Terngiang suara pangilan tutur-tertata mengumandang mengisi dilangit-langit putih sepanjang Gate ini, pendingin ruangan menderu mengimbangi panasnya sisi luar Kualanamu, masih terasa terik seperti biasanya.
Saat menulis tulisan ini saya sedang duduk tenang salah satu pojok diruang tunggu keberangkatan. waiting flight saya kali ini tujuan kota Semarang lebih kurang satu jam lagi.
Jauh dari rumah seperti ini saya jadi sering kebayang masakan sang istri, salah satu masakan yang sering kali saya request sama istri tercinta adalah sayur Gulai pakis cabe hijau ikan “teri” dengan toping spesial beberapa potong jengkol (*toping spesial yang terkahir ini hanya untuk saya :) ) lalu berduel dengan adukan gorengan cabe merah ikan laut kriuk kecil-kecil yang menjadi faforitnya anak-anak.
Terakhir tak lupa ditemani kerupuk khas lebar-lebarnya,lengkap sudah. Makanan enak menu sederhana ini selalu terasa spesial bintang lima.
Ada kebiasan istri saya dan kluarga kecil kami yang mungkin sudah menjadi budaya hebat dari tahun ketahun dimana pun berada, saya tidak mengerti komplitnya formula dari campur tangan Allah SWT gimana setiap menetap di wilayah baru selalu ada aja tetangga yang bener-bener cocok dihati kami, baiknya bak keluarga kandung sendiri, bahkan lebih.
Apa yang dimaksut dengan “budaya” diatas, sekali lagi saya tidak begitu faham apakah karena fakator ini atau ada faktor lain. Istri saya paling senang berbagi makanan ketetangga tempat kami dimanapun tinggal, istri saya senang memasak, apa yang kami makan, persis itu yang dipisahkan kepiring lain dan itu yang kami bagi ketetangga sebelah.
Saya masih ingat kebiasaan ini sudah sedari sepuluh tahun yang lalu, sampe hari ini masih tetap sama tidak berubah.
Ada rasa bangga tersendiri ke istri masih berkomunikasi begitu baik dengan tetangga lama dulu, apa lagi tetangga setelahnya lalu yang hari ini. Tetangga yang baik ini merupakan rejeki tersendiri dalam tahapan hidup kami .
Kebiasaan sederhana tapi memberi pangaruh besar terhadap tatanan sosial, memperkokoh ikatan kepercayaan. Satu, dua, tiga dan seterusnya bila diakumulasikan bahkan malah kami yang sering menerima hantaran dari sana, sini. tidak melulu apa yang dimasak lalu dibagi sering juga yang dibeli tapi diniatkan untuk dibagi.
Rahasia kecilnya adalah Inisiatif memeberi terlebih dahulu. Menumbuhkan dampak kepedulian, kekeluargaan, menciptakan lalu menyambung rantai persaudaraan dalam bertetangga.
Saya ingat beberapa bulan yang lalu saat itu saya kebetulan sedang ada urusan pekerjaan di Luar kota, istri saya dan anak-anak kendaraan yang disetirnya ada masalah sekitar 20 meter sebelum sampai rumah.
Saya sedang tidak ditempat, tapi para tetanggalah yang bersama-sama inisiatif membantu sehingga kendaraan dapat normal kembali.. Alhamdulillah.
Lain lagi ketika bencana beberapa bulan lalu koneksi internet terputus saya masih ditempat kerja, tidak bisa memberi kabar kerumah, sehingga saya harus terlambat pulang. anak dan istri dalam kecemasan, tapi tetangga-tentanggalah yang menemani menghibur anak-anak dan istri saya shubhanallah, terimakasih.
Faktanya memang begitu kadang disaat yang tidak terduga ada masanya kita benar-benar butuh bantuan orang disebelah rumah yang kita huni. Maka mari kita bangun hubungan sebaik-baiknya terlebih dahulu terlepas itu kita memang banyak kurangnya, misalnya anak-anak sering ribut brantem, mungkin hanya sebatas itu sisanya mari optimalkan dengan kebaikan-kebaikan terlebih dahulu, tampa harus menunggu.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”
Oleh: Farie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar