Sejarah sudah mengajarkan banyak hal kepada kita, negera-negera yang terlibat langsung pada Perang Dunia I dan II seperti -Jepang, Jerman, Inggiris, Rusia, Prancis, Amerika Serikat serta sekutunya. Faktanya menunjukan mereka semuanya adalah Negera-negara Industrialis, rata-rata negara-negera ini memiliki alasan yang sangat masuk akal dalam misi mengusai suatu wilayah bahkan aekelas Negara lain, yes! Jawabanya adalah “kualitas dan kapasitas negara mereka yang begitu mendukung.
Disini saya melihat pola yang serupa pada negara-negera ini, unggul dalam optimalisasi Energi dalam membangun negerinya sendiri, menjadi Negara yang kuat mandiri dan sangat berkapasitas.
Muncul Pertanyaan bagaimana dengan Indonesia tercinta? Saya lebih dari 10 tahun telah mengambil peran di industri Energi nasional punya beberapa pandangan.
Tahun 2026 ini saya melihat ada pola menarik bagaimana proses transisi Energi, efeknya pelan tapi pasti dimana beberapa ratusan tahun yang lalu energi minyak bumi menjadi begitu sangat primadona. kita masih bisa merasakan hasil dari produk turunanya berupa bahan bakar kendaraan kita sehari-hari, bahkan hingga hari ini.
Dunia teknologi dan industrialisasi terus melakukan permbaharuan dan perbaikan mengejar efesiesi dan efektifitas.
Kita tahu kemunculan berbagai industri kendaraan ternama perusaan raksasa contoh gampangnya Tesla dan BYD mereka dengan Visi yang jelas disupport teknogi yang sangat canggih, system aplikasian operasi sangat kopleks itu dimana system penggeraknya mayoritas terelektrifikasi secara energi dasar, bukan lagi bergantung pada produk turunan minyak bumi layaknya kendaraan komvensional.
Point ini ngasih catatan kepada kita bahwa efisiensi, efektifitas,harga ekonomis,tingkat proteksi tinggi, Auto operasi dan pastinya ramah lingkungan menjadi opsi utama masyarakat dunia saat ini.
Lantas bagaimana indonesia saat ini? Indonesia punya kapasitas energi listrik atau elektifikasinya terpasang lebih kurang 107.000 Mega Wat (Sumber Data Satisitik PLN tahun 2025) dimana beban puncak nasional total sekitar 61.287 MW.
Artinya dengan kapasitas terealiasasi ini sudah Oversulpply atau surplus. Dengan kapasitas energi berlebih ini muncul pertanyaan baru, apa yang harus kita lakukan dalam misi optimalisasi energi dan korelasinya dalam percepatan pertumbuhan ekonomi Negeri?
Pandangan saya adalah “Industrialisasi Opportunity”, pemodal dan pengusaha perlunya eksekusi usaha berbasis system pengolahan hasil pertanian misal tingkat provinsi-kabupaten, menjadi produk jadi, sekali lagi “produk jadi” siap ekspor! Artinya kita didaerah tidak lagi sibuk berkecipung dengan barang mentah lagi. Surplus energi ini tidak hanya di pulau jawa, tapi dipulau sumatera dan pulau lain juga surplus.
Jadi industrialisasi bukanlah sebuah ancaman akan tetapi bagian dari langkah pertembuhan ekonomi menuju negara mandiri. Negara Tiongkok (China) total terpasang pembangkit listrik negaranya sebesar 3.487.000 Mega Wat, bisa dibayangkan bagaimana seriusnya pergerakan industrilasisi dalam negerinya demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara mereka.
Saya bisa bayangkan bagaimana ribuan jenis pertanian kita yang selama ini di eksport dalam kondisi bahan mentah, tapi bagaimana kita olah didalam negeri sendiri menjadi barang jadi. Baru kita eksport barang jadi berkwalitas tinggi, ini akan berpotensi terbentuknya akselerasi dirantai nilai.
Surplus dari eletrifikasi negara kita saat ini secara rata-rata perkapita faktanya masih jaduh dibawah dari rata-rata elektrifikasi perkapita pada negara maju pada umumnya, hal ini akan saya bahas di lain waktu.
Saya mengerti bagaimana kolpleksitas pemenuhan standarisasi internasional khususnya barang jadi untuk dijual keluar negeri tidaklah mudah, akan tetapi selagi dukungan dan kebijakan birokrasi pemerintah yang Total, saya percaya selalu ada jalan.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan Ide serta dampak yang berarti”
Oleh: Farie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar