cara semua ini begitu rapi dan ditail, tentu saja semua ini dibangun ditengah serba keterbatasan teknologi jaman dulu. 
Mendekati adzan sholat jumat kami berlalu melintasi pelataran diantara bangunan tua itu. matahari terasa begitu terik sekali, lama-lama cukuplah membuat belang kepala-kepala plontos kami. Ditengah keramaian, disela-sela jepretan para pengunjung di penjuru tempat ini, semakin menandakan begitu berartinya warisan sejarah ini bagi kita dari generasi terdahulu. lantas dari kita saat ini, apa yang akan kita wariskan kegenasi setelah kita? "Sesuatu" yang bisa mereka kagumi dalam hidup mereka. Sebagai bentuk lain dalam mengenang keberadaan generasi kita saat ini kawan. Kami juga sama persis merasa  seperti itu, semua ini begitu  berarti harus dijaga dan dilestarikan. 

Menuju jalan keluar kita akan mendapati sebuah mesjid, disanalah kami sholat. Ohya disamping pintu keluar wilayah Candi kita kan melintasi lokasi yang umum ditongkrongi oleh para pengunjung yang sudah lelah berwisata mata kesana kemari. 
Kamu tentu tau wisata apa selanjutnya! :D. yap…bener sekali. "Wisata kuliner". Gerbang keluar kita akan menemukan hamparan meja makan dan minum yang berjejer panjang sekali (menurut saya) satu banjar panjang. Disini kita akan ditawari daftar makanan khas dan minuman yang beragam, begitu juga dengan harganya, Cukup murah. Siap makan, di pintu keluarnya lagi kita akan sampai wisata berikutnya yaitu "Wisata cendramata". nah disini sangat menyerupai pasar tradisional banget, tapi isinya adalah hampir semua jenis yang berhubungan dengan Yogyakarta, mulai dari kaos, batik, sepatu, sandal, gelang, alat musik, mainan kunci, makanan dan banyak lagi jenis yang lainnya. 

Mengunjungi pasar cedramata kami sudahi .Kami lanjutkan perjalanan berensut meninggalkan Roro Jongrang itu. hujan mulai turun dari langit, awan kelabu berarak menemani kami melintasi pinggir jalan menuju halte bus. Jejak langkah selanjutnya adalah jalan yang paling fenomenal (menurut saya) di Jogja, yaitu Malioboro. Malioboro adalah nama sebuah jalan di tengah kota Jogja, dekat dengan gedung pemerintahan,  perbelanjaan makanan dan pasar tradisional yang masih sangat kental keberadaanya.

****
Trans Jogja memberhentikan kami beberapa meter saja sebelum stasiun KA Jogja kota. Jalan ini adalah tempat "pejalan kaki" kota terFavorit versi saya, berada diposisi teratas. tentu saja pelataran pejalan kakinya lebar banget, bersih dan teratur. Perlahan tapi pasti kami kembali bertebaran menggerayangi jejalanan kota yang dikenal "kota pelajar" ini. Perlintasan  stasiun kereta jelas mulai tumpah oleh manusia berlalu lalang. 
Ditengah keramaian kami tetap mendokumentasikan lokasi-lokasi yang kami anggap sensasional dimata. Dan spesial bangi orang-orag tentang kota Jogja. Kota ini juga dikenal sebagai kota pasar tradisional memikat hati. tepat dipenyeberangan rel kereta kita akan disambut oleh jalan yang paling terkenal di jogja ini yaitu jalam Malioboro. Sebetulnya jalanan ini sama seperti jalan pada umumnya, hanya saja jalan dua lajur tersebut  selalu  dipadati oleh orang berlalu lalang sepajang waktu. Di jalan Malioboro ini banyak sekali terdapat tempat wisata kuliner, termpat berbelanja pakaian, dan makanan, tak lupa jug makanan-makanan kecil dipinggir jalan. Buat asik suasana sore bukan? ^_^. 

Ada beberapa soal yang cukup menarik perhatian saya disepanjang jalan ini. yang pertama adalah soal Kenyamanan. saya termasuk orang yang suka sekali berjalan kaki (daratan, gunung, pesisir pantai) ada hal-hal baru yang saya temukan saat menelusuri suatu tempat. ada perbandingan rasa yang berujung kata syukur kala memandang orang-orang baru, tempat-tepat menabjubkan, dan itu adalah sudah menjadi kebutuhan bagi saya  sebagai makluk sosial, barangkali kamu juga demikian adanya. Kenyamanan sepanjang jalan Malioboro yang pertama adalah Musik, jika kamu lebih mengamati dan memerhati suasana jalan ini, maka kamu akan menedengar suara musik yang asik. Tiang-tiang lampu jalanan tersedia spiker (alat pengeras suara) musik yang dapat menghibur para pejalan kaki di sepanjang trotoar lebar itu. selain itu di bagian-bagian tertentu juga ada kelompok-kelompok anak muda yang memainkan alat musik di pinggir jalan. khas, berjiwa seni, kreatif dan menarik.

Kedua yang menarik adalah Budaya, tak salah kota Jogja ini di juluki kota seni dan budaya. Kota yang tak meninggalkan nilai-nilai kebudayaan ditengah arus serba kemodernan. ada terasa nada-nada harmonisasi antara nilai budaya dan nilai kemajuan jaman, keduanya saling mengimbangi. Jasa transportasi disepanjang jalan ini masih dipenuhi becak-becak sepeda ontel unik dan tradisional. dengan Segenap sikap yang bersahaja "mereka" siap mengantar para pengunjung mengitari kota. tak ubahnya bak taksi-taksi kuning ditengah kota Time Square USA ^_^. Kota jogja Modern tapi ketradisionalanya masih terjaga hingga sekarang. 

Ketika kami melewati gerbang kantor Gubernur Istimewa Yogyakarta. Ternyata sore ini adalah sore yang spesial, spesial karena ada pameran dan karnaval karya-karya berbagai komunitas dalam rangka memperingati hari ke Kratonan daerah istimewa Yogyakarta. 

Kerumanan manusia tak ubahnya macam pasar disepanjang jalan Malioboro itu, bak lautan manusia yang haus akan uniknya pertunjukan seni negeri ini. ini lah sesi yang saya suka dalam tahap perjalanan ini, melihat budaya orang lain dari sudut pandang yang berbeda. manikmati raut-raut wajah-wajah mereka yang berupaya memepertahankan nilai budaya hingga detik ini. berseragam tradisional, menyanyikan dendangan berirama khas yang diajarkan dari generasi sebelum mereka (leluhur mereka). semangat melestarikan budaya semacam itu sungguh mampu membangkitkan tekat dihati. 

Kami terus mengikuti arakan-arakan berbagai bentuk tari dan beragam karakter unik itu, ada burung elang, mongster, nenek sihir, topeng raksasa, ayam dan sebagainya. Perayaan yang diadakan sekali setahun ini berlangsung sangat meriah. Ditengah keruman orang-orang selalu terselip potrekan dari mereka yang kagum akan kreatifitas didepan mata mereka.

Ketiga hal yang membuat saya semakin kagum pada daerah istimewa Yogyakarta ini adalah  keramah tamahan, Toto kromo yang baik. buktinya adalah disaat kami berfoto diantara kerumunan ada yang tersengol tak sengaja oleh injakan saya, sebelum kata maaf terucap malah mereka yang berekpresi merasa bersalah dan bilang “monggo.. mas.. monggo..!, sambil ia tersenyum. Sama halnya dengan para tukang  becak yang pintar melayani dan menawarkan jasanya antar jemput.

Jika kita teruskan jalan hingga kepengujung jalan ini, kita akan akan menemukan persimpangan dimana terdapat salah satu Bank bangunannya unik, diseberangnya juga terdapat kantor pos berbangunan tua jelas ini adalah tipe bangunanan peningaln kolonial belanda. Waktu pun berada pada penghujung sore, saatnya menelusuri sudut-sudut kota mencari losmen murah untuk tidur bersama malam ini. Bermalam di kota Jogja kota pelajar kota yang asik buat manusia-manusia semacam kami "sang pejalan kaki". menikmati budaya negeri ini, memahami tentang "keseimbangan". Keseinbangan  antara budaya dan manusia berdampingan harmonis ditengah jaman Ternologi dan kemoderatan tampa batas.

Malam tetap begini, seperti malam-malam sebelumnya langit yang tadi menguning seburat pancaran dari ufuk barat dengan perlahan tapi pasti pun hilang, mengisaratkan enggan untuk kembali.
Disini tempat ku menatap berbagai hal berbeda dari hari ke hari. Tetap bersabar dalam perjalanan, merasakan dendangan melodi-melodi sang Cakrawala dan berakhir mengema di hati. Berharap dalam setiap lantunan doa, aku, kamu bahkan kita!. akan tetap bisa melanjutkan jejak langkah ini sampai kata "Faham" itu nyata adanya dan mampu berinisiatif baik ditengah masarakat dan mengapresiasi budaya sendiri dalam keharmonisan hidup, hingga patut dihargai oleh orang-orang di luar sana.
...........
……

Bersambung

Farieco Paldona Putra


klik gambar untuk melihan ukuran gabar secara maksimal


 Rel penyebrangan stasiun KA
 Kawat berbentuk ayam

 Tiang paling Fenomenal di Jogja

 Stasiun KA Yogyakarta

Para pejalan kaki

 Ditengah kerumunan, topeng raksasa yang unik
 Berupa sesajian, hasil pertanian masyarakat setempat
 Burung elang, gagah perkasa
 Sesosok raksasa merah
 Moment terbaik ditengah keramaian
 Tuyul-tuyul :D
Dipenghujung jalan Malioboro 
 Selfie boys
 Bangunan tua putih dibelakang adalah, sebuah Bank unik, bekas peninggalan Belanda
 Bangunan tua ini dimalam hari, terlihat megah 

Senin, 09 Maret 2015

JEJAK LANGKAH Episode 3: Terimakasih Komandan

“Hai kamu!!!........ 

“Ada telinga ngak kamu!!!? Sini!!”.. 

“kamu maju!! Kamu yang dibelakang…!! 

“Manusia macam apa kalian ini!!! Berbaris saja tidak bisa”…!!

"kamu… fuss Up 25 kali!!! " saya menelan ludah. menyaksikan mereka yang mendadak dapat jatah hukuman.

Ditengah kagetnya semua peserta tak ubahnya bak tawanan para pembajak pemeberontak nankasar yang tak peduli dengan laparnya perut kami. Hanya bungkam tak berdaya.
Gema Toa tak henti-hentinya menggelitik pedas daun telinga kami. Sekejab barisan berbanjar yang dibentuk secara mendadak itu mulai dibagi empat bagian. 
Perlahan satu-persatu langsung naik mobil Unimog Angkatan Darat tersebut. semuanya taat sesuai intruksi para manusia loreng, tentu saja pressing semacam ini untuk tujuh hari kedepan .
Kapasitas mobil ini jelas dipaksakan, kami digabung dengan tumpukan barang-barang. sungguh bikin dengkul lelah men.“ini lah awal ketidak nyamanan yang berbuah pelajaran yang saya rasakan atau mungkin bagi semua peserta setelah berproses nanti.
Di dalam mobil barak kami dibekali tiga potong kue dan segelas air mineral, sebagai penghibur cacing-cacing perut kami yang sedari tadi dendangnya Bondan prakosoYa sudahlah..kaka..!!.”. 

Perjalanan cukup jauh yaitu menuju kota Malang, berjarak kurang lebih tiga jam perjalanan. Sepanjang perjalanan tampa ada penjagaan dibelakang, semua pada ribut seperti awal lagi. Ada yang ngakak, ada yang berkicau: “selamat menikmati azab dunia kawan-kawan”, ada yang sibuk mencari-cari barang bawaannya… “cekikikan”, ada yang berkenalan satu sama lain, ada yang menatap kosong keluar jendela terpal yang bergoyang-goyang dihembus angin. 

Ditengah perjalanan, sesekali kulempar pandangan kearah bak truk yang terbuka dibagian belakang. Menatap langit yang perlahan mulai kelam dan sendu, ia tak lagi secerah kemarin, kemarin di kota Pekanbaru. Tanpa durasi yang panjang rerintik hujan menghiasi perjalanan kami menuju kota Apel (Malang). Negeri dimana seorang Iwan setyawan dibesarkan, ia dan hidupnya yang getir itu. hingga menginspirasi orang-orang lewat bukunya “9 Summers 10 Autumns”.
 
Disela-sela rerintik hujan memebasahi, Pukul 15 wib sekian-sekian kami semua diberhentikan desebuah gerbang yang tak ubahnya semacam pintu masuk padepokan jaman kerajaan-kerajaan dulu, saya rasa cukup sering kita lihat dalam film-filem laga. Dibagian atas ada plang disatukan oleh dua tiang tua dan bertuliskan “ SELAMAT DATANG DI DODIK BELA NEGARA RINDAM V BRAWIJAYA MALANG”. Dalam hitungan tak sampai sepersejari tangan saja semua peserta sudah turun dari mobil Militer itu, dilapangan rumput berbaris berbanjar tiga kelompok. diatas genangan air, berlumpur dan becek. disitulah bergelimang sepatu-sepatu Pantofel kami. Ujian emosional kami semua diuji, beberapa potong kata sambutan dan perlahan berlari melewati gerbang dan masuk kemedan latihan kedisiplinan, dan tidak akan melewati gerbang ini selama satu minggu kedepan.hikk!!hik!! 

Rintik hujan masih asik bertubi-tubi menyapa kepala-kepala kami, kami kembali duduk lesehan berbaris dua persaf diaspal yang mulai basah. Langit ini  tak lagi langit diNegeri Melayu seperti yang saya pandang kemarin. Setelah pembagian anggota kompi - per kompi, cacing-cacing perut yang sedari tadi merengek kini mulai ada tanda-tanda sahutan pengobat rasa lapar kami semua. dengan aba-aba yang pasti, intruksi doa dari pelatih (para manusia loreng). 
Nasi kotak yang dibagikan mampu membungkam suara-suara keluh kesah, ocehan kecil dari suara peserta hingga beberapa menit. ocehan karena sepatu pantofel hitam mereka kini beroleskan lumpur, dan saya-mereka pada akhirnya tak akan peduli dengan sepatu yang hanya sekedar kotor.

Sore ini mulai menempati barak masing-masing, barak beton yang berpenghuni berkisar 40 orang, masing-masing satu tempat tidur, satu bantal, dan satu lemari. Bangunan ini panjang dengan arah dan posisi tidur, lemari berjejer rapi dan besih sekali. Di ujung batang hidung saya mulai tercium aroma kedisiplinan nan kental disini, didaun telinga ini mulai terngiang-ngiang hardikkan suara-suara garang para pelatih demi menempa jiwa-jiwa yang berjibaku siang malam.

Sembari istirahat sejenak, peserta berkesempatan untuk bersih-bersih dan melaksanakan sholat, sebelum mangrib semua peserta sudah berbaris didepan lapangan. Latihan kedisiplinan dan wawasan kebangsaan kami dimulai, diharapkan ke jiwa kami benih-benih rasa cinta itu tumbuh dan mekar kepada negeri ini.

Malam pertama diawali aturan-aturan selama tinggal dibarak, mulai dari cara terbaik munggunakan sprai tempat tidur, tata letak baju dilemari, susunan sepatu. Semua harus satu cara dan metode kerapian yang sama. Jika ada yang berbeda maka tunggu saja hukumannya dari para pelatih. Kami juga mendapatkan satu ransel berisi atribut, sepatu PDL, sepatu olah raga, kaos kaki, buku saku, seragam olah raga, seragam kerja, topi. ini yang akan kami kenakan selama belajar disini. 

Matahari tengah beranjak tenggelam dikaki cakrawala, sayangnya tak terlihat sungguh terhalang dua tiga bangunan aparatur Negara, serta pohon-pohon rimbun yang menghiasi pingir kawasan lapangan. hanya seburat kemerahan berpadu warna kelabu dilangit brawijaya, dapat saya lirik dari sela-sela dedaunan rindang itu.

Diawal malam ini melalui dua orang bapak-bapak ahli cukur berbadan kurus berambut rapi sengaja didatangkan “khusus malam ini”. tak butuh banyak waktu untuk menyulap kepala-kepala kami menjadi botak, ( bahkan benar-benar botak) jangankan hanya sejambak, bila kamu coba nenyentuhnya hanya kesat-kesat geli gimana gitu yang kau rasa..hahaha :D. 

Malam itu juga media komunikasi beserta media hiburan kami D.I.S.I.T.A. Semenjak malam itu juga kami kami tidak diperolehkan menggunakan semua jenis elektronik, Hanphone, Gedget, pemutar music, labtop, camera dan sebagainya.(bikin Galau ga tuh :D) Ohya termasuk dilarang merokok selama pelatihan tujuh ini (bangi yang perokok) Ini salah satu strategi komandan agar kami f.o.k.u.s untuk berlatih dan belajar selama di rampal.

Kedisiplinan kami dilatih untuk semua hal, mulai dari hal-hal yang paling kecil (sepele) hingga hal yang besar. dari waktu makan, tidur, sholat, mandi, bersih-bersih ruangan tidur, dan semua-kegiatan latihan fisik lainnya.
Besok paginya setelah selesai dibuka oleh komandan Rindam, kami resmi mulai diklat diDodik Bela Negara. Sebagai tujuannya, seperti yang dibilang para Komandan Pelatih untuk memebentuk siswa “Diklat masuk sebagai kambing”, “keluar menjadi macan” (walau awalnya komandan tersebut keceplosan “sengaja” bilang masuk sebagai kambing keluar menjadi sate kambing wkwkwkwk…. :D )

Kegiatan keseharianya sangat padat mulai bangun jam 4 dini hari, terus senam pagi sebelum matahari terbit, sholat subuh, makan bersama, apel pagi, lari siang, latihan PBB, gerak jalan, materi dikelas, makan malam (jenis makanan untuk semua peserta sama tak lebih dan tak kurang), sholat selalu berjamaah di masjid Bela Negara. kegiatan-kagiatan semacam itulah menu kami setiap harinya, dan akan perlahan mentransformasi kami semua masuk hanya sebagai kambing akhirnya keluar menjadi macan hehehe..

Dari jadwal kegiatan yang begitu ketat, disini mau tak mau kami harus lebih “jenius” mengatur waktu secara pribadi, kapan waktunya mandi, kapan waktunya cuci baju, kapan waktunya bersih-berih ruangan, termasuk kapan waktunya curi-curi tidur di kelas saat materi berlangsung hehehe...
****
Ada beberapa kegiatan yang menjadi favorite saya selama diklat, salah satunya latihan bela diri militer yang biasa disebut Kim Jong-Un atau Young Moo Do, ini tuh latihan bela diri berasal dari Negara Korea. saat ini baru diperuntukkan pada Militer Angkatan Darat. Kegiatan menarik lain adalah Out bond berupa meluncur lewat tali dari ketinggian pohon ke pohon yang tinggi, berjalan diatas untaian tali, estafet bola pimpong menggunakan belahan pipa dan beberapa game nan butuh kerja sama lainnya. kegitan yang cukup menantang lain adalah Caraka Malam, kegiatan dilaksakan ditengah malam (sekalian uji nyali bos :D) kegitan ini intinya seperti simulasi buat peserta untuk menjadi kurir rahasia atau “caraka” dimana fungsinya menyampaikan pesan rahasia dari pimpinan kelompok kita kepimpinan kelompok kawan yang lain. 
ini banyak dipraktekkan diwaktu perang atau jaman sebelum ada alat komunikasi elektronik dulu. Nah, tugas menjadi seorang caraka ini tidak mudah bro!, kami harus melewati jalur yang sudah disiapkan oleh pelatih dan kita tuh harus seorang diri, tanpa boleh ngebawa peralatan penerangan apapun, cuma bermodal tanda jejak dan tali raffia. Sayangnya kegiatan ini Gagal Total untuk diadakan karena pas malamnya, Malang di guyur hujan deras. Saya kecewa sekali.T_T...

Dan yang terakhir adalah kegiatan yang paling melelalahkan yaitu latihan gerak jalan dan PBB, upacara bendera, ini adalah kegiatan yang paling menguras tenaga, bikin lelah, dan bikin tenggorokan ngak enak. Kagiatan ini entah kenapa jadwalnya harus ditengah hari, saat matahari lagi lekang maksimal, dan kami semacam gabah yang dijemur dibawah panasnya bumi, dan bikin kepala-kepala botak kami terasa panas dan nyiluu. Secara perlahan mungka-mungka kami ikut belang dan kusam.

Walau selama disini para komandan palatih main hardik-hardik kami dan sangat ketat dengan ketepatan waktu. Disisi lain, yang saya salut para pelatihnya itu fair, jika salah dibilang salah dan kalau benar mereka pun mengapresiasi kita. Pernah suatu ketika dalam kegitan sholat jamaah, seharusnya semua yang muslim wajib mengikuti sholat jamaah di masjid (soalnya 130 orang semuanya laki-laki), dan tenyata ada dua orang yang ketahuan tidak sholat. Maka sesatu barak kena hukuman, semuanya merayap dan fuss up. 
Dan pernah juga ada teman-teman yang On Time mengikuti kegiatan, disana mereka mengucapkan terimakasih mengapresiasi agar menjadi tolak ukur bagi yang kelompok yang lain.
Wawasan kebangsaan dengan berbagai jenis materi dikelas kita juga diberi pemahaman tentang situasi bangsa, menghargai perjuangan para pahlawan dimasa penjajahan dan bagaimana mengisi kemerdekaan bangsa. cukup dalam materi ini yang saya terima, perbandingan hidup dijaman dulu dan bagaimana kondisi Indonesia saat ini. 
bagaiman pertahanan Indonesia saat ini, bagaimana pola penjajahan negera lain ke Negara kita Indonesia hingga detik ini, bahkan hingga saya melunis tulisan ini sekarang. 
“penjajahan itu masih berkecamuk kawan” masih berlansung, kita masih berada dibawah tekanan yang tinggi, dari penjajah yang jauh lebih tangguh, lebih super dan kasar. 
dan yang paling disayangkan hal tersebut kita di hajar pada semua aspek kehidupan kawan. “Sekali lagi dari semua aspek kehidupan”. Sungguh menyedihkan, dan pada dasarnya disanalah letak tugas kita sesungguhnya kawan “Para Pemuda Indonesia”.

****
Tak terasa diklat sudah sampai pada malam penutupan, malam api unggun. Acara satu ini Diadakan ditengah-tengah lapangan bola Rindam V. malam ini adalah acara puncak kegiatan, malam yang bikin hati senang karena besoknya tidak adalagi latihan PBB tibawah terik matahari, latihan gerak jalan dibawah rerintik hujan, upacara bendera dilapangan rumput air tergenang.   
Disisi lain saya merasa sedih rasanya penempaan kami untuk disiplin belum cukup masih banyak hal-hal yang belum kami matangkan, dan mengenal satu sama lain.
tapi disinilah tugas kami selanjutnya harus berlatih berdisiplin secara mandiri, dan aktif belajar memperluas wawasan terakhir ikut melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan prestasi-prestasi diri. Dan harapanya dapat menjadi contoh yang baik ditengah-tengah masyahrakat nantinya. 

Acara malam penutupan dengan barisan berformasi “U”, disela-sela suara tokek yang menyaring di sudut-sudut lapangan. Kami dengan hikmat menyanyikan lagu mengheningkan cipta.


Dengan seluruh angkasa raya memuji

Pahlawan negara


Nan gugur remaja diribaan bendera


Bela nusa bangsa


Kau kukenang wahai bunga putra bangsa

Harga jasa


Kau Cahya pelita


Bagi Indonesia merdeka


Diakhir lagu empat sumbu kembang Api menghiasi malam yang kelam. Dan disusul dengan api unggun yang cukup menghangatkan tubuh yang sedari tadi dingin dihembus udara malam. Secara perlahan semua peserta bergeser merapat ke sumber api, kebersamaan makin terasa. semuanya saling berangkulan, tertawa, berjoget dan bernyanyi bersama-sama. Malam yang menyenangkan hati, kebersamaan malam yang mampu menciptakan segurat senyum bahagia dimungka-mungka kami yang lelah seminggu lamanya .

Hari ini kami masih bangun sepagi biasanya, hanya saja kegiatan mulai r e n g g a n g. Hanya penutupan secara resmi saja yang kami ikuti. segera memepersiapkan kelompok masing-masing untuk menampilkan gerak jalan terbaik didepan pimpinan komandan Bela Negara atas tempaan kami selama seminggu ini. 
tolak ukur keberhasilan secara nyata adalah menampilkan tingkat kedisiplinan, kelihaian PBB kami, dan tentu saja ujian intelektual mengenai wawasan kebangsaan pada hari keempat. 
Jam sepuluh pagi kami sudah siap dengan barisan yang rapi, pakaian yang rapi, topi yang terpasang mantap. Diawali aba-aba yang menggema dan menampilkan PBB yang benar sesuai dengan yang dilatih. kepada pimpinan komandan Rindam dan jajarannya kami memeberi hormat, sebagai penghargaan kepada para pelatih kami. yang akan selalu kami ingat dan berupaya berdisiplin dan berwawasan dalam hidup diluar sana. "Terimakasih Komandan"


Bersambung

 Hari terakhir di Rampal


Tolong jangan cari yang mana mungka saya  :D...

Acara penutupan secara resmi

Gerbang pertama

 Para pelatih Komandan



Farieco Paldona Putra