Selasa, 21 Juli 2026

Pazzle Waktu 23 “Pentingnya Efektivitas ”

Aroma kopi Arabica dimeja saya masih begitu smerbak khasnya, pagi ini agak berkabut. embun masih seperti biasa bagaimana berupaya menjadi seorang ayah yang benar-benar optimal setiap waktu yang diberikan baik pekerjaan rumah maupun kerjaan saya dikantor. harapan yang sama terhadap anak-anak bersekolah dengan produktif dan aktif baik dalam penyerapan ilmu maupun latihan-latihan keterampilan, besar harapan saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya.

Pagi ini saya dan kita semua mengawali berbagai ragam aktivitas harian sesui Jobdesk masing-masing. Berangkat dari hal yang sederhana dan saya punya pandangan, apakah saya benar-benar sudah bekerja secara efektif selama ini? Apakah energi saya justru lebih banyak terbuang kehal-hal yang dampaknya “Nol”?

Sekarang saya melihat perbedaan semakin siknifikan dari beberapa Negara tetangga khususnya Singapura serta gebrakan China, contoh yang paling sederhana; saya sebagai pecinta badminton dari kecil dimana saya selalu ngikutin perkembanganya dari awal tahun 2000 an (*Lin Dan dan Taufik Hidayat waktu itu masih begitu sangat muda) hingga hari ini!.

artinya lebih kurang sudah 26 Tahun yang lalu, apa faktanya?  selalu China yang mendominasi badminton dipentas Dunia. Ini baru “satu bidang” belum lagi soal “teknologi”, “budaya”, “hiburan”, “pembangunan” “energi terbarukan”, “otomotif”, “robotik” hingga “produk dalam negerinya” bahkan kita rasakan dan kita pakai hingga hari ini, betul?.

saya melihat salah satu kunci dari negara China adalah Negara yang memiliki Evektivitas tinggi.

Kenapa Efektifitas ini begitu krusial dalam sebuah perusahaan atau negara? ada beberapa hal yang saya fikirkan adalah;

Persaingan global ketat-Faktanya negera besar seperti Amerika, China , Jerman, Rusia saat ini negara-negara maju ini semakin gencar berlomba dalam inovasi teknologi, kecepatan produksi, Sumber Daya Manusia yang unggul, menekan biaya produksi, disinilah penentu siapa yang paling Efektif dimana dapat mencapai hasil yang paling maksimal dengan sumber daya yang minim.

Lalau bagaimana dengan indonesia?

Sumberdaya terbatas kebutuhan tidak terbatas-kita semua tahu mulai dari waktu,energi,SDM,Uang, semua itu sangat terbatas. sementara kebutuhan manusia hampir tidak ada batasnya.

Contohnya Perusaan Toyota sangat terkenal dengan sistem Produksinya Lean Manufacturing yang sangat terkenal efesien,dan kamu tau sendiri Indonesia salah satu pasar terbesarnya Toyota :) ,  contoh lain Amazon unggul dengan logistiknya sangat efektif dan terotomatisasi.

Lalu Kecepatan perubahan teknologi saat ini -dimanan AI,Big data,Energi terbarukan memaksa dan mendorong kita semua untuk ikut upgrade skill diri ,bila tidak Efektif dalam beradaptasi maka suatu perusahaan atau negara akan tertinggal.

Misalnya Korea Selatan dan Singapura mereka itu sangat fokus pada efisiensi system pedidikan dan industrialisasinya dimana agar selalu relevan dengan perkembangan global saat ini.

Menurut saya produktivitas adalah manivestasi dari kekuatan ekonomi-Artinya adalah dinegara maju kekuatan tidak selalu diukur dari SDM atau produktivitas perorangan, akan tetapi efektivitas akan meningkatkan Outpun per jam kerja, stabilitas ekonomi nasional, daya saing global, maupun nilai tambah ekonomi.

Terkahir adalah Era Digital menuntut presisi tinggi-saat ini kita tuh kerja sangat dituntut semuanya harus berbasis data, benar? korelasinya dimana? Contoh ketika suatu hari para Top management corporate mengeksekusi sebuah keputusan nah keputusan tersebut dipilih dan dibuat berdasarkan Analisis real time, Otomasi sistem, dan AI prediksi, artinya kita dituntut dalam pengambilan sebuah keputusan tidak boleh lambat dan tidak boleh salah arah. Jadi mari lakukan perubahan kecil itu terus berkelanjutan, dan efektivitas kecil itu kita mulai dari hari ini, dari sendiri.  :)

  “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 Oleh: Farie

 

 

Pazzle Waktu 22 “Bus Legendaris Kisah Sipenolong Ijazah tahun 2002-2008"

Dari kejahuan sebuah bus bewarna merah melewati kampung kami, berseragam putih biru dongker dan tas dipunggung saya perlahan mendekat pinggir jalan lalu melambaikan tanggan 50 meter sebelum bus mengarah check point titik saya berdiri.

Jam 7 pagi masih begitu terasa dingin, udara segar seakan bergelantungan lalu bergerilia dimana bangku-bangku kosong bus ini. pagi yang cerah ini adalah awal tahun ajaran baru tahun 2002 Dinas pendidikan Agama Sumatera Barat tingkat Mts.N. sekitar 24 tahun yang lalu, terbilang jauh dari modernisasi seperti saat ini.

Waktu menunjukan pukul 14:00 wib setelah melaksanakan sholat berjamaah sebagai bagian dari rutinitas sebelum kami pulang sekolah (saya yakin rutinitas ini hingga hari ini masih berjalan dengan baik bahkan lebih systematis dan terstruktur). saya dan beberapa teman yang lain seiring memisahkan diri dari gerombolan yang notabene teman-teman saya domisili disekitaran sekolah kami. Gadung surian adalah salah satu daerah hampir paling ujung perbatasan wilayah solok hampir ujung bagian selatan. kali ini mengharus saya sedikit keluar dari desa saya lebih kurang 10 KM setiap hari pulang dan pergi mengunakan oplet maupun Bus antar daerah hingga Kota.

Bus legendaris ini waktu itu ada beberapa unit, umumnya rute kota Padang-Solok selatan, maupun Kab Solok-Solok Selatan. Mereka barangkali sudah beroperasi sejak tahun 90 an.

Putri Tunggal, Suliti Indah, Gunung talang begitulah fond besar didepan kaca bus legendaris kebanggan saya tersebut. Ada lagi mungkin tapi saya sudah lupa.

Ada hal paling berkesan dari para sopir bus ini ia menegerti kebutuhan anak-anak sekolah kampung kami. Yaitu tidak akan bisa berangkat sekolah kalo bukan bersama bus yang melintas dikampung kami, makanya mereka selalu berhenti didepan anak sekolah setiap harinya. sebab oplet tidak rutin atau bahkan nyaris tidak ada kecuali hari-balai atau hari pasar .

Bus ini selalu berhenti didepan rumah saya, umumnya jam pulang sekolah bila bus penuh saya harus berdiri bergelantungan hingga sampai dirumah kembali. Ada yang bisa nebak berapa biaya bus/oplet tahun anak sekolahan awal tahun 2000 an? Benar sekali.. “500 Rupiah”!  :).

Waktu terus berjalan tampa saya rencanakan naik turun bus-bus kebanggan saya ini tiap hari berlangsung hingga Enam tahun kemudian (sampai Lulus Sekolah Menengah Atas). satu hal yang masih memebekas difikiran saya dimana moment beberapa bulan setelah saya lulus sekolah 2008.

Bak kisah dipulau Hokkaido tepatnya stasiun Kami-Shirataki Jepang, dimana di sebuah desa terpencil ada seorang siswa masih mengunakan jasa kereta api untuk berangkat dan pulang sekolah disetiap harinya. Padahal rute itu hampir tidak ada lagi penumpang, akhirnya perusahaan kereta api jepang berencana menutup permanen rute kami-shirataki tersebut demi efisiensi.

Lalu management KAI mereka dapat kabar dan mengatahui sebuah fakta dimana masih ada satu orang siswa tengah menempuh pendidikan dan memanfaatkan rute  kereta itu tiap hari, pada akhirnya perusahan kereta api memutuskan menunda penutupan jalur kereta di desa tersebut dan menunggu hingga siswa tersebut menamatkan sekolahnya. Setelah menamatkan sekolah rute kereta Kami-Shirataki resmi di tutup secara permanent.

Tahun 2008 beberapa bulan setelah saya menamatkan sekolah Tingkat SLTA bus-bus legendaris kebanggaan saya itu total stop beroperasi secara permanent. Saya tidak tau pasti penyebab semua bus Solsel-Padang tersebut tidak lagi beroperasi sama sekali hingga hari ini.

Tahun 2002-2008 adalah masa-masa transisi pola hidup saya setiap hari tak lepas dari angkutan umum, bergelantuangan dipintu bus maupun oplet. masih terekam jelas diingatan saya bagaimana keseharian kernek dan sopir lintas kota-daerah setiap hari hidup sepanjang jalanan, wajah-wajah sopir dan kernek bus legendaris ini masih tercatat difikiran saya hingga hari ini. Saya kirimkan doakan terbaik semoga para penyelamat ijazah saya, para penyelamat episode penting dalam hidup saya sehat-sehat selalu bersama kelurga tercinta hari ini hingga kemudian hari aamiin.

Masa SMA saya sering sendiri dipojok pojok jalanan duduk berjam-jam, karena saya termasuk siswa terjauh dari titik sekolah, jadi sangat jarang ada angkot atau oplet rute kekampung saya.

Bus adalah satu-satunya andalan saya setiap harinya.  

Merindukan dari begitu banyak moment pulang sekolah duduk dipinggiran jalan ditengah hujan begitu lebatnya basah kuyup sesampai dirumah pulang larut magrib. Tau kenapa? Karna saya ketiduran dibus karena saya kelelahan hingga terlewat jauh dan jauh dari titik pemeberhentian  yang seharusnyan didepan rumah wkwkw… :D

 “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Jumat, 03 Juli 2026

Pazzle Waktu 21 “ Kenapa Transisi Energi harus dilakukan?”

Dulu waktu kita dibangku SMP barang kali masih ingat istilah dari “Hukum Kekekalan Energi”?, dimana Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahka, akan tapi bisa diubah dari satu bentuk kebentuk lain, begitulah sifat energi itu sendiri. Jadi sang Pencipta ngasih modal buat kita manusia hidup di planet bumi ini sungguh diselimuti oleh berbagai macam jenis sumber energi yang begitu besar. dan itu semua dapat dioptimalisasikan dalam hal memenuhi kebutuhan dan kelansungan hidup kita, dan pada dasarnya kita tidak bisa hidup tampa bantuan energi itu sendiri, sip!

Jenis pembangkit energi listrik saat ini berupa PLTU, PLTA, PLTS, PLTMG,PLTGU,PLTP, PLTN dan sebagainya. Berbagai jenis pembangkit energi tersebut dibangi menjadi 2 katagori Energi terbarukan dan energi fosil atau/tidak terbarukan. Data terakhir dinegara kita saat ini kapasitas terpasang energi listrik adalah sebesar 107 GW dimana 15 GW diantaranya adalah pembangkit energi baru terbarukan, dan itu masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Kenapa ini perlu saya bahas? karena Indonesia punya target dalam mengenjot pembangkit energi baru terbarukan(EBT) sebagai bagian dari transisi energi menuju Net Zero Emession (NZE) paling lambat realisasinya pada tahun 2060 bahkan lebih cepat.

Paris Agreement 2015 adalah dasar utamanya komitment Internasional soal ini, bertujuan menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 1,5°C - 2°C.

Dalam Nationally Determined Contributions: Setiap negara diwajibkan menyerahkan rencana aksi penurunan emisi secara berkala, yang memaksa mereka membuat target NZE, nah disini Indonesia paling lambat realisasi NZE di tahun 2060.

Artinya apa? Pembangkit listrik kita saat ini di indonesia faktanya masih didominasi oleh jenis pembangkit fosil atau PLTU (berbahan batu bara). Bahan batu bara ini secara internasional dinilai menghasilkan emisi cenderung merugikan dan berdampak negatif terhadap perubahan iklim dunia.

Secara perlahan dan berkelanjutan setiap negara harus melakukan transisi energi ke energi yang lebih ramah terhadap lingkungan. Misalnya optimalisasi pembangkit energi air, energi gas bumi, energi surya,  energi panas bumi, energi angin, laut, nuklir dan sebagainya.

Satu sisi saya melihat bahwa target transisi ini akan berdampak terhadap perlunya banyak Sumber Daya Manusia handal dan kopeten dibidang pembangkit listrik berbasis multi energi. Karena rentang waktu realiasinya sekitar 30an tahun lagi, mungkin proses realisasi hingga eksekutornya nanti adalah anak -anak kita sebagai generasi penerus. Ini bisa menjadi landasan konkrit bagi kita para orangtua bahkan pemerintah dalam mempersiapkan manusia-manusia yang relevan terhadap perwujudan EBT.

Saya melihat disini ada Opportunity lapagan pekerjaan baru bagi anak-anak muda berbakat dan berkopeten dalam bidang operasional pembangkitan energi. Dan hal ini saya sangat percaya dan begitu sangat relefan terhadapan pentingnya STEM bagi para penerus kita.

Dan data menunjukan kebutuhan energi nasional kita dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ayo semangat!


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



 

 

Kamis, 25 Juni 2026

Pazzle Waktu : 20 “Manusia Multidimensi”

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah artikel yang seakan beneran nyubit saya. ia mengatakan bahwa generasi kita saat ini diasuh oleh algorima Tiktok dan Instagram sayangnya media itu hanya ngasih ke kita hanya sampah. Kita dalam 24 jam sehari diluar  jobdesk ngerjain pekerjaan utama, malah dominan waktu kita habis untuk ngescroller media sosial yang pada dasar tidak ada habis dan hentinya. tampa kita sadari ia meng obok-obok lembut lalu mengambil Quality time kita secara perlahan hingga kita alfa dalam menghitung seberapa besarkah manfaatnya.

Kita tahu makin kesini tren distrupsi teknologi makin hampir tak bisa dibendung lagi, yang menjadi soal apakah spesifikasi kita versi hari ini mampu mengimbangi kemajuan dan pertumbuhan itu sendiri?.

Saya punya pandangan bahwa kali ini kita siap atau tidak dituntut untuk punya daya mampu lebih dari yang biasanya, kita diharuskan untuk dapat survive diberbagai situasi. Daya mampu yang hanya tidak sekedar menawarkan barang sebagai pedagang, menjadi guru di ranah pendidikan, bongkar mesin diranah mekanik, pelukis dibidang seni dan sebagainya.

Hari ini dalam tahap transisi manusia ke system robotik, kita dituntut untuk dapat menjadi manusia mutidimensi, bila selama ini kita punya skill bongkar dan pasang komponen mesin, tapi bagaimana kalo kita juga mengasah kemampuan management pemasaran plus ilmu negosiator. Basic disiplin ilmu kamu  misalnya dibidang teknik gimana kalau asah juga kemampuan dibidang seni menulis, atau ngembangin skill bahasa asing. Atau bahkan kamu dibidang management ekonomi gak ada salahnya kalo kamu mulai belajar coding, dan lain sebagainya.    

Saya setuju saran dan ide dari salah seorang Negarawan bangsa kita, “pilihan keluar dari satu dimensi adalah cara terbaik buat nutupun blind spot dihidup kita, disini akan tercipta warna dan versi yang unik dalam episode hidup kita, berpotensi akan menjadi inspirasi bagi anak atau cucu suatu hari nanti.

Masa depan kita bukan soal jago joget didepan kamera akan tetapi soal produktivitas dan koneksi internasional hingga berperan dalam komunitas orang-orang besar dan berpengaruh. Bila saya menyebut negara-negera tetangga yang makin naik kelas, faktanya memang mereka lebih baik dibidang penguatan mata uang, ekonomi perkapita, hak paten teknologi dalam negeri, hasil pertanian yang tidak main-main kwalitasnya. lalu bagaimana kita dibanding Singapura negara sebegitu kecil?, dari singapura bukan karena kita kalah pintar tapi karena mereka lebih fasih berkomunikasi dipentas Dunia.

Konsep “manisnya jus satu gelas itu berasal dari perpaduan komposisi kandungan gula didalamnya- jadi apa bila perpaduan manusia-manusia didalam suatu wilayah atau negara punya skill yang unggul serta daya mampu yang top, maka akan mempengaruhi kesejahteraan sistem dan tatananya ruang lingkup kenegaraan.

Saran dan ide sederhana saya kali ini mulailah kurangi main layar HP, tapi perbanyak membaca! tema apapun. dimana akan melahirkan sebuah persepsi dan sudut pandang baru; “oh hmm.. ternyata dunia itu tidak sesempit A, B, C ya”. Bila banyak membaca, banyak mendengar sudut pandang dari profile-profile berpengaruh dalam perkembangan dunia saat ini, terakhir belajar dan berlatih skill baru diluar zona kerjaan kita saat ini, saya selalu percaya hal kecil ini adalah bagian dari pertumbuhan sumber daya manusia indonesia yang menglobal.  

   

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Pazzle Waktu 19 “Bubur kacang hijau Spesial untuk Istri"

Tetesan embun di ujung bumbung pelan jatuh konstan diatas ubin pelataran halaman, lalu mengalir menyusuri tepian pagar, suara cit-cit cuit burung girang menyambut pagi kontras masih menyisakan gelapnya malam. Dinginnya udara subuh seakan saya begitu engan membuka lembaran daun pintu, suhu subuh ini barangkali dipastikan 14ÂșC kebawah, tinggal diwilayah 1300 MDPL merupakan hal biasa sedingin ini. Hunian kami menghadap kesudut cakrawala ufuk Timur, disana terarsir siluet orange seakan memberi tanda bermulainya hari ini, hari baru, tenaga baru, dan yang pasti opportunity baru.

Hari ini adalah hari minggu, udara dingin pagi nyilu menusuk tulang, sholat subuh selesai biasanya kita kembali menarik selimut menetralkan sisa air wudhu selalu bikin kaku. Hari minggu adalah hari spesial buat saya istri dan anak-anak. Senin- sabtu berjibaku subuh, beres-beres, berangkat sekolah anak-anak sekalian saya antar sebelum berngkat kekantor. Aktivitas berulang melelahkan bagi anak-anak agar tetap belajar disekolah seperti biasanya. Jadi hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu anak-anak, agar dapat sedikit lebih santai, bangun sedikit lebih siang. yes!

Progres diawal pagi seperti biasa beresin area ruangan lanjut sisa mainan para bocah, satt!! sett.!!bak seperti “Hayabusa” sang Assassin, saya lanjut meluncur ke pasar pagi terdekat, berburu bahan-bahan: kacang hijau, santan kelapa, ubi jalar dan beberapa  bahan pencampur lainnya. Sampai dirumah langsung Kacang hijau direbus hingga mengembang, cemplungin sepotong jahe, lalu santan aduk perlahan, garam secukupnya aduk hingga mendidih, menyusul takaran gula, vanile secukupnya dan potongan dadu ubi jalar merah. Dan terkahir tak lupa dua helai daun pandan, sip!.

Ada sebuah fakta bahwa Istri saya begitu suka dengan bubur kacang hujau buatan saya ini, tapi menu ini saya masak di hari-hari tertentu saja. Menu ini sekilas terkesan begitu sederhana tapi spesial tastenya manis bak bintang lima bagi kami. Istri saya perlahan terbangun dan hidangan ini sudah saya suguhkan di atas meja makan, kenikmatan hidangan hangat dihari minggu bersama istri tersayang. hanya kami yang dapat merasakan nikmatnya, manisnya bubur kacang hijau spesial.

Kadang apa yang saya buat istri begitu suka lalu bikin nagih minta buatkan lagi, walau saya hanya bermodalkan filling tambah rekomendasi tutorial dalam hal memasak. Satu hal lagi yang barangkali ini berlaku pada banyak para Pria dimungka bumi;

 

“kalo udah didapur yang dimasak sedikit, tapiiii…. perlengkapan masak di whastafel numpuknya segaban”.. hehe. Mohon maaf ssstttt….! :D

     

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 



 

Pazzle Waktu: 18 “Pentingnya Energi dalam pertumbuhan ekonomi”

Sejarah sudah mengajarkan banyak hal kepada kita, negera-negera yang terlibat langsung pada Perang Dunia I dan II seperti Jepang, Jerman, Inggiris, Rusia, Prancis, Amerika Serikat serta sekutunya. Faktanya menunjukan mereka semuanya adalah Negera-negara Industrialis, rata-rata negara-negera ini memiliki alasan yang sangat masuk akal dalam misi mengusai suatu wilayah bahkan aekelas Negara lain, yes! Jawabanya adalah  “kualitas dan kapasitas negara mereka yang begitu mendukung.

Disini saya melihat pola yang serupa pada negara-negera ini, unggul dalam optimalisasi Energi dalam membangun negerinya sendiri, menjadi Negara yang kuat mandiri dan sangat berkapasitas.

Muncul Pertanyaan bagaimana dengan Indonesia tercinta? Saya lebih dari 10 tahun telah mengambil peran di industri Energi nasional punya beberapa pandangan.

Tahun 2026 ini saya melihat ada pola menarik bagaimana proses transisi Energi, efeknya pelan tapi pasti dimana beberapa ratusan tahun yang lalu energi minyak bumi menjadi begitu sangat primadona. kita masih bisa merasakan hasil dari produk turunanya berupa bahan bakar kendaraan kita sehari-hari, bahkan hingga hari ini.

Dunia teknologi dan industrialisasi terus melakukan permbaharuan dan perbaikan mengejar efesiesi dan efektifitas.

Kita tahu kemunculan berbagai industri kendaraan ternama perusaan raksasa contoh gampangnya Tesla dan BYD mereka dengan Visi yang jelas disupport teknogi yang sangat canggih, system aplikasian operasi sangat kopleks itu dimana system penggeraknya mayoritas terelektrifikasi secara energi dasar, bukan lagi bergantung pada produk turunan minyak bumi layaknya kendaraan komvensional.

Point ini ngasih  catatan kepada kita bahwa efisiensi, efektifitas,harga ekonomis,tingkat proteksi tinggi, Auto operasi dan pastinya ramah lingkungan menjadi opsi utama masyarakat dunia saat ini.

Lantas bagaimana indonesia saat ini? Indonesia punya kapasitas energi listrik atau elektifikasinya terpasang lebih kurang 107.000 Mega Wat (Sumber Data Satisitik PLN tahun 2025) dimana beban puncak nasional total sekitar 61.287 MW.

Artinya dengan kapasitas terealiasasi ini sudah Oversulpply atau surplus. Dengan kapasitas energi berlebih ini muncul pertanyaan baru, apa yang harus kita lakukan dalam misi optimalisasi energi dan korelasinya dalam percepatan pertumbuhan ekonomi Negeri?

Pandangan saya adalah “Industrialisasi Opportunity”, pemodal dan pengusaha perlunya eksekusi usaha berbasis system pengolahan hasil pertanian misal tingkat provinsi-kabupaten, menjadi produk jadi, sekali lagi “produk jadi” siap ekspor! Artinya kita didaerah tidak lagi sibuk berkecipung dengan barang mentah lagi. Surplus energi ini tidak hanya di pulau jawa, tapi dipulau sumatera dan pulau lain juga surplus.

Jadi industrialisasi bukanlah sebuah ancaman akan tetapi bagian dari langkah pertembuhan ekonomi menuju negara mandiri. Negara Tiongkok (China) total terpasang pembangkit listrik negaranya sebesar 3.487.000 Mega Wat, bisa dibayangkan bagaimana seriusnya pergerakan industrilasisi dalam negerinya demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara mereka.

Saya bisa bayangkan bagaimana ribuan jenis pertanian kita yang selama ini di eksport dalam kondisi bahan mentah, tapi bagaimana kita olah didalam negeri sendiri menjadi barang jadi. Baru kita eksport barang jadi berkwalitas tinggi, ini akan berpotensi terbentuknya akselerasi dirantai nilai.

Surplus dari eletrifikasi negara kita saat ini secara rata-rata perkapita faktanya masih jaduh dibawah  dari rata-rata elektrifikasi perkapita pada negara maju pada umumnya, hal ini akan saya bahas di lain waktu.

Saya mengerti bagaimana kolpleksitas pemenuhan standarisasi internasional khususnya barang jadi untuk dijual keluar negeri tidaklah mudah, akan tetapi selagi dukungan dan kebijakan birokrasi pemerintah yang Total, saya percaya selalu ada jalan.    

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide serta dampak yang berarti” 

Oleh: Farie

 


 

Rabu, 03 Juni 2026

Pazzle Waktu : 17 “Surga itu Ada di Lombok”

Riak ombak kecil menari  indah bermain diatasnya busa-busa acak seakan tidak ada habisnya, ombak kecil itu menyapu hamparan samudra mendominasi, dan kapal yang saya tumpangi ini terasa begitu mungil dilautan ini. berpegangan disisi-sisi outdor penumpang saya menikmati laju angin begitu kecang, perlahan tapi pasti  merombak arah poni rambut saya yang tadinya cukup tertata.

Lekang panas terik tepat diatas kepala saya bila lama dipastikan dapat segera membuat kulit memerah lalu gelap.

Langit biru cerah mengagumkan memanjakan mata saya perlahan berbinar. Dalam hati saya pun terjadi perdebatan laut wilayah barat vs timur “masih jauh cantikan laut timur pasti”…ini bagi saya yang nota bene asli orang daratan Sumatara ini.

Pebukitan savana tampak berjejer saling menyambung, hijau bercorak kekuningan itu  seakan didekap oleh biru pekatnya langit. Alam disini sekan berbisik asik ditelinga saya “  hay..selamat datang kawan disurganya timur, menikmati hamparan alam termahal yang mungkin saja di wilayah barat tidak kamu temukan kawan”….

dalam hati saya pun menjawab “ .. ok baik” (sambil mengangguk yakin).

Tahun 2024 lalu, kala saya satu bulan di kota Sumbawa Besar, waktu senggang weekand saya bersama (*Mas andri dan mas Agung), malakukan perjalanan mandiri dari Sumbawa menuju Lombok. Dua wilayah ini berada dalam satu provinsi yang sama. Keduanya kira-kira berjarak 170 KM. Kami menggunakan angkutan umum dari Sumbawa besar lalu menyemberang dari pelabukan Poto Tano menuju pelabuhan Kayangan Lombok.

Tips dan cara paling efektif untuk menyusuri alam lombok? yap! menyewa kendaraan roda empat pas di Lomboknya. Lebih leluasa dan mudah, hal pertama yang saya tangkap dari pulau ini  adalah“keramahan warganya” mungkin hal ini menjadi alasan kuat dalam menarik minat wisatawan berdatangan ke wilayah cantik ini, hmm .. faktor yang masuk akal.

Jujur saja Terlalu banyak titik berkelas dan super menarik untuk didatangi di pulau ini, alhasil kami hanya dapat memilih beberapa saja karena libur hanya dua hari.

Desa Sade, Sirkuit Mandalika Internasional, Pantai Kuta lombok, dan Senggigi Beach dll. Ada point-point penting moment yang tak lekang oleh waktu dikepala saya, disetiap tempat keren itu. Desa Sade rumah adat unik budaya leluhurnyaa masih  terawat hingga hari ini, Sirkuit Balap F1 berstandar Dunia dimana View hamparan pebukitan savana dan lautan biru hebat tak kepalang, birunya pantai kuta air laut pepasir putih memanjakan mata seakan mensimulasikan begini lho surga dunia didepan mata, menikmati mie rebus di pinggiran jalan berkelok dibawahnya karang dan lautan seakan tak berujung.

Wajar saja lombok adalah salah satu destinasi kelas Dunia dan wilayahnya itu ada diNegera kita tercinta Indonesia bruuh.. B-), bila saya tuangkan dalam 10 halaman tentang detail yang berkesan di Lombok saya yakin tidak akan cukup teman”.

Saya duduk dibawah pohon rindang kala menatap jauhh hingga sudut cakrawala dalam hati kecil saya berkata:  “istri dan tiga bocah saya dirumah suatu hari nanti harus kesini”, mereka juga harus lihat begitu hebatnya apa yang aya lihat hari ini ” 

Saya mencoba melihat dari sudut padang yang berbeda, lombok adalah wujud optimalisasi warga dan pemerintahnya terhadap anugerah spesial dari sang Maha Cinta Maha Keindahan. jejeran Villa gacor di sepanjang pingiran pantai. titik medan magnet bagi para pemilik Dolar, pastinya pemodal handal misi utama berinfestasi dipulau ini. Inilah terjemahan yang sesungguhnya dan termanifestasi bahwa “Ranah Wisata” itu sangatlah Bernilai.

Valuenya tak terbatas bagaikan intan permata bagi pera pemburu ketenangan hati, hiburan, gejolak pertumbuhan ekonomi, Bisnis, kestabilan Kas daerah, Promosi wisata Nasional dan semua itu tetap berjalan berkeseimbangan dan berkesenambungan.   

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide serta dampak yang berarti”


Oleh: Farie