Selasa, 21 Juli 2026

Pazzle Waktu 23 “Pentingnya Efektivitas ”

Aroma kopi Arabica dimeja saya masih begitu smerbak khasnya, pagi ini agak berkabut. embun masih seperti biasa bagaimana berupaya menjadi seorang ayah yang benar-benar optimal setiap waktu yang diberikan baik pekerjaan rumah maupun kerjaan saya dikantor. harapan yang sama terhadap anak-anak bersekolah dengan produktif dan aktif baik dalam penyerapan ilmu maupun latihan-latihan keterampilan, besar harapan saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya.

Pagi ini saya dan kita semua mengawali berbagai ragam aktivitas harian sesui Jobdesk masing-masing. Berangkat dari hal yang sederhana dan saya punya pandangan, apakah saya benar-benar sudah bekerja secara efektif selama ini? Apakah energi saya justru lebih banyak terbuang kehal-hal yang dampaknya “Nol”?

Sekarang saya melihat perbedaan semakin siknifikan dari beberapa Negara tetangga khususnya Singapura serta gebrakan China, contoh yang paling sederhana; saya sebagai pecinta badminton dari kecil dimana saya selalu ngikutin perkembanganya dari awal tahun 2000 an (*Lin Dan dan Taufik Hidayat waktu itu masih begitu sangat muda) hingga hari ini!.

artinya lebih kurang sudah 26 Tahun yang lalu, apa faktanya?  selalu China yang mendominasi badminton dipentas Dunia. Ini baru “satu bidang” belum lagi soal “teknologi”, “budaya”, “hiburan”, “pembangunan” “energi terbarukan”, “otomotif”, “robotik” hingga “produk dalam negerinya” bahkan kita rasakan dan kita pakai hingga hari ini, betul?.

saya melihat salah satu kunci dari negara China adalah Negara yang memiliki Evektivitas tinggi.

Kenapa Efektifitas ini begitu krusial dalam sebuah perusahaan atau negara? ada beberapa hal yang saya fikirkan adalah;

Persaingan global ketat-Faktanya negera besar seperti Amerika, China , Jerman, Rusia saat ini negara-negara maju ini semakin gencar berlomba dalam inovasi teknologi, kecepatan produksi, Sumber Daya Manusia yang unggul, menekan biaya produksi, disinilah penentu siapa yang paling Efektif dimana dapat mencapai hasil yang paling maksimal dengan sumber daya yang minim.

Lalau bagaimana dengan indonesia?

Sumberdaya terbatas kebutuhan tidak terbatas-kita semua tahu mulai dari waktu,energi,SDM,Uang, semua itu sangat terbatas. sementara kebutuhan manusia hampir tidak ada batasnya.

Contohnya Perusaan Toyota sangat terkenal dengan sistem Produksinya Lean Manufacturing yang sangat terkenal efesien,dan kamu tau sendiri Indonesia salah satu pasar terbesarnya Toyota :) ,  contoh lain Amazon unggul dengan logistiknya sangat efektif dan terotomatisasi.

Lalu Kecepatan perubahan teknologi saat ini -dimanan AI,Big data,Energi terbarukan memaksa dan mendorong kita semua untuk ikut upgrade skill diri ,bila tidak Efektif dalam beradaptasi maka suatu perusahaan atau negara akan tertinggal.

Misalnya Korea Selatan dan Singapura mereka itu sangat fokus pada efisiensi system pedidikan dan industrialisasinya dimana agar selalu relevan dengan perkembangan global saat ini.

Menurut saya produktivitas adalah manivestasi dari kekuatan ekonomi-Artinya adalah dinegara maju kekuatan tidak selalu diukur dari SDM atau produktivitas perorangan, akan tetapi efektivitas akan meningkatkan Outpun per jam kerja, stabilitas ekonomi nasional, daya saing global, maupun nilai tambah ekonomi.

Terkahir adalah Era Digital menuntut presisi tinggi-saat ini kita tuh kerja sangat dituntut semuanya harus berbasis data, benar? korelasinya dimana? Contoh ketika suatu hari para Top management corporate mengeksekusi sebuah keputusan nah keputusan tersebut dipilih dan dibuat berdasarkan Analisis real time, Otomasi sistem, dan AI prediksi, artinya kita dituntut dalam pengambilan sebuah keputusan tidak boleh lambat dan tidak boleh salah arah. Jadi mari lakukan perubahan kecil itu terus berkelanjutan, dan efektivitas kecil itu kita mulai dari hari ini, dari sendiri.  :)

  “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 Oleh: Farie

 

 

Pazzle Waktu 22 “Bus Legendaris Kisah Sipenolong Ijazah tahun 2002-2008"

Dari kejahuan sebuah bus bewarna merah melewati kampung kami, berseragam putih biru dongker dan tas dipunggung saya perlahan mendekat pinggir jalan lalu melambaikan tanggan 50 meter sebelum bus mengarah check point titik saya berdiri.

Jam 7 pagi masih begitu terasa dingin, udara segar seakan bergelantungan lalu bergerilia dimana bangku-bangku kosong bus ini. pagi yang cerah ini adalah awal tahun ajaran baru tahun 2002 Dinas pendidikan Agama Sumatera Barat tingkat Mts.N. sekitar 24 tahun yang lalu, terbilang jauh dari modernisasi seperti saat ini.

Waktu menunjukan pukul 14:00 wib setelah melaksanakan sholat berjamaah sebagai bagian dari rutinitas sebelum kami pulang sekolah (saya yakin rutinitas ini hingga hari ini masih berjalan dengan baik bahkan lebih systematis dan terstruktur). saya dan beberapa teman yang lain seiring memisahkan diri dari gerombolan yang notabene teman-teman saya domisili disekitaran sekolah kami. Gadung surian adalah salah satu daerah hampir paling ujung perbatasan wilayah solok hampir ujung bagian selatan. kali ini mengharus saya sedikit keluar dari desa saya lebih kurang 10 KM setiap hari pulang dan pergi mengunakan oplet maupun Bus antar daerah hingga Kota.

Bus legendaris ini waktu itu ada beberapa unit, umumnya rute kota Padang-Solok selatan, maupun Kab Solok-Solok Selatan. Mereka barangkali sudah beroperasi sejak tahun 90 an.

Putri Tunggal, Suliti Indah, Gunung talang begitulah fond besar didepan kaca bus legendaris kebanggan saya tersebut. Ada lagi mungkin tapi saya sudah lupa.

Ada hal paling berkesan dari para sopir bus ini ia menegerti kebutuhan anak-anak sekolah kampung kami. Yaitu tidak akan bisa berangkat sekolah kalo bukan bersama bus yang melintas dikampung kami, makanya mereka selalu berhenti didepan anak sekolah setiap harinya. sebab oplet tidak rutin atau bahkan nyaris tidak ada kecuali hari-balai atau hari pasar .

Bus ini selalu berhenti didepan rumah saya, umumnya jam pulang sekolah bila bus penuh saya harus berdiri bergelantungan hingga sampai dirumah kembali. Ada yang bisa nebak berapa biaya bus/oplet tahun anak sekolahan awal tahun 2000 an? Benar sekali.. “500 Rupiah”!  :).

Waktu terus berjalan tampa saya rencanakan naik turun bus-bus kebanggan saya ini tiap hari berlangsung hingga Enam tahun kemudian (sampai Lulus Sekolah Menengah Atas). satu hal yang masih memebekas difikiran saya dimana moment beberapa bulan setelah saya lulus sekolah 2008.

Bak kisah dipulau Hokkaido tepatnya stasiun Kami-Shirataki Jepang, dimana di sebuah desa terpencil ada seorang siswa masih mengunakan jasa kereta api untuk berangkat dan pulang sekolah disetiap harinya. Padahal rute itu hampir tidak ada lagi penumpang, akhirnya perusahaan kereta api jepang berencana menutup permanen rute kami-shirataki tersebut demi efisiensi.

Lalu management KAI mereka dapat kabar dan mengatahui sebuah fakta dimana masih ada satu orang siswa tengah menempuh pendidikan dan memanfaatkan rute  kereta itu tiap hari, pada akhirnya perusahan kereta api memutuskan menunda penutupan jalur kereta di desa tersebut dan menunggu hingga siswa tersebut menamatkan sekolahnya. Setelah menamatkan sekolah rute kereta Kami-Shirataki resmi di tutup secara permanent.

Tahun 2008 beberapa bulan setelah saya menamatkan sekolah Tingkat SLTA bus-bus legendaris kebanggaan saya itu total stop beroperasi secara permanent. Saya tidak tau pasti penyebab semua bus Solsel-Padang tersebut tidak lagi beroperasi sama sekali hingga hari ini.

Tahun 2002-2008 adalah masa-masa transisi pola hidup saya setiap hari tak lepas dari angkutan umum, bergelantuangan dipintu bus maupun oplet. masih terekam jelas diingatan saya bagaimana keseharian kernek dan sopir lintas kota-daerah setiap hari hidup sepanjang jalanan, wajah-wajah sopir dan kernek bus legendaris ini masih tercatat difikiran saya hingga hari ini. Saya kirimkan doakan terbaik semoga para penyelamat ijazah saya, para penyelamat episode penting dalam hidup saya sehat-sehat selalu bersama kelurga tercinta hari ini hingga kemudian hari aamiin.

Masa SMA saya sering sendiri dipojok pojok jalanan duduk berjam-jam, karena saya termasuk siswa terjauh dari titik sekolah, jadi sangat jarang ada angkot atau oplet rute kekampung saya.

Bus adalah satu-satunya andalan saya setiap harinya.  

Merindukan dari begitu banyak moment pulang sekolah duduk dipinggiran jalan ditengah hujan begitu lebatnya basah kuyup sesampai dirumah pulang larut magrib. Tau kenapa? Karna saya ketiduran dibus karena saya kelelahan hingga terlewat jauh dan jauh dari titik pemeberhentian  yang seharusnyan didepan rumah wkwkw… :D

 “Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide serta dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie



Jumat, 03 Juli 2026

Pazzle Waktu 21 “ Kenapa Transisi Energi harus dilakukan?”

Dulu waktu kita dibangku SMP barang kali masih ingat istilah dari “Hukum Kekekalan Energi”?, dimana Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahka, akan tapi bisa diubah dari satu bentuk kebentuk lain, begitulah sifat energi itu sendiri. Jadi sang Pencipta ngasih modal buat kita manusia hidup di planet bumi ini sungguh diselimuti oleh berbagai macam jenis sumber energi yang begitu besar. dan itu semua dapat dioptimalisasikan dalam hal memenuhi kebutuhan dan kelansungan hidup kita, dan pada dasarnya kita tidak bisa hidup tampa bantuan energi itu sendiri, sip!

Jenis pembangkit energi listrik saat ini berupa PLTU, PLTA, PLTS, PLTMG,PLTGU,PLTP, PLTN dan sebagainya. Berbagai jenis pembangkit energi tersebut dibangi menjadi 2 katagori Energi terbarukan dan energi fosil atau/tidak terbarukan. Data terakhir dinegara kita saat ini kapasitas terpasang energi listrik adalah sebesar 107 GW dimana 15 GW diantaranya adalah pembangkit energi baru terbarukan, dan itu masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Kenapa ini perlu saya bahas? karena Indonesia punya target dalam mengenjot pembangkit energi baru terbarukan(EBT) sebagai bagian dari transisi energi menuju Net Zero Emession (NZE) paling lambat realisasinya pada tahun 2060 bahkan lebih cepat.

Paris Agreement 2015 adalah dasar utamanya komitment Internasional soal ini, bertujuan menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 1,5°C - 2°C.

Dalam Nationally Determined Contributions: Setiap negara diwajibkan menyerahkan rencana aksi penurunan emisi secara berkala, yang memaksa mereka membuat target NZE, nah disini Indonesia paling lambat realisasi NZE di tahun 2060.

Artinya apa? Pembangkit listrik kita saat ini di indonesia faktanya masih didominasi oleh jenis pembangkit fosil atau PLTU (berbahan batu bara). Bahan batu bara ini secara internasional dinilai menghasilkan emisi cenderung merugikan dan berdampak negatif terhadap perubahan iklim dunia.

Secara perlahan dan berkelanjutan setiap negara harus melakukan transisi energi ke energi yang lebih ramah terhadap lingkungan. Misalnya optimalisasi pembangkit energi air, energi gas bumi, energi surya,  energi panas bumi, energi angin, laut, nuklir dan sebagainya.

Satu sisi saya melihat bahwa target transisi ini akan berdampak terhadap perlunya banyak Sumber Daya Manusia handal dan kopeten dibidang pembangkit listrik berbasis multi energi. Karena rentang waktu realiasinya sekitar 30an tahun lagi, mungkin proses realisasi hingga eksekutornya nanti adalah anak -anak kita sebagai generasi penerus. Ini bisa menjadi landasan konkrit bagi kita para orangtua bahkan pemerintah dalam mempersiapkan manusia-manusia yang relevan terhadap perwujudan EBT.

Saya melihat disini ada Opportunity lapagan pekerjaan baru bagi anak-anak muda berbakat dan berkopeten dalam bidang operasional pembangkitan energi. Dan hal ini saya sangat percaya dan begitu sangat relefan terhadapan pentingnya STEM bagi para penerus kita.

Dan data menunjukan kebutuhan energi nasional kita dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ayo semangat!


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie