Senin, 01 Juni 2026

Pazzle Waktu: 16 “Tetangga yang Baik”!

Terngiang suara pangilan tuturtertata mengumandang mengisi dilangit-langit putih sepanjang Gate ini, pendingin ruangan menderu mengimbangi panasnya sisi luar Kualanamu, masih terasa terik seperti  biasanya.

Saat menulis tulisan ini saya sedang duduk tenang  salah satu pojok diruang tunggu keberangkatan. waiting flight saya kali ini tujuan kota Semarang lebih kurang satu jam lagi.

Jauh dari rumah seperti ini saya jadi sering kebayang masakan sang istri, salah satu masakan yang sering kali saya request sama istri tercinta adalah sayur Gulai pakis cabe hijau ikan “teri” dengan toping spesial beberapa potong jengkol (*toping spesial yang terkahir ini hanya untuk saya :) ) lalu berduel dengan adukan gorengan cabe merah ikan laut kriuk kecil-kecil yang menjadi  faforitnya anak-anak.

Terakhir tak lupa ditemani kerupuk khas lebar-lebarnya,lengkap sudah. Makanan enak menu sederhana ini selalu terasa spesial bintang lima.

 

Ada kebiasan istri saya dan kluarga kecil kami yang mungkin sudah menjadi budaya hebat dari tahun ketahun dimana pun berada, saya tidak mengerti komplitnya formula dari campur tangan Allah SWT  gimana setiap menetap di wilayah baru selalu ada aja tetangga yang bener-bener cocok dihati kami, baiknya bak keluarga kandung sendiri, bahkan lebih.

Apa yang dimaksut dengan “budaya” diatas, sekali lagi saya tidak begitu faham apakah karena fakator ini atau ada faktor lain. Istri saya paling senang berbagi makanan ketetangga tempat kami dimanapun tinggal, istri saya senang memasak, apa yang kami makan, persis itu yang dipisahkan kepiring lain dan itu yang kami bagi ketetangga sebelah.


Saya masih ingat kebiasaan ini sudah sedari sepuluh tahun yang lalu, sampe hari ini masih tetap sama tidak berubah.

Ada rasa bangga tersendiri ke istri masih berkomunikasi begitu baik dengan tetangga lama dulu, apa lagi tetangga setelahnya lalu yang hari ini. Tetangga yang baik ini merupakan rejeki tersendiri dalam tahapan hidup kami .

Kebiasaan sederhana tapi memberi pangaruh besar terhadap tatanan sosial, memperkokoh ikatan kepercayaan. Satu, dua, tiga dan seterusnya bila diakumulasikan bahkan malah kami yang sering menerima hantaran dari sana, sini. tidak melulu apa yang dimasak lalu dibagi sering juga yang dibeli tapi diniatkan untuk dibagi.

Rahasia kecilnya adalah Inisiatif memeberi terlebih dahulu. Menumbuhkan dampak kepedulian, kekeluargaan, menciptakan lalu menyambung rantai persaudaraan dalam bertetangga.


Saya ingat beberapa bulan yang lalu saat itu saya kebetulan sedang ada urusan pekerjaan di Luar kota, istri saya dan anak-anak kendaraan yang disetirnya ada masalah sekitar 20 meter sebelum sampai rumah.

Saya sedang tidak ditempat, tapi para tetanggalah yang bersama-sama inisiatif membantu sehingga kendaraan dapat normal kembali..  Alhamdulillah.

Lain lagi ketika bencana beberapa bulan lalu koneksi internet terputus saya masih ditempat kerja, tidak bisa memberi kabar kerumah, sehingga saya harus terlambat pulang. anak dan istri dalam kecemasan, tapi tetangga-tentanggalah yang menemani menghibur anak-anak dan istri saya shubhanallah, terimakasih.

 

Faktanya memang begitu kadang disaat yang tidak terduga ada masanya kita benar-benar butuh bantuan orang disebelah rumah yang kita huni. Maka mari kita bangun hubungan sebaik-baiknya terlebih dahulu terlepas itu kita memang banyak kurangnya, misalnya anak-anak sering ribut brantem, mungkin hanya sebatas itu sisanya mari optimalkan dengan kebaikan-kebaikan terlebih dahulu, tampa harus menunggu.        


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

 

Farieco


Pazzle Waktu : 15 "Setiap anak itu hebat"!

Pernahkah kita merasa anak kita belum bisa ini, belum bisa itu seperti anak si A, atau anak si B.? Pernah? Oke saya juga ,

Beberapa dekade yang telah terlewati,  pertama saat saya posisi sebagai anak sekolahaan, kedua perguruan t hingga hidup mandiri diperantauan, lalu dekade terkahir punya keluarga kecil.

Tahap-tahap yang terlewati saya merasakan satu hal ternyata karakter anak itu terbentuk tergantung  lingkunganya, itu point satu.

Anak-anak akan berkembang berdasarkan lingkungan yang kita suguhkan saat ini. lalu pertanyaanya seberapa besar korelasinya antara lingkungan vs tingkat kemampuan dasar sang anak?


Hubunganya sangat berkesanambungan satu tahun terakhir ini sejak anak kedua saya masuk taman kanak-kanak, sang Istri dan saya punya program pribadi buat bocah ini; selama TK harus bisa membaca, wajib iqro’ 6, bisa main sepeda mandiri roda dua, mandiri urusan MCK, kemampuan hitung-hitungan dasar wajib bisa, ayat-ayat pendek, sholat berjamaah sama-sama minimal magrib dan isa. Hari ini anak ini baru masuk smester 2 TK tapi semua  target diatas sudah hampir tuntas olehnya.

Artinya baru beberapa bulan berjalan!

Dulu awal-awal saya sempat terfikir “anak ini bisa ga ya”… “dia mampu ga ya, tugas dan tantangan yang kami berikan”?

Seringkali kita sebagai orang tua meragukan kemampuan anak, pada dasarnya anak kecil itu jauh lebih fokus, kecepatan dan daya savenya jauh lebih efektif dan cepat dari kita, bahkan instingnya lebih baik dari kita sebagai orang tua. Walau tingkat kesabaran anak-anak cenderung masih relatif rendah, kekurangan dalam proses belajar ini lah kita sebagai orang tua buat ngebackupnya. Khususnya istri saya yang sangat luar biasa efortnya serta kelembutanya dalam mendidik anak-anak.


Saya mengabi banyakl pelajaran, balita itu hebat, anak kecil itu hebat. Awal-awal pengajaran/latihan kita akan menghadapi penuh penolakan, rengekan dan tantruman. Tapi bila konsiten terus pelan-pelan mereka akan ikut, perlahan mengerti, dan pada akhirnya memahami apa yang kita contohkan. Faktor pola pengemasan pengajaran kita ternaya juga mempengaruhi kecepatan anak dalam memahami. Terutama istri saya punya banyak trik jitu dan menarik .  


Ada segudang pengelaman manis bersama anak-anak yang akan menjadi kenangan henat nanti setelah mereka mulai beranjak besar, mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Hari ini saya juga semakin memahami nilai dari lego yang selalu berserakan terlihat saat pulang kerja, udah ratusan kali mereka mainkan pazzle-pazzle yang tak utuh lagi itu, krayon pensir warna yang sudah tak lengkap lagi warnanya, hingga boneka legendaris yang dipakaikan pampers itu :) .

Saya dan istri yang masih terus belajar dalam memaksimalkan gimana memenuhi kebutuhan happynes sebagai haknya anak-anak dimasa kecilnya, kebutuhan bermain sambil belajar.

Saya ingin suatu saat ketika bocah-bocah hebat ini sudah mandiri (*lalu kami berjauhan). Mereka selalu merindukan masa kecil mereka yang penuh kenangan manis dan bernilai, menjadikan suatu kerinduan berkepanjangan bagi mereka, hanya pulang kerumah adalah satu-satunya obat pelipur lara di hati mereka, berkumpul bersama kluarga.

 

Sukses dan sehat-sehat selalu istri saya tercinta dan para orang tua dimanapun berada.

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 


Jumat, 22 Mei 2026

Pazzle Waktu 14 : "Saya berkarya dibidang apa?"

Pagi selalu menyuguhkan harapan baru untuk kita, pilihan baru, lembaran putih baru. Dimana pilihan itu bebas kita menulis diatasnya tinta baik atau buruk, rasa happy, syukur, kecewa, kesal, marah dan sebagainya.

Apa yang kita tanam setiap kali mata terbuka dipagi hari itu lah yang kita tuai siang-sore dan hingga tertutup mata kembali dimalam hari.

Hidup setiap harinya punya pola berulang realitasnya benar-benar tidak selalu sama, baik skala bulan hingga tahunan. Seringkali fase transformasi hingga lompatan diri mau tak mau selalu jadi pilihan dalam Road Map perjalanan hidup kita.

Tahun Ini sudah masuk tahun ke “Sebelas” dedikasi saya dalam ambil bagian dikorporasi pembangkitan ketenaga listrikan Negeri ini.

Lebih dari 10 tahun berpengalaman dibidang System pengoperasian pembangkitan ketenaga listrikan, saya fikir perlunya sharing ringan terkait apa yang saya alami, apa yang saya jalani beberapa tahun ini  menyangkut disiplin pekerjaan saya pastinya.

Bila kamu saat ini bisa membaca tulisan ini artinya kamu terkoneksi dengan internet, daya lapotop /handponemu saat ini bisa dilihat indikator persen batrai disudut kanan atas handphone atau sudut kanan bawah laptopmu. Nah .. angka persentase tersebut berkorelasi dengan pekerjaan saya saat ini :) .

Fakta, peran energi listrik saat ini adalah ujung tombak perputarnya gardan perekonomian bangsa ini, tampa listrik kita tidak bisa terkoneksi dengan internet dengan konstan, tampa listrik operational distribusi bahan bakar di spbu untuk kendaraan kita sehari-hari tidak berjalan dengan baik, tampa listrik industrialisasi makanan minuman terhenti, operasi pertambangan stop, pelayanan masyarakat dan lain sebagainya tidak akan optimal pasti. Kita menyadari begitu sangat krusialnya kelangsungan hidup kita terhadap Energi Listrik.


Proses komversi energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang saya dan kami lakukan mempunyai prinsip prinsip cukup komplite mulai dari prinsip rotasi turbin, prinsip HE diboiler CFB, proses floagulan coaguland water treatment plant, racikan ideal pembakaran batu bara di furnace, Up/Down load di CCR sesuai kebutuan daya pemakaian masyarakat.

Dan pastinya bagaimana prinsip recovery yang aman efektif saat gangguan system pembangkit kala datang menghadang.


Jadi tugas saya dalam “Memastikan” daya maksimal yang kita produksi kita salurka kesistem jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi, umumnya masih di 150kv. dari 150kv ini akan diatur lagi oleh team Gardu Induk dan dikomversi lagi ke 20 kv melalui penyulang-penyulang, lalu baru terhubung ke rumah yang kamu tinggali saat ini. Ngerecharge peralatan eletronik, sehingga kalian dapat membaca tulisan ini saat ini, Sipp!.

Dalam hal “memastikan” diatas ada kompleksitas parameter system yang hampir setiap saat kita monitoring mulai dari temperatur, pressure,load,frequency, flow, fibrasi, arus, kekeruhan, tingkat kejenuhan zat, tekstur, tegangan, noise, PH air, dan lain sebagainya.

Pekerjaan ini memiliki filosofi yang begitu  dalam bagi saya, karena pekerjaan ini saya ikut berperan dalam menerangi anak-anak saat membaca buku, belajar memahami sebuah ilmu kelak bermanfaat baginya. Berperan dalam pengerak usah para orang tua demi menafkahi keluarga tercinta dirumah, seorang ibu dapat memasak semangkok sub ayam hangat untuk sang buah hati yang ia sayangi.

Oke Sip!

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie

 

 Farieco

Minggu, 17 Mei 2026

Pazzle Waktu 13 : “DO MORE”

Pertengahan tahun 2025 lalu saya berkesempatan mengikuti pembinaan Management Leadership beberapa hari di kota Surabaya dan beberapa hari di Mojokerto Jawa Timur. Saya dan beberapa orang Team Leader dari  berbagai jenis pembangkit Listrik hampir dari seluruh Nusantara ikutan disini.

Program ini merupakan tahapan pengukuhan sertifikasi strukturalisasi dalam memanagament leader-leader Pembangkit ketenaga listrikan dalam penerapan core values perusahaan. Bagian dari misi optimalisasi dan efektifitas pengelolaan sumber daya manusia ruang lingkup Pembangkit masa depan yang aman, handal dan ramah lingkungan.

Menurut saya setiap leader punya peran sangat krusial dalam penerapan konsep pengawasan, bimbingan, penilaian dan pengembangan SDM dalam team. Kita dibekali materi prinsip dasar bukan lagi memposisikan diri sebagai pengeksekusi jobdesk dasar tapi lebih ke me-manegemeni setiap personil dalam team, menjaga kosistensi system agar tetap berkesenambungan lalu memastikan iklim dalam team berjalan sesuai dengan core values korporasi saat ini.

Leader yang ideal adalah punya integritas pastinya, lalu mampu memetakan potensial SDM yang ada dalam team, punya arah yang jelas dan terukur. pastinya mau “ngopi” berdiskusi secara terbuka dan secara personal dengan angota team.

Memberi ruang dan keleluasaan berekspresi yang optimal kepada anggota team, memenuhi haknya dalam menerima dan memberi saran yang membangun.

Team yang sehat tak lain adalah kombinasi dari leader selalu terkoneksi dengan anggota teamnya secara personal serta mereka yang punya rasa kepedulian, maka hal ini akan termanifestasi dalam memberi dampak terhadap korporasi secara keseluruhan.

 Banyak hal baru yang saya dapat dari program Leadership management periode ini, pemahaman lebih detail dan mendalam konsep jati diri seorang leader, efektifitas dan produksifitas adalah visi utama, tapi konsistensi dalam menjaga nilai-nilai budaya dalam team adalah pegangan utama, eksekusi reposisi berdasarkan potensi yang tepat pada SDM persionil adalah konci penting untuk mencapai keselarasan antara proses dan hasil akhir.

 Ada istilah keren dari seorang pemateri namanya pak Hendra beliau adalah seorang specialist Human Capital seorang Expert dibidang Pembinaan Inovasi korporasi, ia menyampaikan satu kunci penting dalam memimpin diri sendiri dan orang lain, saya fikir hal ini akan selalu relevan dengan profesi apapun dan dari kalangan manapun kita.

 “Do More” singkat padat tapi bermakna dalam, dalam sistem struktural koporasi jobdesk memang menjadi sebuah tanggaung jawab,tapi ada hal lain yang menjadi “Pembeda” antara si A , B, dan C.

 Do more/berbuat lebih, mungkin penerapan konsep ini yang sudah menjadi budaya bagi bapak saya dulu sebagai tukang bangunan sehingga yang punya Rumah puas dan berdampak ketetangga sebelahnya, sehingga “nama baik” itu meneyebar akhirnya belum selesai satu proyek borongan rumah sudah datang penawaran baru yang lain. 

Memahami pemaparan materi beliau perpaduan antara pengalaman, praktek dan penerima dampak realistis dari pak hendra, saya menjadi sering kali memasukan topik “do more” disela-selah obrolan saya dengan team saya. Pentingnya berbuat lebih diluar jobdesk wajib sehari-hari.

Saya percaya akselerasi dan pertumbuhan pengembangan diri akan tercipta lebih cepat, bila kita punya banyak opsi dan kemampuan.

Contoh sederhana, suatu hari seorang profesional muda perlahan pindah haluan menjadi pengusaha UMKM misalnya, di Dunia Usaha seseorang secara tidak langsung akan dituntut untuk menegerti banyak hal mulai dari ilmu produsi, ilmu promosi, ilmu managemen keuangan, ilmu pengadaan barang, ilmu negosisasi dan partnertship juga pemebrdayaan ilmu Teknologi informasi dan sebagainya.

Artinya ditengah dunia distrubsi teknologi yang semakin tak terbendung ini kita sebagai SDM handal wajib mampu untuk Berbuat Lebih dalam kerjaan apapun, agar tidak tertinggal semakin jauh dari kemajuan moderenisasi saat ini.

Apakah kita seorang Leader atau sebagai staft dalam team, apapun profesi kita dengan berbuat lebih akan memperpanjang deretan Portofolio untuk menjadi SDM yang handal. dengan itu membantu kita untuk menciptakan lompatan baru, lingkungan baru, negosiasi baru, dan  pengahsilan baru tentunya. 

Berbuat lebih’ hal ini juga akan berdampak pada orang-orang  sekeliling kita, minimal untuk pengembangan diri sendiri, semakin diasah potensi itu akan semakin tajam, semakin tajam maka semakin efektif dalam eksekusi problem solving.

Pada akhirnya itulah menjadi pemebeda antara kita dan orang lain.      

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie




 

 

Senin, 11 Mei 2026

Pazzle Waktu 12 : “Doa-doa pasukan Bintang dilangit”

Tengah kuliah berlangsung (Tahun 2009);

“bro ntar sore pulang kuliah kita lanjutkan kerjaan kemarin ya”  

“lansung ni”.. ? (jawab saya)

“Ya lansunglah” ,menghitung hari plafon gedung itu segera di instal jaringan kelistrikanya jadi mesti kita dikelarin kerjaan kita”

“oke siap! Gass”  jawab saya singkat.

Namanya Syahrul, teman baik saya masa kuliah paling hebat memasang instalasi listrik rumahan, Ruko/Gedung usaha. Saya banyak belajar dasar-dasar rangkaian listrik dari beliau ini, dia mampu menghitung dengan cermat seberapa kebutuhan kabel, pipa konduit, klam kabel, stop kontak, sakelar, lasdop dan lain sebagainya.

 Dari bebera job terealisasi instalasi jaringan listrik ini, pernah dapat kerjaan lantai dua disalah satu gedung Showroom Mobil di Jl. Khatip Sulaiman kota Padang.  

Gedung itu tengah proses Renovasi dibeberapa ruangan, otomatis perlunya perubahan jaringan instalasi kelistrikan.

 Pekerjaan yang dilakoni sepulang kuliah ini biasanya berlanjut hingga tengah malam, ini menjadi sebuah moment hebat tersendiri disudut hati saya hingga hari ini. tahap membobok, ngklem, nyambung kabel, instal pipa bolak balik kami lakukan naik turun plafon atas saling bantu merangkai jaringan satu sama lain.

Tepat dibelakang gedung itu saat istirahat sholat makan, saya terduduk mengamati beberapa orang karyawan kantor itu tengah berolah raga Badminton riang gembira. Jiwa muda saya, jiwa muda si anak desa yang punya lapangan outdor badminton dibelakang sekolah dasar dikampungnya kembali meronta-ronta menonton pemandangan seru terpampang nyata didepan mata, ingin sekali hati ikut bergabung disana, melompat lalu mengayunkan raket. Tapi, seakan semesta bilang “belum waktunya anak muda”.. tidak untuk sekarang” Sabar!.

Lagi saya sampaikan itulah hebatnya memorial dijaringan otak manusia.

Masih saja ingat moment-moment se sepele begini padahal sudah bertahun-tahun berlalu.

Kami pulang pukul 22 an malam, Bos kami meminta untuk sekalian membawa hasil puing-puing sisa Renovasi bangunan mengunakan mobil barang L300 ke simpang Gia Padang masuk kedalam. Segenap sisa tenaga, kami memuat sisa material tersebut ketruk barang itu, sisa-sisa lembaran gibsum plafon, sisa batu bata,sisa pasir bercampur semen.

Sepatu kuliah kami penuh debu, baju kaos  bermandikan keringat.

Kami terkapar diatas sisa-sisa material bangunan diatas truk berdebu itu, menengadah keatas menatap langit malam,  tangan sudah lembab badan rasanya bengkok remuk, kumal dan berkeringat.

Dua mata saya nanar menatap langit, nun jauh disana berkelap-kelip seperti pasir diatas sana  Gemintang bertaburan indah bak ribuan penonton distadion Oldtrafford Riuhh…. tepuk tangan ditimpali penuh sorakan, moment seorang Nani mencetak Gol spektakulernya :D.

Bintang-bintang keren itu seakaan menyemangati kami …  “anak muda bila kamu hargai yang kecil ini malam ini, besok  siap-siap terimalah yang lebih besar dan lebih terhormat lagi anak muda!.”

 

(Dalam hati saya) keren sekali bintang-bintang itu jauuh diatas sana ribuanjutaan Kilometer jaraknya dari truk ini.

Semua ini saya jalani demi dapat mengetik satu baris SMS di Handphone Samsung jadul saya ke bapak saya dikampung sana, tentunya dengan rasa Gagah dan Bangga;

 

 ” Pak ndak usah kirim duit dulu, untuk makan dan jajan seminggu ini masih ada”

 

Hanya satu baris, lompatan kecil itu tapi sangat-sangat bernilai bagi saya. Saya bisa merasakan suasana hati dan aliran darah bapak saya waktu membaca sepotong sms dari saya itu.

Sederhana, Hanya saya berfikir Gimana caranya  meringankan beban orang tua dikampung, dimana usianya yang sudah semakin menua dan membuat saya semakin kasihan.

Ada kalanya Aktifitas memuat membongkar sisa material renovasi gedung ini juga harus saya jalani seorang diri. Sakit ditangan tapi lega dihati, dapat menangani kebutuhan sendiri dengan keringat sendiri walau hanya bertahan untuk beberapa hari.

Ini menjadi suatu kebangganan tersendiri bagi saya, telah berhasil meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Mencoba menolak menjadi beban keluarga, tapi dapat membuktikan bahwa bisa berupaya sendiri, walau menyisakan lelah tak terkira, biasanya kerap ngantuk  besok paginya saat kuliah kelas teknik kami pekerjaan diam-diam tampa banyak yang tahu. bahkan oleh teman-teman kuliah sekelas saya.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Pazzle Waktu 11 : “Apakah kita dapat dipercaya”

Seperti biasa selesai kroscek Ams pagi, sembari menyeruput kopi hitam hangat agak sedikit pahit pagi ini. terlintas difikiran bagaimana seorang kuli bangunan dapat kerjaan laluberkelanjutan tampa jedah dan berkelanjutan.memakan waktu berbulan-bulan, belum selesai mengerjakan rumah A tapi sudah datang penawaran baru proyek rumah B.

Ya, ini bagian dari pekerjaan utama dari bapak kami pada masanya, menjejaki Pola bekerja pindah dari satu daerah kedaerah lain, dari satu rumah kerumah yang lainya.

Profesi mulia ini beliau lakoni sedari muda, misinya hanya satu bukan mengejar kekayaan, tapi memenuhi kebutuhan pangan kelurga. dan menyekolahkan anak-anak dengan baik, ya itu saja. Intregritas seorang tukang pembangun rumah bak Insinyur Arsitek hebat bagi kami, bagi beliau kepercayaan orang harga matibukan dari Gelar.  

Ada hal yang  paling selalu saya rindukan,bagaikan rindu yang tak berujung. banyak waktu yang kami habiskan kala duduk berdua bersama bapak kami. Paling berkesan itu pulang kerumahliburan Smester, bahkan pulang untuk sekedar cuti kala jauh bekerja merantau berbulan-bulan tidak pulang.

Dibawa bohlam lapu kuning temaram duduk didepan rumah obrolin topik random atau sekedar berkelakar ngaurmemaknai moment ngumpul bersama keluarga,moment kehangatan itu sekarang makin terasa begitu Mahal.

Salah satu topik yang masih kuat diingatan saya adalah “diluar sana Kepercayaan adalah koncinya untuk hidup ”

“Nilai Kepercayaan” Ini bagian dari Pazzle penting dalam perjalanan kecil saya, menjadi pegangan dasar bagi kami dalam menapaki hidup dimanapun,walaupun reallitasnya tak sedikit dari orang sekeliling kita malah mempermainkan kepercayaan yang kita berikan.

Saya tau penerapanya tak selalu semudah  yang diucapkan. Tapi dalam tahap proses hidup, mau tidak mau apa yang kita persembahkan selalu relevan dengan apa yang kita terima, kita akan perlahan mengerti begitu bernilainya sebuah kepercayaan.

Saya ingat dulu pernah bergabung sebuah kominitas seni disekolah, saya terbilang berkemampuan  paling biasa dalam team, tapi nilai tambah adalah saya paling kosnsisten dan paling Ontime saat jadwal latihan.

Setelah mengikuti Festival seni antar komunitas usai; hanya saya yang penerima sertifikasi penghargaan dalam team yang lain malah di hold sertifikatnya.

Kadang apresiasi itu muncul karena sebab yang begitu sederhana yaitu : “ secuil kepercayaan”.

Pada dasarnya Bapak saya bermodal kepercayaanrejeki proyek datang bergantian, hal ini menjadi tolak ukur bahwa bagi siapa saja dalam profesi apapun, sejauh mana kita dapat dipercaya dan sejauh mana daya mampu kita dalam menajaga kepercayaan orang lain pelangan misalnya /klien/stakeholder kepada kita?

Sebab..  dalam dunia sosial serba ketidak pastian ini, kepercayaan menjadi parameter krusial dalam tahap pertumbuhan kita ke arah yang lebih baik.


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berati”


Oleh: Farie

  

Farieco

Pazzle Waktu 10 : “BADMINTON! Hobi saya”

Ada yang sama hoby kita?

 Masih sangat teringat dengan jelas, dulu… masih Sekolah Menengah Pertama dikampung saya; Selatanya Sumatera Barat, tepat dibelakang Sekolah Dasar legendaris kami. Inisiatif goro bersama pemuda desa kami, patungan dana dan terbentuklah sebuah lapangan Bulu Tangkis beton (outdor) satu-satunya dikampung kami.

 Tahun 2003-2004 an, keberadaan lapangan itu cukup begitu Keren dimasanya  khusus dimata saya. Sudah bak Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium bagi kami anak-anak kampung yang haus akan hiburan olahraga melepaskan keringat sepulang sekolah.

Dari pinggir lapangan ini selalu menjadi hiburan seru tiap sore sentero kampung kami, terutama saya dan teman-teman sebaya. pemuda hingga kalangan bapaQ-bapaQ. Di masa ini euforia badminton meracuni saya dan kami para bocah belia.

rasa penasaran menerawang dikepala saya waktu itu kenapa bisa dari sebatang raket dapat memantulkan bulu ayam berkecepatan tinggi?, saat itulah saya mulai suka kepo di Koran-koran  halaman olahraga hingga berita ditelevisi; tentang Tournament dari kejuaraan Dunia hingga Superseries, mengenal yang namanya Taufik Hidayat dan atlet lainya.

Entah kenapa mejadi hiburan keren kalo nontonin bapak-bapak main disore hari padahal saya hampir tidak pernah diajak main, karena memang tidak ada peralatan satu apapun :D. Masa itu jika memang ingin mencoba main badminton, tidak ada yang bisa dilakukan selain minjam raket ke teman.

Faktanya: tak selamanya bisa mengandalkan itu :( .

Sekian tahun berlalu. Hobi yang terpedam.

Hingga dibangku perkuliahanTamat, sudah mandiri tahun 2011 merantau. Dititik diaman saya sudah menghasilkan uang sendiri, disitulah saya baru mampu beli yang namanya “Raket sendiri”, “Sepatu sendiri”, “Seragam sendiri”.

Tapi memang, entah kenapa! “aneh bin Ajaib”, bila kita merasakan suatu berupa filling yang kuat-Hasrat/daya dorong begitu bergejolak terhadap sesuatu, sebaiknya itu dikomversi menjadi kenyataan. tidak butuh lama saya jadi pemain Badminton  cukup diperhitungkan dimasanya (di Perantauan).

Saya fikir Ini bagian dari merefleksi diri sisi gejolak jiwayang tersimpantertahan bertahun-tahun di dalam hati dipikiran saya. Tak peduli itu selama apapun tersimpan bahkan tertunda dalam jangka waktu yang begitu lama. Bila itu memang potensi diri, dia akan muncul kepermukaan dengan sendirinya.

Saya percaya  sang “Maha Desainer” sudah mengatur sedetail dan sekomplit mungkin system dasar bertahan dan adaptasi pada Manusia. kita dipersilahkan untuk bertebaran dimungka bumi ini dengan segala keberagaman kita, tapi selalu dikasih jatah senjataberupa Potensti untuk beraksi, kreasi, karya, ber- ekspresi dalam hidup, goalsnya  membawa manfaat orang lain. tapi apakah kita sudah menemukanya atau belum?

Jadi, saya percaya setiap manusia selalu ada hoby yang bisa dikomversi kebentuk portofolio Keren minimal untuk diri sendiri.

Menembus babak semi final IKPP CUP tahun 2012 tempat saya bekerja adalah salah satu pencapaian hebat saya dalam Olahraga Bulutangkis, dalam partai Ganda selalu ada partner yang membantu dan saling menguatkan.

LaluTahun  2016, 2017,2018 adalah masa juara 1 dan 2 jadi langganan di cevitas perusahaan Electrical company.

Tahun 2019 satu satunya pemain yang dikirim dalam keikut sertaan POR Pembangkit di Surabaya. Terkhir 2025 lalu juara 1 (Emas) di Super Series 750 antar Regional Se-Nasional Pembangkit kembali dihelat juga di Kota Surabaya.

Perjalanan yang kita minati masing-masing kita juga bervariatif, tingkat kompetitif yang sangat beragam. kita bisa mengambil kopetisi sesuai kelas dan ambang batas daya yang kita miliki.

Badminton tak hanya sekedar soal menang atau kalah, tapi dalam konteks yang sangat luas. Ada fakta menarik; dari badminton akan terbentuklah komunitas lalu terciptalah persahabatan dan kekeluargaan baru.

Sejauh ini bagi saya barangkali jumlahnya ada ratusan lebih sudah menjadi keluarga baru terjalin hingga saat ini. sebagian besar karena bulu tangkis, setiap menetap disatu daerah selalu ada kelurga baru, begitu seterusnya hingga hari ini alhamdulillah.

Pada akhirnya muncul pertanyaan penting “ Jadi…  kapan kita Mabar” ? hehe

walau fisik tak sekuat dulu, lompatan tidak setinggi yang dulu, tetapi setidaknya bermain untuk berkeringat, tertawa  bareng dipinngir lapangan  sambil ngopi.

Misi demi Merawat, Memperkokoh tali Persaudaraan kita  Insyallah saya masih bisa. :D


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco