Beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah artikel yang seakan beneran nyubit saya. ia mengatakan bahwa generasi kita saat ini diasuh oleh algorima Tiktok dan Instagram sayangnya media itu hanya ngasih ke kita hanya sampah. Kita dalam 24 jam sehari diluar jobdesk ngerjain pekerjaan utama, malah dominan waktu kita habis untuk ngescroller media sosial yang pada dasar tidak ada habis dan hentinya. tampa kita sadari ia meng obok-obok lembut lalu mengambil Quality time kita secara perlahan hingga kita alfa dalam menghitung seberapa besarkah manfaatnya.
Kita tahu makin kesini tren distrupsi teknologi makin hampir tak bisa dibendung lagi, yang menjadi soal apakah spesifikasi kita versi hari ini mampu mengimbangi kemajuan dan pertumbuhan itu sendiri?.
Saya punya pandangan bahwa kali ini kita siap atau tidak dituntut untuk punya daya mampu lebih dari yang biasanya, kita diharuskan untuk dapat survive diberbagai situasi. Daya mampu yang hanya tidak sekedar menawarkan barang sebagai pedagang, menjadi guru di ranah pendidikan, bongkar mesin diranah mekanik, pelukis dibidang seni dan sebagainya.
Hari ini dalam tahap transisi manusia ke system robotik, kita dituntut untuk dapat menjadi manusia mutidimensi, bila selama ini kita punya skill bongkar dan pasang komponen mesin, tapi bagaimana kalo kita juga mengasah kemampuan management pemasaran plus ilmu negosiator. Basic disiplin ilmu kamu misalnya dibidang teknik gimana kalau asah juga kemampuan dibidang seni menulis, atau ngembangin skill bahasa asing. Atau bahkan kamu dibidang management ekonomi gak ada salahnya kalo kamu mulai belajar coding, dan lain sebagainya.
Saya setuju saran dan ide dari salah seorang Negarawan bangsa kita, “pilihan keluar dari satu dimensi adalah cara terbaik buat nutupun blind spot dihidup kita, disini akan tercipta warna dan versi yang unik dalam episode hidup kita, berpotensi akan menjadi inspirasi bagi anak atau cucu suatu hari nanti.
Masa depan kita bukan soal jago joget didepan kamera akan tetapi soal produktivitas dan koneksi internasional hingga berperan dalam komunitas orang-orang besar dan berpengaruh. Bila saya menyebut negara-negera tetangga yang makin naik kelas, faktanya memang mereka lebih baik dibidang penguatan mata uang, ekonomi perkapita, hak paten teknologi dalam negeri, hasil pertanian yang tidak main-main kwalitasnya. lalu bagaimana kita dibanding Singapura negara sebegitu kecil?, dari singapura bukan karena kita kalah pintar tapi karena mereka lebih fasih berkomunikasi dipentas Dunia.
Konsep “manisnya jus satu gelas itu berasal dari perpaduan komposisi kandungan gula didalamnya- jadi apa bila perpaduan manusia-manusia didalam suatu wilayah atau negara punya skill yang unggul serta daya mampu yang top, maka akan mempengaruhi kesejahteraan sistem dan tatananya ruang lingkup kenegaraan.
Saran dan ide sederhana saya kali ini mulailah kurangi main layar HP, tapi perbanyak membaca! tema apapun. dimana akan melahirkan sebuah persepsi dan sudut pandang baru; “oh hmm.. ternyata dunia itu tidak sesempit A, B, C ya”. Bila banyak membaca, banyak mendengar sudut pandang dari profile-profile berpengaruh dalam perkembangan dunia saat ini, terakhir belajar dan berlatih skill baru diluar zona kerjaan kita saat ini, saya selalu percaya hal kecil ini adalah bagian dari pertumbuhan sumber daya manusia indonesia yang menglobal.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”
Oleh: Farie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar