Pernahkah kita merasa anak kita belum bisa ini, belum bisa itu seperti anak si A, atau anak si B.? Pernah? Oke saya juga ,
Beberapa dekade yang telah terlewati, pertama saat saya posisi sebagai anak sekolahaan, kedua perguruan t hingga hidup mandiri diperantauan, lalu dekade terkahir punya keluarga kecil.
Tahap-tahap yang terlewati saya merasakan satu hal ternyata karakter anak itu terbentuk tergantung lingkunganya, itu point satu.
Anak-anak akan berkembang berdasarkan lingkungan yang kita suguhkan saat ini. lalu pertanyaanya seberapa besar korelasinya antara lingkungan vs tingkat kemampuan dasar sang anak?
Hubunganya sangat berkesanambungan satu tahun terakhir ini sejak anak kedua saya masuk taman kanak-kanak, sang Istri dan saya punya program pribadi buat bocah ini; selama TK harus bisa membaca, wajib iqro’ 6, bisa main sepeda mandiri roda dua, mandiri urusan MCK, kemampuan hitung-hitungan dasar wajib bisa, ayat-ayat pendek, sholat berjamaah sama-sama minimal magrib dan isa. Hari ini anak ini baru masuk smester 2 TK tapi semua target diatas sudah hampir tuntas olehnya.
Artinya baru beberapa bulan berjalan!
Dulu awal-awal saya sempat terfikir “anak ini bisa ga ya”… “dia mampu ga ya, tugas dan tantangan yang kami berikan”?
Seringkali kita sebagai orang tua meragukan kemampuan anak, pada dasarnya anak kecil itu jauh lebih fokus, kecepatan dan daya savenya jauh lebih efektif dan cepat dari kita, bahkan instingnya lebih baik dari kita sebagai orang tua. Walau tingkat kesabaran anak-anak cenderung masih relatif rendah, kekurangan dalam proses belajar ini lah kita sebagai orang tua buat ngebackupnya. Khususnya istri saya yang sangat luar biasa efortnya serta kelembutanya dalam mendidik anak-anak.
Saya mengabi banyakl pelajaran, balita itu hebat, anak kecil itu hebat. Awal-awal pengajaran/latihan kita akan menghadapi penuh penolakan, rengekan dan tantruman. Tapi bila konsiten terus pelan-pelan mereka akan ikut, perlahan mengerti, dan pada akhirnya memahami apa yang kita contohkan. Faktor pola pengemasan pengajaran kita ternaya juga mempengaruhi kecepatan anak dalam memahami. Terutama istri saya punya banyak trik jitu dan menarik .
Ada segudang pengelaman manis bersama anak-anak yang akan menjadi kenangan henat nanti setelah mereka mulai beranjak besar, mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Hari ini saya juga semakin memahami nilai dari lego yang selalu berserakan terlihat saat pulang kerja, udah ratusan kali mereka mainkan pazzle-pazzle yang tak utuh lagi itu, krayon pensir warna yang sudah tak lengkap lagi warnanya, hingga boneka legendaris yang dipakaikan pampers itu :) .
Saya dan istri yang masih terus belajar dalam memaksimalkan gimana memenuhi kebutuhan happynes sebagai haknya anak-anak dimasa kecilnya, kebutuhan bermain sambil belajar.
Saya ingin suatu saat ketika bocah-bocah hebat ini sudah mandiri (*lalu kami berjauhan). Mereka selalu merindukan masa kecil mereka yang penuh kenangan manis dan bernilai, menjadikan suatu kerinduan berkepanjangan bagi mereka, hanya pulang kerumah adalah satu-satunya obat pelipur lara di hati mereka, berkumpul bersama kluarga.
Sukses dan sehat-sehat selalu istri saya tercinta dan para orang tua dimanapun berada.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”
Oleh: Farie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar