Siang hari dipenghujung November tahun 2025 (Bencana Alam Aceh). Langit Aceh Tengah masih terlihat setengah menghitam,mendung. matahari hampir nyaris tak mampu menujukan wajahnya, malu-malu dan klorofil dedaunan begitu rindu akan kehadiran cahaya sebagai bagian dari optimalisasi proses fotosintesis kehidupan.
Mantel hujan saya sudah beberapa hari ini tidak pernah kering. Masih kondisi basah sudah harus saya gunakan lagi besok harinya, sepeda moter 4Tak’ saya seakan tak pernah benar-benar kering setiap putaran rodanya, melaju kencang melintas membelah jalanan bekelok ditengah dinginya udara disepanjang kaki bukit, berkabut tepat diatas aliran sungai peusangan wilayah Aceh bagian tengah ini.
Hujan masih begitu awet saya pulang rumah sore hari sudah tidak ada tanda-tanda cahaya penerangan diruangan rumah. Ternyata kelistrikan sudah padam sejak pagi menjelang siang hari itu.
Hingga malam hari saya istri dan anak-anak hanya mengandalkan sisa batrai Handphone, cahaya senter dan beberapa lilin.
Tampa persiapan apa-apa, gelapnya semesta siang hari listrik masih belum ada tanda indikasi proses penormalan dilakukan, bahan makanan dimasak hanya mengandalkan sisa gas yang ada.
Saya terpaksa nge-charge handphone yang sudah lowbad dikantor karena Emergency Diesel Genset masih dapat beropasi untuk operasional system administrasi unit saya.
Dampak dari Listrik padam ini juga mempengaruhi operasional PDAM pada masyarakat secara merata, sehingga saya terpaksa menampung air hujan untuk kebutuhan dirumah tangga.
Mendung, hujan,tampa sulpay PDAM, tampa suplay listrik sama sekali, tampa koneksi internet, begitulah kenyataan. mau tidak mau harus kami jalani hingga berdampak keseluruh warga 2 kabupaten. Tidak banyak yang dapat kami lakukan, segalanya dari dalam rumah.
Terutama bagi anak-anak saya tidak dapat bermain sepeda bebas seperti biasanya, kasihan para bocah.
Tampa persiapan sama sekali hingga hari ketiga EDG dikantor saya sudah tidak dapat beroperasi maksimal lagi dikarenakan minimnya ketersediaan bahan bakar. Mengharuskan saya sekeluarga untuk ikut merapat ke kantor bupati untuk ngecharge barang eletronik bersama ratusan warga yang lainya secara bergantian. Karena untuk kebutuhan pemerintahan utama, kantor bupati,rumah sakit, kantor polisi dan TNI power suplaynya khusus dari EDG pemerintahan kota tersendiri. Tentu saja itu semua bagian dari Objek Vital pemerintahan kabupaten. Kondisi emergensi seperti ini tidak ada pilihan bagi warga selain merapat ke titik-titik objek vital tersebut.
Dari rekanan operator Gardu Induk Biuren-Peusangan saya dapat informasi bahwa system jaringan transmisi 150KV beberapa tower SUTT area Biuren ada yang tumbang akibat reposisi struktur tanah terhadap pondasi Tower line. Indikasinya disebabkan dampak besar karena curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari terkahir.
Saya berfikir jika tower transmisi 150 kv yang tumbang, “Ok fixs” saya harus segera mencari lilin lebih banyak, stok makanan lebih banyak. Karena dipastikan recovery system jaringan akan lebih lama, ditambah lagi iklim dan kontur wilayah tidak begitu mendukung dalam proses perbaikan.
Sekedar info, sistem Gardu Induk peusangan menuju Gardu Induk takengon adalah jalur jaringan transmisi paling ujung (belum tersambung ke system jaringan dari arah line Sumatera bagian Utara*jalur tengah), artinya apa? jika satu line terputus maka dipastikan suplay kebutuhan listrik kabupaten Aceh tengah dan Kabupaten Bener Meriah terputus total.
Segenap kemampuan bertahan dari raturan ribu orang termasuk kami, terlewati sudah satu minggu dengan segala keterbatasan kami. Saya bersama anak-anak terpaksa mendi di aliran sungai setiap hari,cuaca masih belum stabil. Saya setiap hari harus manual angkut air dari sumur tetangga sebelah, untuk memenuhi kebutuhan memasak hingga kebutuhan MCK.
Minggu kedua kami jujur babak belur menjalani hari tampa listrik sama sekali, makanan dimasak dengan mengandalkan gas yang semakin menipis, ditengah situasi kelangkaan gas terjadi dimana-mana. Terkahir, berburu kayu bakar untuk memasak sudah manjadi opsi terakhir saya.
Dititik ini saya dan kita semakin menyadari begitu pentingnya energi dalam kehidupan.
Begitu pentingnya kehandalan system jaringan, begitu pentingnya management pembebanan disetiap Pembangkit, perlunya riset berkelanjutan dalam memprediksi setiap segala level gangguan yang mungkin datang terutama cuaca dan prediksi bencana alam.
Menjelang minggu kedua perusahaan Listrik Nasional Kita mengambil langkah pemasangan sistem ERS (Emergency Restoration System) di sebelah SUTT yang roboh ditengah kontur alam yang terbilang Ekstream wilayah Aceh bagian tengah, dari dataran tinggi hingga ditepian jalur aliran sungai alam yang tidak mudah.
Terimakasih mari tetap terus bebenah.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”
Oleh: Farie
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)





