Dulu waktu kita dibangku SMP barang kali masih ingat istilah dari “Hukum Kekekalan Energi”?, dimana -Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahka, akan tapi bisa diubah dari satu bentuk kebentuk lain, begitulah sifat energi itu sendiri. Jadi sang Pencipta ngasih modal buat kita manusia hidup di planet bumi ini sungguh diselimuti oleh berbagai macam jenis sumber energi yang begitu besar. dan itu semua dapat dioptimalisasikan dalam hal memenuhi kebutuhan dan kelansungan hidup kita, dan pada dasarnya kita tidak bisa hidup tampa bantuan energi itu sendiri, sip!
Jenis pembangkit energi listrik saat ini berupa PLTU, PLTA, PLTS, PLTMG,PLTGU,PLTP, PLTN dan sebagainya. Berbagai jenis pembangkit energi tersebut dibangi menjadi 2 katagori Energi terbarukan dan energi fosil atau/tidak terbarukan. Data terakhir dinegara kita saat ini kapasitas terpasang energi listrik adalah sebesar 107 GW dimana 15 GW diantaranya adalah pembangkit energi baru terbarukan, dan itu masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Kenapa ini perlu saya bahas? karena Indonesia punya target dalam mengenjot pembangkit energi baru terbarukan(EBT) sebagai bagian dari transisi energi menuju Net Zero Emession (NZE) paling lambat realisasinya pada tahun 2060 bahkan lebih cepat.
Paris Agreement 2015 adalah dasar utamanya komitment Internasional soal ini, bertujuan menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 1,5°C - 2°C.
Dalam Nationally Determined Contributions: Setiap negara diwajibkan menyerahkan rencana aksi penurunan emisi secara berkala, yang memaksa mereka membuat target NZE, nah disini Indonesia paling lambat realisasi NZE di tahun 2060.
Artinya apa? Pembangkit listrik kita saat ini di indonesia faktanya masih didominasi oleh jenis pembangkit fosil atau PLTU (berbahan batu bara). Bahan batu bara ini secara internasional dinilai menghasilkan emisi cenderung merugikan dan berdampak negatif terhadap perubahan iklim dunia.
Secara perlahan dan berkelanjutan setiap negara harus melakukan transisi energi ke energi yang lebih ramah terhadap lingkungan. Misalnya optimalisasi pembangkit energi air, energi gas bumi, energi surya, energi panas bumi, energi angin, laut, nuklir dan sebagainya.
Satu sisi saya melihat bahwa target transisi ini akan berdampak terhadap perlunya banyak Sumber Daya Manusia handal dan kopeten dibidang pembangkit listrik berbasis multi energi. Karena rentang waktu realiasinya sekitar 30an tahun lagi, mungkin proses realisasi hingga eksekutornya nanti adalah anak -anak kita sebagai generasi penerus. Ini bisa menjadi landasan konkrit bagi kita para orangtua bahkan pemerintah dalam mempersiapkan manusia-manusia yang relevan terhadap perwujudan EBT.
Saya melihat disini ada Opportunity lapagan pekerjaan baru bagi anak-anak muda berbakat dan berkopeten dalam bidang operasional pembangkitan energi. Dan hal ini saya sangat percaya dan begitu sangat relefan terhadapan pentingnya STEM bagi para penerus kita.
Dan data menunjukan kebutuhan energi nasional kita dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ayo semangat!
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan ide dan dampak yang berarti”
Oleh: Farie
