Jumat, 22 Mei 2026

Pazzle Waktu 14 : "Saya berkarya dibidang apa?"

Pagi selalu menyuguhkan harapan baru untuk kita, pilihan baru, lembaran putih baru. Dimana pilihan itu bebas kita menulis diatasnya tinta baik atau buruk, rasa happy, syukur, kecewa, kesal, marah dan sebagainya.

Apa yang kita tanam setiap kali mata terbuka dipagi hari itu lah yang kita tuai siang-sore dan hingga tertutup mata kembali dimalam hari.

Hidup setiap harinya punya pola berulang realitasnya benar-benar tidak selalu sama, baik skala bulan hingga tahunan. Seringkali fase transformasi hingga lompatan diri mau tak mau selalu jadi pilihan dalam Road Map perjalanan hidup kita.

Tahun Ini sudah masuk tahun ke “Sebelas” dedikasi saya dalam ambil bagian dikorporasi pembangkitan ketenaga listrikan Negeri ini.

Lebih dari 10 tahun berpengalaman dibidang System pengoperasian pembangkitan ketenaga listrikan, saya fikir perlunya sharing ringan terkait apa yang saya alami, apa yang saya jalani beberapa tahun ini  menyangkut disiplin pekerjaan saya pastinya.

Bila kamu saat ini bisa membaca tulisan ini artinya kamu terkoneksi dengan internet, daya lapotop /handponemu saat ini bisa dilihat indikator persen batrai disudut kanan atas handphone atau sudut kanan bawah laptopmu. Nah .. angka persentase tersebut berkorelasi dengan pekerjaan saya saat ini :) .

Fakta, peran energi listrik saat ini adalah ujung tombak perputarnya gardan perekonomian bangsa ini, tampa listrik kita tidak bisa terkoneksi dengan internet dengan konstan, tampa listrik operational distribusi bahan bakar di spbu untuk kendaraan kita sehari-hari tidak berjalan dengan baik, tampa listrik industrialisasi makanan minuman terhenti, operasi pertambangan stop, pelayanan masyarakat dan lain sebagainya tidak akan optimal pasti. Kita menyadari begitu sangat krusialnya kelangsungan hidup kita terhadap Energi Listrik.


Proses komversi energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang saya dan kami lakukan mempunyai prinsip prinsip cukup komplite mulai dari prinsip rotasi turbin, prinsip HE diboiler CFB, proses floagulan coaguland water treatment plant, racikan ideal pembakaran batu bara di furnace, Up/Down load di CCR sesuai kebutuan daya pemakaian masyarakat.

Dan pastinya bagaimana prinsip recovery yang aman efektif saat gangguan system pembangkit kala datang menghadang.


Jadi tugas saya dalam “Memastikan” daya maksimal yang kita produksi kita salurka kesistem jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi, umumnya masih di 150kv. dari 150kv ini akan diatur lagi oleh team Gardu Induk dan dikomversi lagi ke 20 kv melalui penyulang-penyulang, lalu baru terhubung ke rumah yang kamu tinggali saat ini. Ngerecharge peralatan eletronik, sehingga kalian dapat membaca tulisan ini saat ini, Sipp!.

Dalam hal “memastikan” diatas ada kompleksitas parameter system yang hampir setiap saat kita monitoring mulai dari temperatur, pressure,load,frequency, flow, fibrasi, arus, kekeruhan, tingkat kejenuhan zat, tekstur, tegangan, noise, PH air, dan lain sebagainya.

Pekerjaan ini memiliki filosofi yang begitu  dalam bagi saya, karena pekerjaan ini saya ikut berperan dalam menerangi anak-anak saat membaca buku, belajar memahami sebuah ilmu kelak bermanfaat baginya. Berperan dalam pengerak usah para orang tua demi menafkahi keluarga tercinta dirumah, seorang ibu dapat memasak semangkok sub ayam hangat untuk sang buah hati yang ia sayangi.

Oke Sip!

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 

 Farieco

Minggu, 17 Mei 2026

Pazzle Waktu 13 : “DO MORE”

Pertengahan tahun 2025 lalu saya berkesempatan mengikuti pembinaan Management Leadership beberapa hari di kota Surabaya dan beberapa hari di Mojokerto Jawa Timur. Saya dan beberapa orang Team Leader dari  berbagai jenis pembangkit Listrik hampir dari seluruh Nusantara ikutan disini.

Program ini merupakan tahapan pengukuhan sertifikasi strukturalisasi dalam memanagament leader-leader Pembangkit ketenaga listrikan dalam penerapan core values perusahaan. Bagian dari misi optimalisasi dan efektifitas pengelolaan sumber daya manusia ruang lingkup Pembangkit masa depan yang aman, handal dan ramah lingkungan.

Menurut saya setiap leader punya peran sangat krusial dalam penerapan konsep pengawasan, bimbingan, penilaian dan pengembangan SDM dalam team. Kita dibekali materi prinsip dasar bukan lagi memposisikan diri sebagai pengeksekusi jobdesk dasar tapi lebih ke me-manegemeni setiap personil dalam team, menjaga kosistensi system agar tetap berkesenambungan lalu memastikan iklim dalam team berjalan sesuai dengan core values korporasi saat ini.

Leader yang ideal adalah punya integritas pastinya, lalu mampu memetakan potensial SDM yang ada dalam team, punya arah yang jelas dan terukur. pastinya mau “ngopi” berdiskusi secara terbuka dan secara personal dengan angota team.

Memberi ruang dan keleluasaan berekspresi yang optimal kepada anggota team, memenuhi haknya dalam menerima dan memberi saran yang membangun.

Team yang sehat tak lain adalah kombinasi dari leader selalu terkoneksi dengan anggota teamnya secara personal serta mereka yang punya rasa kepedulian, maka hal ini akan termanifestasi dalam memberi dampak terhadap korporasi secara keseluruhan.

 Banyak hal baru yang saya dapat dari program Leadership management periode ini, pemahaman lebih detail dan mendalam konsep jati diri seorang leader, efektifitas dan produksifitas adalah visi utama, tapi konsistensi dalam menjaga nilai-nilai budaya dalam team adalah pegangan utama, eksekusi reposisi berdasarkan potensi yang tepat pada SDM persionil adalah konci penting untuk mencapai keselarasan antara proses dan hasil akhir.

 Ada istilah keren dari seorang pemateri namanya pak Hendra beliau adalah seorang specialist Human Capital seorang Expert dibidang Pembinaan Inovasi korporasi, ia menyampaikan satu kunci penting dalam memimpin diri sendiri dan orang lain, saya fikir hal ini akan selalu relevan dengan profesi apapun dan dari kalangan manapun kita.

 “Do More” singkat padat tapi bermakna dalam, dalam sistem struktural koporasi jobdesk memang menjadi sebuah tanggaung jawab,tapi ada hal lain yang menjadi “Pembeda” antara si A , B, dan C.

 Do more/berbuat lebih, mungkin penerapan konsep ini yang sudah menjadi budaya bagi bapak saya dulu sebagai tukang bangunan sehingga yang punya Rumah puas dan berdampak ketetangga sebelahnya, sehingga “nama baik” itu meneyebar akhirnya belum selesai satu proyek borongan rumah sudah datang penawaran baru yang lain. 

Memahami pemaparan materi beliau perpaduan antara pengalaman, praktek dan penerima dampak realistis dari pak hendra, saya menjadi sering kali memasukan topik “do more” disela-selah obrolan saya dengan team saya. Pentingnya berbuat lebih diluar jobdesk wajib sehari-hari.

Saya percaya akselerasi dan pertumbuhan pengembangan diri akan tercipta lebih cepat, bila kita punya banyak opsi dan kemampuan.

Contoh sederhana, suatu hari seorang profesional muda perlahan pindah haluan menjadi pengusaha UMKM misalnya, di Dunia Usaha seseorang secara tidak langsung akan dituntut untuk menegerti banyak hal mulai dari ilmu produsi, ilmu promosi, ilmu managemen keuangan, ilmu pengadaan barang, ilmu negosisasi dan partnertship juga pemebrdayaan ilmu Teknologi informasi dan sebagainya.

Artinya ditengah dunia distrubsi teknologi yang semakin tak terbendung ini kita sebagai SDM handal wajib mampu untuk Berbuat Lebih dalam kerjaan apapun, agar tidak tertinggal semakin jauh dari kemajuan moderenisasi saat ini.

Apakah kita seorang Leader atau sebagai staft dalam team, apapun profesi kita dengan berbuat lebih akan memperpanjang deretan Portofolio untuk menjadi SDM yang handal. dengan itu membantu kita untuk menciptakan lompatan baru, lingkungan baru, negosiasi baru, dan  pengahsilan baru tentunya. 

Berbuat lebih’ hal ini juga akan berdampak pada orang-orang  sekeliling kita, minimal untuk pengembangan diri sendiri, semakin diasah potensi itu akan semakin tajam, semakin tajam maka semakin efektif dalam eksekusi problem solving.

Pada akhirnya itulah menjadi pemebeda antara kita dan orang lain.      

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie




 

 

Senin, 11 Mei 2026

Pazzle Waktu 12 : “Doa-doa pasukan Bintang dilangit”

Tengah kuliah berlangsung (Tahun 2009);

“bro ntar sore pulang kuliah kita lanjutkan kerjaan kemarin ya”  

“lansung ni”.. ? (jawab saya)

“Ya lansunglah” ,menghitung hari plafon gedung itu segera di instal jaringan kelistrikanya jadi mesti kita dikelarin kerjaan kita”

“oke siap! Gass”  jawab saya singkat.

Namanya Syahrul, teman baik saya masa kuliah paling hebat memasang instalasi listrik rumahan, Ruko/Gedung usaha. Saya banyak belajar dasar-dasar rangkaian listrik dari beliau ini, dia mampu menghitung dengan cermat seberapa kebutuhan kabel, pipa konduit, klam kabel, stop kontak, sakelar, lasdop dan lain sebagainya.

 Dari bebera job terealisasi instalasi jaringan listrik ini, pernah dapat kerjaan lantai dua disalah satu gedung Showroom Mobil di Jl. Khatip Sulaiman kota Padang.  

Gedung itu tengah proses Renovasi dibeberapa ruangan, otomatis perlunya perubahan jaringan instalasi kelistrikan.

 Pekerjaan yang dilakoni sepulang kuliah ini biasanya berlanjut hingga tengah malam, ini menjadi sebuah moment hebat tersendiri disudut hati saya hingga hari ini. tahap membobok, ngklem, nyambung kabel, instal pipa bolak balik kami lakukan naik turun plafon atas saling bantu merangkai jaringan satu sama lain.

Tepat dibelakang gedung itu saat istirahat sholat makan, saya terduduk mengamati beberapa orang karyawan kantor itu tengah berolah raga Badminton riang gembira. Jiwa muda saya, jiwa muda si anak desa yang punya lapangan outdor badminton dibelakang sekolah dasar dikampungnya kembali meronta-ronta menonton pemandangan seru terpampang nyata didepan mata, ingin sekali hati ikut bergabung disana, melompat lalu mengayunkan raket. Tapi, seakan semesta bilang “belum waktunya anak muda”.. tidak untuk sekarang” Sabar!.

Lagi saya sampaikan itulah hebatnya memorial dijaringan otak manusia.

Masih saja ingat moment-moment se sepele begini padahal sudah bertahun-tahun berlalu.

Kami pulang pukul 22 an malam, Bos kami meminta untuk sekalian membawa hasil puing-puing sisa Renovasi bangunan mengunakan mobil barang L300 ke simpang Gia Padang masuk kedalam. Segenap sisa tenaga, kami memuat sisa material tersebut ketruk barang itu, sisa-sisa lembaran gibsum plafon, sisa batu bata,sisa pasir bercampur semen.

Sepatu kuliah kami penuh debu, baju kaos  bermandikan keringat.

Kami terkapar diatas sisa-sisa material bangunan diatas truk berdebu itu, menengadah keatas menatap langit malam,  tangan sudah lembab badan rasanya bengkok remuk, kumal dan berkeringat.

Dua mata saya nanar menatap langit, nun jauh disana berkelap-kelip seperti pasir diatas sana  Gemintang bertaburan indah bak ribuan penonton distadion Oldtrafford Riuhh…. tepuk tangan ditimpali penuh sorakan, moment seorang Nani mencetak Gol spektakulernya :D.

Bintang-bintang keren itu seakaan menyemangati kami …  “anak muda bila kamu hargai yang kecil ini malam ini, besok  siap-siap terimalah yang lebih besar dan lebih terhormat lagi anak muda!.”

 

(Dalam hati saya) keren sekali bintang-bintang itu jauuh diatas sana ribuanjutaan Kilometer jaraknya dari truk ini.

Semua ini saya jalani demi dapat mengetik satu baris SMS di Handphone Samsung jadul saya ke bapak saya dikampung sana, tentunya dengan rasa Gagah dan Bangga;

 

 ” Pak ndak usah kirim duit dulu, untuk makan dan jajan seminggu ini masih ada”

 

Hanya satu baris, lompatan kecil itu tapi sangat-sangat bernilai bagi saya. Saya bisa merasakan suasana hati dan aliran darah bapak saya waktu membaca sepotong sms dari saya itu.

Sederhana, Hanya saya berfikir Gimana caranya  meringankan beban orang tua dikampung, dimana usianya yang sudah semakin menua dan membuat saya semakin kasihan.

Ada kalanya Aktifitas memuat membongkar sisa material renovasi gedung ini juga harus saya jalani seorang diri. Sakit ditangan tapi lega dihati, dapat menangani kebutuhan sendiri dengan keringat sendiri walau hanya bertahan untuk beberapa hari.

Ini menjadi suatu kebangganan tersendiri bagi saya, telah berhasil meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Mencoba menolak menjadi beban keluarga, tapi dapat membuktikan bahwa bisa berupaya sendiri, walau menyisakan lelah tak terkira, biasanya kerap ngantuk  besok paginya saat kuliah kelas teknik kami pekerjaan diam-diam tampa banyak yang tahu. bahkan oleh teman-teman kuliah sekelas saya.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Pazzle Waktu 11 : “Apakah kita dapat dipercaya”

Seperti biasa selesai kroscek Ams pagi, sembari menyeruput kopi hitam hangat agak sedikit pahit pagi ini. terlintas difikiran bagaimana seorang kuli bangunan dapat kerjaan laluberkelanjutan tampa jedah dan berkelanjutan.memakan waktu berbulan-bulan, belum selesai mengerjakan rumah A tapi sudah datang penawaran baru proyek rumah B.

Ya, ini bagian dari pekerjaan utama dari bapak kami pada masanya, menjejaki Pola bekerja pindah dari satu daerah kedaerah lain, dari satu rumah kerumah yang lainya.

Profesi mulia ini beliau lakoni sedari muda, misinya hanya satu bukan mengejar kekayaan, tapi memenuhi kebutuhan pangan kelurga. dan menyekolahkan anak-anak dengan baik, ya itu saja. Intregritas seorang tukang pembangun rumah bak Insinyur Arsitek hebat bagi kami, bagi beliau kepercayaan orang harga matibukan dari Gelar.  

Ada hal yang  paling selalu saya rindukan,bagaikan rindu yang tak berujung. banyak waktu yang kami habiskan kala duduk berdua bersama bapak kami. Paling berkesan itu pulang kerumahliburan Smester, bahkan pulang untuk sekedar cuti kala jauh bekerja merantau berbulan-bulan tidak pulang.

Dibawa bohlam lapu kuning temaram duduk didepan rumah obrolin topik random atau sekedar berkelakar ngaurmemaknai moment ngumpul bersama keluarga,moment kehangatan itu sekarang makin terasa begitu Mahal.

Salah satu topik yang masih kuat diingatan saya adalah “diluar sana Kepercayaan adalah koncinya untuk hidup ”

“Nilai Kepercayaan” Ini bagian dari Pazzle penting dalam perjalanan kecil saya, menjadi pegangan dasar bagi kami dalam menapaki hidup dimanapun,walaupun reallitasnya tak sedikit dari orang sekeliling kita malah mempermainkan kepercayaan yang kita berikan.

Saya tau penerapanya tak selalu semudah  yang diucapkan. Tapi dalam tahap proses hidup, mau tidak mau apa yang kita persembahkan selalu relevan dengan apa yang kita terima, kita akan perlahan mengerti begitu bernilainya sebuah kepercayaan.

Saya ingat dulu pernah bergabung sebuah kominitas seni disekolah, saya terbilang berkemampuan  paling biasa dalam team, tapi nilai tambah adalah saya paling kosnsisten dan paling Ontime saat jadwal latihan.

Setelah mengikuti Festival seni antar komunitas usai; hanya saya yang penerima sertifikasi penghargaan dalam team yang lain malah di hold sertifikatnya.

Kadang apresiasi itu muncul karena sebab yang begitu sederhana yaitu : “ secuil kepercayaan”.

Pada dasarnya Bapak saya bermodal kepercayaanrejeki proyek datang bergantian, hal ini menjadi tolak ukur bahwa bagi siapa saja dalam profesi apapun, sejauh mana kita dapat dipercaya dan sejauh mana daya mampu kita dalam menajaga kepercayaan orang lain pelangan misalnya /klien/stakeholder kepada kita?

Sebab..  dalam dunia sosial serba ketidak pastian ini, kepercayaan menjadi parameter krusial dalam tahap pertumbuhan kita ke arah yang lebih baik.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berati”


Oleh: Farie

  

Farieco

Pazzle Waktu 10 : “BADMINTON! Hobi saya”

Ada yang sama hoby kita?

 Masih sangat teringat dengan jelas, dulu… masih Sekolah Menengah Pertama dikampung saya; Selatanya Sumatera Barat, tepat dibelakang Sekolah Dasar legendaris kami. Inisiatif goro bersama pemuda desa kami, patungan dana dan terbentuklah sebuah lapangan Bulu Tangkis beton (outdor) satu-satunya dikampung kami.

 Tahun 2003-2004 an, keberadaan lapangan itu cukup begitu Keren dimasanya  khusus dimata saya. Sudah bak Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium bagi kami anak-anak kampung yang haus akan hiburan olahraga melepaskan keringat sepulang sekolah.

Dari pinggir lapangan ini selalu menjadi hiburan seru tiap sore sentero kampung kami, terutama saya dan teman-teman sebaya. pemuda hingga kalangan bapaQ-bapaQ. Di masa ini euforia badminton meracuni saya dan kami para bocah belia.

rasa penasaran menerawang dikepala saya waktu itu kenapa bisa dari sebatang raket dapat memantulkan bulu ayam berkecepatan tinggi?, saat itulah saya mulai suka kepo di Koran-koran  halaman olahraga hingga berita ditelevisi; tentang Tournament dari kejuaraan Dunia hingga Superseries, mengenal yang namanya Taufik Hidayat dan atlet lainya.

Entah kenapa mejadi hiburan keren kalo nontonin bapak-bapak main disore hari padahal saya hampir tidak pernah diajak main, karena memang tidak ada peralatan satu apapun :D. Masa itu jika memang ingin mencoba main badminton, tidak ada yang bisa dilakukan selain minjam raket ke teman.

Faktanya: tak selamanya bisa mengandalkan itu :( .

Sekian tahun berlalu. Hobi yang terpedam.

Hingga dibangku perkuliahanTamat, sudah mandiri tahun 2011 merantau. Dititik diaman saya sudah menghasilkan uang sendiri, disitulah saya baru mampu beli yang namanya “Raket sendiri”, “Sepatu sendiri”, “Seragam sendiri”.

Tapi memang, entah kenapa! “aneh bin Ajaib”, bila kita merasakan suatu berupa filling yang kuat-Hasrat/daya dorong begitu bergejolak terhadap sesuatu, sebaiknya itu dikomversi menjadi kenyataan. tidak butuh lama saya jadi pemain Badminton  cukup diperhitungkan dimasanya (di Perantauan).

Saya fikir Ini bagian dari merefleksi diri sisi gejolak jiwayang tersimpantertahan bertahun-tahun di dalam hati dipikiran saya. Tak peduli itu selama apapun tersimpan bahkan tertunda dalam jangka waktu yang begitu lama. Bila itu memang potensi diri, dia akan muncul kepermukaan dengan sendirinya.

Saya percaya  sang “Maha Desainer” sudah mengatur sedetail dan sekomplit mungkin system dasar bertahan dan adaptasi pada Manusia. kita dipersilahkan untuk bertebaran dimungka bumi ini dengan segala keberagaman kita, tapi selalu dikasih jatah senjataberupa Potensti untuk beraksi, kreasi, karya, ber- ekspresi dalam hidup, goalsnya  membawa manfaat orang lain. tapi apakah kita sudah menemukanya atau belum?

Jadi, saya percaya setiap manusia selalu ada hoby yang bisa dikomversi kebentuk portofolio Keren minimal untuk diri sendiri.

Menembus babak semi final IKPP CUP tahun 2012 tempat saya bekerja adalah salah satu pencapaian hebat saya dalam Olahraga Bulutangkis, dalam partai Ganda selalu ada partner yang membantu dan saling menguatkan.

LaluTahun  2016, 2017,2018 adalah masa juara 1 dan 2 jadi langganan di cevitas perusahaan Electrical company.

Tahun 2019 satu satunya pemain yang dikirim dalam keikut sertaan POR Pembangkit di Surabaya. Terkhir 2025 lalu juara 1 (Emas) di Super Series 750 antar Regional Se-Nasional Pembangkit kembali dihelat juga di Kota Surabaya.

Perjalanan yang kita minati masing-masing kita juga bervariatif, tingkat kompetitif yang sangat beragam. kita bisa mengambil kopetisi sesuai kelas dan ambang batas daya yang kita miliki.

Badminton tak hanya sekedar soal menang atau kalah, tapi dalam konteks yang sangat luas. Ada fakta menarik; dari badminton akan terbentuklah komunitas lalu terciptalah persahabatan dan kekeluargaan baru.

Sejauh ini bagi saya barangkali jumlahnya ada ratusan lebih sudah menjadi keluarga baru terjalin hingga saat ini. sebagian besar karena bulu tangkis, setiap menetap disatu daerah selalu ada kelurga baru, begitu seterusnya hingga hari ini alhamdulillah.

Pada akhirnya muncul pertanyaan penting “ Jadi…  kapan kita Mabar” ? hehe

walau fisik tak sekuat dulu, lompatan tidak setinggi yang dulu, tetapi setidaknya bermain untuk berkeringat, tertawa  bareng dipinngir lapangan  sambil ngopi.

Misi demi Merawat, Memperkokoh tali Persaudaraan kita  Insyallah saya masih bisa. :D


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Pazzle Waktu 9 : “Filosofi bapak; sekolah adalah jalan terbaik nak”

Suhu 16 ยบC pagi ini terasa begitu dingin, efek sisa proses pelepasan panas bumi keadmosfer secara maksimal dari tengah malam hari, nah paginya matahari baru terbit tuh, dikondisi ini masih terasa begitu dingin jadi wajar temperatur pagi hari itu dingin terasa menusuk tulang, apalagi disini di dataran tinggi diangka  +1200mdpl.

 

Sesampai dimeja kerja saya melihat beberapa belasan kertas yang minta di tandatangani oleh devisi umum, karena saya kebetulan penganti manager unit yang tengah dinas hingga weekend.

Dengan penuh syukur misi pagi ini tertuntaskan tau kenapa? Kolaborasi yang Apik saya bersama isri tercinta setiap paginya; sarapan tuntas, kesekolah dan kekantor  ontime anak happy rumah pun bersih pencapaian hebat kami untuk mengawali hari ini Alhamdulillah.

Mana yang lebih baik pendidikan dini dibangku sekolahan  atau terlibat sedini mungkin dalam usaha mencari nafkah keluarga?

Saya cukup paham, Kita punya latar sosial, lingkungan, suku, prinsip, ekonomi, variatif dan beragam. Hal ini lah akan mempengaruhi pilihan mana yang akan menjadi prioritas hidup kita bahkan hal itu dituntut saat kita sedari kita kecil.

Saya jadi teringat dulu tahun 1997  waktu itu masih di Sekolah Dasar si bapak bilang “Sekolah adalah jalan terbaik saat ini nak”  kalimat yang terucap ini terdengar biasa. tapi mengandung makna yang sangat dalam. Ada luka dari sudut sudut huruf yang terucap dari nya, Tersirat gugup dari paras seorang laki-laki tua yang kenyang akan asam garam kehidupan. Keras likunya jalan hidup masa mudanya dalam menapaki jalur fisikal, jalur manual berbatu, jalur pekerja buruh yang lelahnya tak berujung. Ini lah menjadi dasar yang membaja kokoh tak bisa ditawar-tawar lagi bagi revolusi masadepan anak-anaknya kelak.

Pendidikan adalah jalan, beliau adalah seorang  pecinta sejarah dulu waktu kecil sering cerita banyak tentang negara, politik dan sosok pemimpin. beliau selalu bilang kalo sekolah itu kita bisa begini begitu, kalo kuli ada duit tapi kita akan sulit berkembang. Ujung-ujungnya seperti kami orang tua kalian.

Itu lah bapak kami, ditahun 1990 an anak-anaknya diwajibkan sekolah minimal SMA, itu nazarnya.jadi hukumnya Wajib.

Dari sudut pandang ini saya menilai bukan berarti tidak menempuh pendidikan sekolah bukan beberti tidak lebih baik masa depanya. Tapi menurut saya dengan pendidikan sekolah mengajarkan kita secara kontinue pembentukan karakter- pondasi diri, bila penerapan dari system yang benar ini akan berpotensi masimal hasilnya. Tapi beberapa yang terjadi penerapan yang tidak tepat ini yang jadi soal pada dunia pendidikan.

Masa mudanya banyak hal yang membuat dia terluka--menyesali dirinya yang hanya tamat Sekolah menengah pertama, beliau kerap kali bekerja sebagai kuli bangunan dirumah orang kaya mampu dasisi ekonomi disana dia belajar apa sebenarnya dari sisi formula.

Ya , Pendidiakan adalah dasar awalnya, harapan besarnya agar dapat memeperbaiki kehidupan generasi selanjutnya.

Dengan keterbatasan ekonomi keluarga yang luar biasa, beliau berdarah-darah, cidera, mecari uang untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan pangan kelurga tetap berjalan beriringan.

Allah SWT selalu kasih jalan bagi kepala keluarga yang sungguh-sungguh memperjuangkan istri dan anak-anaknya  yang dicintainya setiap kebuntuan kesuliatan menghadang. entah kenapa selalu ada jalan keluar, berbagai macam tantangan yang dihadapi orang tua saya.  

Pada tahun 2011 tepat lebih dari 30 tahun menyekolahkan 6 orang anak-naknya hingga benar-benar lempas dan hidup mandiri.

Salah satu moment yang mengharukan ditahun itu adalah tertunaikanya “Nazar” Pahlawan terbaik kami itu terhadap anak-anaknya, berhasil menyelesaikan tingkat SLTA apalagi sudah bekerja dan mandiri. maka dikurbankan seekor kambing pada setiap anak lalu dioleskan darah kambing itu ke punggung kaki setiap anak-anaknya. Sebagai bentuk simbol rasa syukur atas tercapainya  misi besar  dalam Hidupnya.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat sebesar-besarnya kepada Almarhum bapak kami Pejuang kami, kasih cinta pengorbanan yang tak terkira demi keluarga besar demi anak-anaknya yang  begitu ia sayangi.

Lantas bagaimana dengan ibuk saya? Ada jutaan kesetiaan, pengorbanan dari beliau. tak terkira versi perjuanganya seorang ibu. Semoga sehat selalu orang tua kami tersayang.

Bapak kami lulusan SMP pada masanya, lalu ibuk kami hanya sampai kelas 2 Sekolah Dasar. But Amazing anak-anak dan cucu2nya 99% lulusan Perguruan Tinggi dan diantaranya S2/Magister  (komposisinya; PNS, dan beberapa bekerja diperusahaan-perusahaan Kritikal di Negeri ini) .

Kita manusia punya rencana bahkan cita-cita dan impian, lalu kita menjaga merawat rencana itu seutuhnya walau langkahnya maraton hingga terseok-seok, lalu Yang Maha Pencipta mengaminkan menjaga mereka yang bernaung didalamnya konsistensi dalam  hari, bulan, tahunan bahkan puluhan tahun. kemudian terwujud dengan baik, bahkan melebihi dari apa yang di impikan selama ini.

Ini lah sepotong Pazzel kisah dari tekat kuat dari seorang bapak jauh dari masa lalu, ini akan menjadi tolak ukur bagi saya demi pendidikan generasi setelah saya.

Mental Generasi yang berbeda, dengan basic penerapan formula yang sama , sederhana dari bapak kami.     


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Pazzle Waktu 8 : “Lompatan Pertama saya”

Masih jelas diingatan ini. Siang itu masih sama seperti biasanya; panas, kering, begitulah Kota Padang. Pada Tahun 2008 itu adalah minggu pertama saya dikota berjulukan “Kota Pendidikan itu”.

Masih bersisa memar goresan ranting dilutut kanan saya saat seminggu lamanya mengumpulkan getah karet dikaki bukit kebun sibapak. Lalu kemudian dijual ke para toke sebelum berangkat ke Kota Padang via Bus (dulu masi beroperasi beberapa Bus “Legendaris” seperti Putri Tunggal dkk), uangnya dikumpulin lalu dibelikan untuk sepasang sepatu, baju dan sepotong celana.  

Itulah hebatnya “ ingatan yang berkesan”, sudah belasan tahun yang lalu tapi masih segar diingatan detailnya: membeli baju kaos kerah bergaris horizontal bewarna cokelat, celana levis kebiruan dibubuhi sablon dipaha depanya, lalu sepasang sepatu kombinasi les putih dan cokelat.

Ini lompatan pertama saya pasca menyelesaikan SLTA adalah saat itu berjarak 116 Kilo Meter dari rumah. Berangkat dari keluarga yang sanagat biasa biasa saja, saya selalu punya keinginan untuk melakukan sesuatu danopsinya adalah keluar dari zona ternyaman saya. 2008 di kota Padang dengan kesadaran penuh dan segenggam tekat dihati  “saya punya pilihan untuk bertumbuh” (itulah cikal bakal beberapa tahun kedepanya sibuk mencari uang tambahan di sela perkuliahan).

Mengenakan pakaian baru yang saya usahakan sendiri itu adalah modal awal, si pria yang berusaha memastikan semua itu bisa diupayakan asalkan siap capek dari hari biasanya.

Dari dulu entah kenapa saya menaruh minat pada yang namanya membaca, ketika menikmati buku dari paragraf satu ke paragraf berikutnya ”seakan-akan begitu nyata “saya sedang nongkrong santai sambil ngeroko’ plus ngopi ngobrol dengan sipenulis secara lansung”. bercerita tentang segela hal pengetahuan yang dimilikinya. Ngobrol lintas pemahaman ilmu,generasi, zaman,budaya, sosial dan sebagainya, ya hanya sama saya.” Jika di tanya buku apa yang bagus untuk dibaca dari deretan buku yang sudah saya selesaikan dari sepanjang SMA dan Kuliah, kembali keawal tergantung selera masing-masing, Non fiksi maupun fiksi selelu punya pesonanya sendiri. sisi lain karena memang saya suka sekali baca, faktor itu juga dipengaruhi oleh orang orang sekeliling kita, hal ini juga berlaku pada banyak hal.

 Awal awal menjajal hidup sendiri di tahun 2008 di kota Padang, saya masih ingat kerap kali duduk lama dibeberapa tempat toko bacaan keren seperti Gramedia dll. Salah satu management toko jadi fovorite saya, bungkus plastik buku paling atasnya selalu dan “sengaja” dibiarkan terbuka agar pelanggan bisa baca, kondisi ini selalu saya manfaatkan untuk mengambil “pokok topik” disana. saya juga suka beli buku bekas/majalah dipasar loak, lantai dua pasar raya. terlihat usang tapi ilmu didalamnya tak pernah using tak kan lekang oleh waktu.

 Banyak sekali moment-moment hebat tak terlupakan awal-awal lopatan itu saya eksekusi. mengosongkan gelas diri untuk siap menampung pengalaman ditengah hiruk pikuk kota terbesar di sumatera barat itu. Saya sadar keterbatasan senjata ditangan, tapi Allah SWT Maha adil selalu kasih alasan untuk kita dari pintu lainya, untuk tidak mundur minimal mencoba bertahan.

 

Tahun 2008 itu sudah 18 Tahun yang lalu, saya tahu ditahun itu belum tentu relevan dengan tahun 2026 ini, tapi tak pernah terbayangkan setelah lompatan pertama itu mungkin sudah puluhan lompatan besar berkesan secara pribadi terlalu Alhamdulillah.

Apa yang kita dapat? pengalaman, materi, family, pertemanan, itu semua adalah “Nilai” yang sangat berati sebab hal-hal yang sudah terlewati itu sudah pasti gak bakal bisa kita ulang lagi baik bentuk momentum dan rasa yang sama.

Tapi hari esok selalu memeberikan hal baru versi terbaru dan kenangan yang baru. Tahun 2008 balum kenal yang namanya Video call, Google, Yutube, Video game, Space X ,AI  yang saat ini perkembangnya serta Nilai Impec dipasar global sangat besar melampui yang dibayangkan manusia pada tahun itu.

Beberapa tahun kedepan bisa dbayangkan bagaimana ledakan kemajuan teknologi semakin mengila, dan faktanya! kita hari ini kita semua dituntutut untuk bisa mengimbangi transformasi inovasi tersebut, bila tidak maka akan semakin tertinggal.  

Jadi teman-teman saya suka membaca saya percaya kita semua juga punya sesuatu yang keren dan hanya kalian yang tau apa itu. Mari mulai dari yang sederhana, bertumpu dan bertopang pada apa yang kita suka, ayunkan badan ciptakan gerakan dan daya dorong untuk menentukan target sederhana dengan mereposisi dari kita dari yang sebelumnya.

Apakah itu kebiasaan,disiplin,sosial,pendidkan,hoby, usaha dan lain sebagainya.    


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco