Senin, 01 Juni 2026

Pazzle Waktu: 16 “Tetangga yang Baik”!

Terngiang suara pangilan tuturtertata mengumandang mengisi dilangit-langit putih sepanjang Gate ini, pendingin ruangan menderu mengimbangi panasnya sisi luar Kualanamu, masih terasa terik seperti  biasanya.

Saat menulis tulisan ini saya sedang duduk tenang  salah satu pojok diruang tunggu keberangkatan. waiting flight saya kali ini tujuan kota Semarang lebih kurang satu jam lagi.

Jauh dari rumah seperti ini saya jadi sering kebayang masakan sang istri, salah satu masakan yang sering kali saya request sama istri tercinta adalah sayur Gulai pakis cabe hijau ikan “teri” dengan toping spesial beberapa potong jengkol (*toping spesial yang terkahir ini hanya untuk saya :) ) lalu berduel dengan adukan gorengan cabe merah ikan laut kriuk kecil-kecil yang menjadi  faforitnya anak-anak.

Terakhir tak lupa ditemani kerupuk khas lebar-lebarnya,lengkap sudah. Makanan enak menu sederhana ini selalu terasa spesial bintang lima.

 

Ada kebiasan istri saya dan kluarga kecil kami yang mungkin sudah menjadi budaya hebat dari tahun ketahun dimana pun berada, saya tidak mengerti komplitnya formula dari campur tangan Allah SWT  gimana setiap menetap di wilayah baru selalu ada aja tetangga yang bener-bener cocok dihati kami, baiknya bak keluarga kandung sendiri, bahkan lebih.

Apa yang dimaksut dengan “budaya” diatas, sekali lagi saya tidak begitu faham apakah karena fakator ini atau ada faktor lain. Istri saya paling senang berbagi makanan ketetangga tempat kami dimanapun tinggal, istri saya senang memasak, apa yang kami makan, persis itu yang dipisahkan kepiring lain dan itu yang kami bagi ketetangga sebelah.


Saya masih ingat kebiasaan ini sudah sedari sepuluh tahun yang lalu, sampe hari ini masih tetap sama tidak berubah.

Ada rasa bangga tersendiri ke istri masih berkomunikasi begitu baik dengan tetangga lama dulu, apa lagi tetangga setelahnya lalu yang hari ini. Tetangga yang baik ini merupakan rejeki tersendiri dalam tahapan hidup kami .

Kebiasaan sederhana tapi memberi pangaruh besar terhadap tatanan sosial, memperkokoh ikatan kepercayaan. Satu, dua, tiga dan seterusnya bila diakumulasikan bahkan malah kami yang sering menerima hantaran dari sana, sini. tidak melulu apa yang dimasak lalu dibagi sering juga yang dibeli tapi diniatkan untuk dibagi.

Rahasia kecilnya adalah Inisiatif memeberi terlebih dahulu. Menumbuhkan dampak kepedulian, kekeluargaan, menciptakan lalu menyambung rantai persaudaraan dalam bertetangga.


Saya ingat beberapa bulan yang lalu saat itu saya kebetulan sedang ada urusan pekerjaan di Luar kota, istri saya dan anak-anak kendaraan yang disetirnya ada masalah sekitar 20 meter sebelum sampai rumah.

Saya sedang tidak ditempat, tapi para tetanggalah yang bersama-sama inisiatif membantu sehingga kendaraan dapat normal kembali..  Alhamdulillah.

Lain lagi ketika bencana beberapa bulan lalu koneksi internet terputus saya masih ditempat kerja, tidak bisa memberi kabar kerumah, sehingga saya harus terlambat pulang. anak dan istri dalam kecemasan, tapi tetangga-tentanggalah yang menemani menghibur anak-anak dan istri saya shubhanallah, terimakasih.

 

Faktanya memang begitu kadang disaat yang tidak terduga ada masanya kita benar-benar butuh bantuan orang disebelah rumah yang kita huni. Maka mari kita bangun hubungan sebaik-baiknya terlebih dahulu terlepas itu kita memang banyak kurangnya, misalnya anak-anak sering ribut brantem, mungkin hanya sebatas itu sisanya mari optimalkan dengan kebaikan-kebaikan terlebih dahulu, tampa harus menunggu.        


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

 

Oleh: Farie

 

 

Farieco


Pazzle Waktu : 15 "Setiap anak itu hebat"!

Pernahkah kita merasa anak kita belum bisa ini, belum bisa itu seperti anak si A, atau anak si B.? Pernah? Oke saya juga ,

Beberapa dekade yang telah terlewati,  pertama saat saya posisi sebagai anak sekolahaan, kedua perguruan t hingga hidup mandiri diperantauan, lalu dekade terkahir punya keluarga kecil.

Tahap-tahap yang terlewati saya merasakan satu hal ternyata karakter anak itu terbentuk tergantung  lingkunganya, itu point satu.

Anak-anak akan berkembang berdasarkan lingkungan yang kita suguhkan saat ini. lalu pertanyaanya seberapa besar korelasinya antara lingkungan vs tingkat kemampuan dasar sang anak?


Hubunganya sangat berkesanambungan satu tahun terakhir ini sejak anak kedua saya masuk taman kanak-kanak, sang Istri dan saya punya program pribadi buat bocah ini; selama TK harus bisa membaca, wajib iqro’ 6, bisa main sepeda mandiri roda dua, mandiri urusan MCK, kemampuan hitung-hitungan dasar wajib bisa, ayat-ayat pendek, sholat berjamaah sama-sama minimal magrib dan isa. Hari ini anak ini baru masuk smester 2 TK tapi semua  target diatas sudah hampir tuntas olehnya.

Artinya baru beberapa bulan berjalan!

Dulu awal-awal saya sempat terfikir “anak ini bisa ga ya”… “dia mampu ga ya, tugas dan tantangan yang kami berikan”?

Seringkali kita sebagai orang tua meragukan kemampuan anak, pada dasarnya anak kecil itu jauh lebih fokus, kecepatan dan daya savenya jauh lebih efektif dan cepat dari kita, bahkan instingnya lebih baik dari kita sebagai orang tua. Walau tingkat kesabaran anak-anak cenderung masih relatif rendah, kekurangan dalam proses belajar ini lah kita sebagai orang tua buat ngebackupnya. Khususnya istri saya yang sangat luar biasa efortnya serta kelembutanya dalam mendidik anak-anak.


Saya mengabi banyakl pelajaran, balita itu hebat, anak kecil itu hebat. Awal-awal pengajaran/latihan kita akan menghadapi penuh penolakan, rengekan dan tantruman. Tapi bila konsiten terus pelan-pelan mereka akan ikut, perlahan mengerti, dan pada akhirnya memahami apa yang kita contohkan. Faktor pola pengemasan pengajaran kita ternaya juga mempengaruhi kecepatan anak dalam memahami. Terutama istri saya punya banyak trik jitu dan menarik .  


Ada segudang pengelaman manis bersama anak-anak yang akan menjadi kenangan henat nanti setelah mereka mulai beranjak besar, mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Hari ini saya juga semakin memahami nilai dari lego yang selalu berserakan terlihat saat pulang kerja, udah ratusan kali mereka mainkan pazzle-pazzle yang tak utuh lagi itu, krayon pensir warna yang sudah tak lengkap lagi warnanya, hingga boneka legendaris yang dipakaikan pampers itu :) .

Saya dan istri yang masih terus belajar dalam memaksimalkan gimana memenuhi kebutuhan happynes sebagai haknya anak-anak dimasa kecilnya, kebutuhan bermain sambil belajar.

Saya ingin suatu saat ketika bocah-bocah hebat ini sudah mandiri (*lalu kami berjauhan). Mereka selalu merindukan masa kecil mereka yang penuh kenangan manis dan bernilai, menjadikan suatu kerinduan berkepanjangan bagi mereka, hanya pulang kerumah adalah satu-satunya obat pelipur lara di hati mereka, berkumpul bersama kluarga.

 

Sukses dan sehat-sehat selalu istri saya tercinta dan para orang tua dimanapun berada.

 

“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”


Oleh: Farie