Kamis, 27 Agustus 2026

Pazzle Waktu 26 “Hidup tampa Listrik selama 2 minggu :( “

Siang hari dipenghujung November tahun 2025 (Bencana Alam Aceh). Langit Aceh Tengah masih terlihat setengah menghitam,mendung. matahari hampir nyaris tak mampu menujukan wajahnya, malu-malu dan klorofil dedaunan begitu rindu akan kehadiran cahaya sebagai bagian dari optimalisasi proses fotosintesis kehidupan.

Mantel hujan saya sudah beberapa hari ini tidak pernah kering. Masih kondisi basah sudah harus saya gunakan lagi besok harinya, sepeda moter 4Tak’ saya seakan tak pernah benar-benar kering setiap putaran rodanya, melaju kencang melintas membelah jalanan bekelok ditengah dinginya udara disepanjang kaki bukit, berkabut tepat diatas aliran sungai peusangan wilayah Aceh bagian tengah ini.

Hujan masih begitu awet saya pulang rumah sore hari sudah tidak ada tanda-tanda cahaya penerangan diruangan rumah. Ternyata kelistrikan sudah padam sejak pagi menjelang siang hari itu.

Hingga malam hari saya istri dan anak-anak hanya mengandalkan sisa batrai Handphone, cahaya senter dan beberapa lilin.

Tampa persiapan apa-apa, gelapnya semesta siang hari listrik masih belum ada tanda indikasi proses penormalan dilakukan, bahan makanan dimasak hanya mengandalkan sisa gas yang ada.

Saya terpaksa nge-charge handphone yang sudah lowbad dikantor karena Emergency  Diesel Genset masih dapat beropasi untuk operasional system administrasi unit saya.

Dampak dari Listrik padam ini juga  mempengaruhi operasional PDAM pada masyarakat secara merata, sehingga saya terpaksa menampung air hujan untuk kebutuhan dirumah tangga.

Mendung, hujan,tampa sulpay PDAM, tampa suplay listrik sama sekali, tampa koneksi internet, begitulah kenyataan. mau tidak mau harus kami jalani hingga berdampak keseluruh warga 2 kabupaten. Tidak banyak yang dapat kami lakukan, segalanya dari dalam rumah.

Terutama bagi anak-anak saya tidak dapat bermain sepeda bebas seperti biasanya, kasihan para bocah.

Tampa persiapan sama sekali hingga  hari ketiga EDG dikantor saya sudah tidak dapat beroperasi maksimal lagi dikarenakan minimnya ketersediaan bahan bakar. Mengharuskan saya sekeluarga untuk ikut merapat ke kantor bupati untuk ngecharge barang eletronik bersama ratusan warga yang lainya secara bergantian. Karena untuk kebutuhan pemerintahan utama, kantor bupati,rumah sakit, kantor polisi dan TNI power suplaynya khusus dari EDG pemerintahan kota tersendiri. Tentu saja itu semua bagian dari Objek Vital pemerintahan kabupaten. Kondisi emergensi seperti ini tidak ada pilihan bagi warga  selain merapat ke titik-titik objek vital tersebut.

Dari rekanan operator Gardu Induk Biuren-Peusangan saya dapat informasi bahwa system jaringan transmisi 150KV beberapa tower SUTT area Biuren ada yang tumbang akibat reposisi struktur tanah terhadap pondasi Tower line. Indikasinya disebabkan dampak besar karena curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari terkahir.

Saya berfikir jika tower transmisi 150 kv yang tumbang, “Ok fixs” saya harus segera mencari lilin lebih banyak, stok makanan lebih banyak. Karena dipastikan recovery system jaringan akan lebih lama, ditambah lagi  iklim dan kontur wilayah tidak begitu mendukung dalam proses perbaikan.

Sekedar info, sistem Gardu Induk peusangan menuju Gardu Induk takengon adalah jalur jaringan transmisi paling ujung (belum tersambung ke system jaringan dari arah line Sumatera bagian Utara*jalur tengah), artinya apa? jika satu line terputus maka dipastikan suplay kebutuhan listrik kabupaten Aceh tengah dan Kabupaten Bener Meriah terputus total.

Segenap kemampuan bertahan dari raturan ribu orang termasuk kami, terlewati sudah satu minggu dengan segala keterbatasan kami. Saya bersama anak-anak terpaksa mendi di aliran sungai setiap hari,cuaca masih belum stabil. Saya setiap hari harus manual angkut air dari sumur tetangga sebelah, untuk memenuhi kebutuhan memasak hingga kebutuhan MCK.

Minggu kedua kami jujur babak belur menjalani hari tampa listrik sama sekali, makanan dimasak dengan mengandalkan gas yang semakin menipis, ditengah situasi kelangkaan gas terjadi dimana-mana. Terkahir, berburu kayu bakar untuk memasak sudah manjadi opsi terakhir saya.

Dititik ini saya dan kita semakin menyadari begitu pentingnya energi dalam kehidupan.

Begitu pentingnya kehandalan system jaringan, begitu pentingnya management pembebanan disetiap Pembangkit, perlunya riset berkelanjutan dalam memprediksi setiap segala level gangguan yang mungkin datang terutama cuaca dan prediksi bencana alam.

Menjelang minggu kedua perusahaan Listrik Nasional Kita mengambil langkah pemasangan sistem ERS (Emergency Restoration System) di sebelah SUTT yang roboh ditengah kontur alam yang terbilang Ekstream wilayah Aceh bagian tengah, dari dataran tinggi hingga  ditepian jalur aliran sungai alam yang tidak mudah.


Terimakasih mari tetap terus bebenah.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie









 

 

Rabu, 19 Agustus 2026

Pazzle Waktu 25 “Kenapa saya mulai menulis lagi? “

Satu dekade sudah berlalu, sejak saya bercerita tentang “jejak langkah” di Blog pribadi saya, 10 tahun lamanya saya tidak ada menulis apapun.

Banyak hal bagi saya telah terlewati; teciptanya tatanan keluarga kecil bagaikan keajaiban bagi saya , banyak pola yang tak terprediksi yang dijalani,banyak tempat yang di jejaki, banyak topik menjadi konsep diri, bayak tawa, banyak tantangan baru, banyak pengalaman, inspirasi, hingga cerita perjalanan.

Saya fikir dalam perjalanan hidup kita akan selalu dihadiahi berupa pengalaman-pengalaman, lalu dari pengalaman itu saya menghasilkan ide lalu berbagi .

Sayangnya semuanya bagaikan Pazzle berserakan compang camping dan berantakan, tak tertata tak utuh dan tak ada rupa. Dari segenap upaya dan konsistensi diri, kali ini saya mencoba untuk mengapresiasi waktu yang saya lalui lebih Bernilai. pengalaman belasan tahun saya di Teknik Pembangkit Energi Listrik, perjalan dari satu tempat ketempat lain, berproses didalamnya ditengah latar belakang masa lalu yang tidak mudah.

Saya berharap dengan kesadaran penuh kesederhanaan ini dapat menciptakan dampak yang berarti bagi rekan-rekan pembaca hingga ke banyak orang. Sekecil dan seberapapun portofolio kita, saya fikir pentingnya untuk selalu percaya bahwa akan selalu ada Value tersendiri terselip disana.

Berupaya optimal di sisa usia adalah bagian dari misi mengalahkan musuh yang sesungguhnya yaitu versi kita dimasa lalu. Saya terpanggil untuk ambil peran dalam pertumbuhan sumber daya manusia yang lebih baik, arah yang lebih tersistemanis dan terkonsep.


Sampai jumpa lagi… :)

  

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 


Pazzle Waktu 24 “Takengon-Surga Tersembunyi “

Bertolak dari bandara Malikussaleh saya dan team perlahan terbangun lalu tertegun melintasi jalan berkelok dan lagi “langit lagi bagus bagusnya” biru terang hangat menyapa.

dari kejauhan terpampang kolosal  keren menyambut dan mengunci tatapan saya, sebuah danau hijau Tektovulkanik terbentang luas diam tentram tapi begitu cantik menawan,kombinasi apik antara pebukitan hijau berjejer disepanjang pinggiran danau,rimbunya pepohonan pinus  berlatar bukit berbatu cadas. seakan menvalidasikan kenyataan ke bola mata saya sekali lagi, “hey… selamat datang ditempat teristimewa Aceh bagian tengah ”.

Arah pandangan Tercapture Menyeruak diantara sudut rawa, diselimuti deretan rimbunya hutan pinus menjulang, dari jauh segerombolan bangau putih diketinggian terbang bebas formasi V lambaian sayapnya asik menikmati alam terbentang luas meisyaratkan rumah alami ini abadi bagi mereka.

15ÂșC menyapa bulu roma wajah saya aliran angin bersiul disudut daun telinga  perlahan mulai terasa dingin dan pasi, lalu berdengung efek perbedaan tekanan udara yang kini sudah tidak sama lagi,mobil yang kami tumpangi dengan gesit naik turun pebukitan hijau.

Hamparanya  tertata terbentang luas hijaunya kebun Arabica, terlihat jelas cecabang hingga rantingnya dipenuhi lumut alamani seakan tak diragukan lagi angka 1300 meter diatas permukaan laut cukup menjelaskan ekosistem disini pas ber-budidaya Kopi Arabica, sungguh tanah Gayo yang kaya dan menabjubkan.

Gemercik air segar ditengah sorakan anak-anak riang terjun di jembatan aliran sungai asir-asir mandi berenang asik mempesona, indahnya masa kecil. Dan juga beberapa diperahu karet bercorak orange beberapa orang semangat mengayuh dayung arung jeram disepanjang sungai peusangan. Berkelok-kelok indah menawarkan panorama dan view berkelas dan mahal ; hamparan petak sawah menghijau, pepohonan pinus tertata rapi, padang rerumputan disana bemain belasan kuda becengkrama.

Siluet menguning cahaya matahari sore menembus diatara dedaun pinus tinggi mendominasi kicauan burung dirayu angin sepoy menjelang magrib, menyajikan panorama memukau; kepadatan kota terlihat bak semut lalu lalang tepat bersebelahan danau Lut Tawar.  ini adalah sisi terbaik, tepat dari sini di “Bur Telege”. Sebutanya sebagai si surga tersembunyi, spot faforite utama bagi para pelancong.

Tak jarang juga subuh gelap gulita moment terbaik mencoba naik berkendara berketinggian 1600 MDPL arah Beureun, sesekali mengintip dan menikmati awan dibawah telapak kaki menyelimuti kepadatan kota hingga danau, inilah titik bernama Patang Terong menyajikan begitu nyata bahwa awan tak selalu jauh diatas sana, dan dari sini dibawah pijakan kita dapat melihat seluruh wilayah kota Takengon hingga danau dalam satu waktu. selamat datang para menyusuri pesona negeri diatas awan ini.

Salah satu View favorite saya adalah saat mengemudi jalanan bekelok indah dikaki bukit karang sisi kiri teluk mandele danau Lut Tawar, bukit karang terjal gagah menjulang  ditutupi hijaunya hamparan savana, berkombinasikan pepohonan pinus yang keren ditengah tekstur medan vertikal. Setiap saya melewati jalanan terbaik ini seakan saya tidak berada di Indonesia. Tapi saya berada di negeri nun jauh disana ; “New Zealand” atau “Kanada” bagaikan landscape di film The Lord of The Rings, pemandangan penuh kesan.

Warga yang ramah, tingkat keamanan tinggi serta budaya bersahabat.

Selamat datang di Kota Takengon Negeri cantik hampir paling Baratnya Indonesia. bergelar “Surga ditanah Gayo” juga “Surga ditas awan“ tepatnya berada dikabupaten Aceh tengah, Provinsi Aceh.

Hari ini tahun kedua berjalan saya dan keluarga tinggal di kota Takengon, bagi saya yang sudah belasan tahun tinggal di wilayah melayu cendrung beriklim panas. Disini tempat terbaik merasakan alam super alami, pastinya berasa liburan setiap hari.

Beberapa bulan yang lalu Aktor hebat Indonesia “Reza Rahardian” telah menyelesaikan shooting film Layar Lebar “Black Coffe” berlatar Takengon dengan berbagai view luar biasanya.

Mari kita tunggu film keren itu rilis, seberapa besar  yang digambarkan keindahanya? tetap saja merasakan secara langsung jauhh lebih keren dan mengesankan :)

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie