Rabu, 24 September 2014

Hanya Siapalah Dian

     Dari kejahuan sayup-sayup suara kokok ayam terdengar begitu mendayu, memecah sepi di pagi ini.dinginya udara subuh, mengusik mata gadis kecil itu untuk segera terbangun dari tidurnya.

     “Dian” itulah sapaan gadis kecil itu. hari ini hari senin, dian bangun pagi lebih cepat dari biasanya. Setelah melaksanakan sholat subuh, dian merebus beberapa potong ubi. kemudian dicampur dengan parutan kelapa, terakhir disirami dengan gula seadanya. Dian pagi ini kembali mebuatkan minuman hanggat tradisional berupa dedaunan dan campuran jahe, yang tempo hari dipanen langsung di belakang rumahnya. dengan minuman hangat racikannya dia berharap bisa menyembuhkan sakit sang nenek.
Ia seketika mengecup kening neneknya dan meletakkan segelas obat racikkannya di atas meja.
dian juga  memasakkan makanan rebus ubi untuk sang nenek yang lagi pulas tidur diranjang tempat tidur beralaskan kasur tipis yang nampak tak lagi rata itu.
Dian dan neneknya tinggal di sebuah gubuk tua, rumah panggung yang terlihat sudah reot. berdinding bambu, beratap seng buram disertai lobang-lobang kecil di beberapa bagian. mereka tinggal  berdua semenjak di tinggal ibunya yang menjadi TKW ke Malaysia tiga tahun yang lalu,  sedangkan sang ayah meninggal dunia karena penyakit tumornya yang di deritanya. Yang saat itu dian baru masuk Sekolah Dasar. Gadis kelas 6 SD itu sering merasa sedih mengingat sang ayah tercinta meninggal karena penyakit yang dia belum paham apa itu, tanpa ada sentuhan pengobatan yang layak apalagi  yang namanya “dokter”.

    Setelah menyiapkan makanan pagi untuk sang nenek, dian merapikan kostum kebangganya. baju putih yang sudah nampak mulai menguning dan rok merah pudar yang bakal di kenakan pagi ini. Ia masih ingat pakayan merah putih itu dibelikan oleh sang ayah. ia selalu ingat dengan pesan sang ayah: 

“sekolahlah yang rajin, jangan gampang menyerah raih cita-citamu, kami berharap nasipmu kelak tidak seperti kami”

makanya dian jarang sekali menegeluh dalam hal apapun, ia juga memiliki prestasi yang baik sekolah. Rengking tiga besar selalu menjadi langganannya saat menerima rapor.
terdengar suara pelan dari tempat tidur.

Nenek terbatuk…. “.. mau berangkat sekolah”? 

“Iya nek”, seraya mengenakan sepatu hitam lusuhnya penuh tambal dan sebelah kiri yang tampak menganga karena belum sempat ia perbaiki
.
‘Kenapa cepat sekali”?

“Nek…. pagi ini Dian mesti kudu cepat datang kesekolah”. “Soalnya Dian bertugas sebagai pembaca teks Pancasila dalam upacara bendera kali ini”..,  ucapanya bangga.

       Neneknya perlahan tersenyum, sebelum mulai batuk lagi. kalau sekiranya ia tidak sakit dan bisa berdiri dari ranjangnya mungkin sudah di peluknya cucunya yang mungil itu dengan haru.

    Disaat teman-temannya menghindar bila ditugaskan sebagai pelaksana upacara bendera, tetapi tidak bagi Dian. ada sesuatu kebanggaan dan tanggung jawab tersendiri baginya. ia memang gadis kecil yang memiliki semangat nasionalis yang baik dan ulet sang almarhum ayahnya selalu mengajarkan untuk mencintai Indonesia, dan menjaga Indonesia apapun yang terjadi.

      Dian bersekolah di SD Negeri 09 Tanjung Tujuh, barangkali jaraknya ratusan kilometer dari ibu kota Negeri ini. ia dan teman-temannya  butuh berjalan 2,5 kilometer untuk menuju sekolah, mereka mesti melewati perbukitan, hutan  dan jalan tanah yang tak jarang sangat becek apalagi musim hujan seperti sekarang.

    Pagi itu dian dan teman teman sampai di sekolahnya. Sebuah sekolah yang nampak dinding-dindingnya bewarna cokelat kusam, papan tulis kapur di depan kelas yang setengahnya sudah begitu rusak, bagian atap ruangan nampak lobang-lobang menganga di tengah kelas. Disaat hujan para siswa tak jarang harus “bergeser-geser” menghindari percikan air yang masuk ke ruangan kelas.

    Siswa siswi pun nampak berkumpul ke tengah lapangan, jumlahnya tak sampai seratusan.
Saat Upaca bendera, sampailah giliran dian membaca pancasila, dengan tanpa teks ia membaca poin-perpoin pancasila dengan hitmat, suaranya lantang, setelah poin ke empat ia tiba-tiba terhenti. matanya berkaca-kaca tak tertahankan cairan bening di sudut matanya menetes perlahan.butuh persekian detik ia menyelesaikan “sila kelima itu”

 “KEADIALAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”

dengan penghayatan dan sedikit terisak’ dian menyudahi tugasnya dan kembali ketempat.
Upacara bendera selesai, para siswa-siswipun bubar dan memasuki kelas masing-masing. saat memasuki ruangan kelas tiba-tiba Dian disapa oleh buk Mita guru Ilmu Pengetahuan Alam sekaligus wali kelasnya. Bu Mita menepuk pundak gadis kecil itu dengan senyum yang bijaksana, ia bertanya lembut;

“nak tadi saat membaca isi pancasila kenapa kamu nampak begitu sedih dan menangis”??, gadis kecil itu tertunduk dan kemudian menjawab.

“Bu”…. apakah kita hidup di Negara yang Adil”?Tanya Dian, anak kecil berumur 12 tahun yang selain sekolah perkerjaannya menjual lemper pisang buatan neneknya itu.

Buk mita mengehela nafas, tersenyum dan mengusap lembut kepala anak berkerudung itu.

” Anak ku “ 
 suatu saat kamu akan mengerti dan akan menjadi tugasmu untuk membenahi negeri ini “belajarlah yang tekun, raih cita-citamu dan perlahan betulkan negeri ini..sayang”

      Mungkin gadis kecil itu hanya diam, heran dan sedikit mengerutkan kening. Mengapa keadilan membuat keluarganya tidak dapat bantuan, kenapa keadilan ia  dan teman-teman tak dapat akses yang baik untuk menuju kesekolahnya, kenapa keadilan membuat ia dan teman-teman harus basah kuyup oleh air hujan ditengah asik belajar dikelas, kenapa keadilan membuat ia harus terpaksa meracik minuman obat tradisional sendiri tanpa ada bantuan pengobatan dari negeri ini, kenapa kesejahteraan rakyat (anak-anak) hanya bisa ia temukan di sinetron-sinetron yang pernah ia tonton di rumah Ani temannya??

       Tapi siapalah Dian? Hanya satu dari anak negeri yang tak tau kondisi bangsa ini, hanya satu dari anak negeri yang kaya raya ini yang seharusnya sangat pantas untuk mengeyam sesuatu yang bernama “pendidikan”, hanya satu dari jutaan anak negeri yang memiliki cita-cita yang besar dan harus pupus seketika dikala tak ada biaya untuk melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi. Hanya satu dari banyaknya anak kecil yang tidak mengerti mengapa wakil-wakil rakyat bisa dengan bebas berobat ke luar negeri sementara sang nenek yang dia cintai yang terkapar di tempat tidur hanya bisa pasrah, neneknya memang tidak punya cukup uang untuk berobat,,

"Ah… ,, hanya siapalah dian?"  

.......... 


Oleh: Farieco Paldona Putra
Riau, 22 April 2014

Terimakasih telah pembaca ^_^    
 

Selasa, 23 September 2014

LOVE SOVIA 3



yuk!! kita lanjutin kisahnya...  hehe ^.^
 ---
 
  Di tempat yang baru saja ku menyelesaikan sholat malam ku. ku lihat istriku nampak tumbang seketika dan terkapar didepan pintu … sontak aku kaget dan segera berlari depan pintu… aku sungguh khwatir, kaget “Din….. Dindaaaaaa” ….?? Sahut ku parau. 

Aku merangkulnya, memeluknya,  rasa cemas ku mulai tak menentu.

    Dalam posisi masih memeluk istriku, nampak di wajah Wawan kecemasan yang luar biasa.
“bapak” hmmm… putra bapak Irr…”

Belum ia menyelesaikan kalimat yang tak jelas dan terbata-bata itu, aku langsung memotong kalimatnya,

    “Wan segeralah pergi ke ruangan tengah, ambil minyak angin di kotak P3 (diatas rak kecil) dan  segelas air putih”

     Aku berusaha untuk tidak panik, ku bujurkan kakinya dengan lurus perlahan kemudian memposisikan kepala lebih rendah dari pada kaki agar darahnya dapat mengalir dengan baik ke otak. Kemudian mulai menyahutnya kemabali dengan rangsangan suara diantara alis dan telinga, suara ku mulai terasa begitu berat dan serak.  

“dinda…. !!Din?..Dindaaaa..

      Karena suara ku, dia mulai sedikit bergerak reflek kemudian ku dekatkan bau yang cukup menyengat dekat hidungnya (minyak angin) perlahan dia membuka mata dan terbangun. “Alahamdulillah..” sahut ku dan aku tersenyum kepadanya. aku berusaha memperbaiki memposisi duduknya dan meminumkan segelas air putih utuknya. 

“ayah” anak kita Rifaaan…..” ucapnya pelan.. (kemudian air matanya menetes)

“Maaf bapak, Putra bapak Rifan.. sekarang sedang di rawat di UGD dia terluka parah karena di gebukkin (hajar) masa  beberapa jam lalu”

Belum sempat aku bertanya kenapa. Wawan sudah menimpali “Ayo!! sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang”!!! jangan sampai terlambat.

Tampa ada persiapan apa-apa aku dengan sigap mengeluarkan mobil produksi dari garasi dan istri segera  membangunkan Putri dan Sovia yang tengah terlelap di kamarnya.

     Sesampai dirumah sakit (UGD) Irfan nampak sedang diberikan perawatan di sebuah ruangan, di luar ada beberapa orang sahabatnya dan  sebuah keluarga yang diantaranya ada seorang ibu yang meronta-ronta dan mengisi ke adaan. Aku, istri dan anak- anak yang sudah makin cemas, disambut dengan penjelasan terbatah-terbatah oleh Jefri, ia adalah salah seorang sahabat baik Rifan yang kami kenal karena pernah beberapa kali menemui Rifan kerumah. 

     “bapak, ibu” saya dapat berita, Rifan beberapa jam yang lalu terlibat dalam amukan masa kareana ia dan teman-temannya ketahuan menjarah sebuah rumah mewah tak jauh dari lingkungan sekolah”

       Mereka beraksi sebanyak 4 orang, dalam aksi tersebut sempat ketahuan oleh si pemilik rumah yang tadinya sedang tertidur nyenyak. karena sangat mendesak salah satu dari mereka melukai seorang bapak-bapak dan seorang anak laki-laki di rumah itu. 

     Karena aksi gagal, mereka berusaha untuk kabur “tiga orang teman-temannya behasil kabur, sungguh malang, Rifan tak dapat mengelak dia terlambat dan masa sudah keburu bertindak dan melakukan pengejaran, dan  sungguh-sungguh malang akhirnya dia didatapi, kemudian ia di hajar habis-habisan oleh warga di lokasi yang tak jauh dari rumah akan dijarah tersebut. untung saja ketua RT setempat memberi sikap yang tepat, secara sigap melakukan pelaraian. Yaitu menyelamatkan Rifan dari garangnya amukkan masyarakat”  Rifan tak berdaya, Ia langsung di larikan kerumah sakit, karena kejadian itu bersamaan.

       Keluarga korban yang terluka berat juga langsung di bawa ke Rumah Sakit ini juga, tak berapa lama waktu berselang anak yang terluka parah dari keluarga korban itu, baru saja di kabarkan meninggal dunia. Dan si bapak (kepala rumah tangga), sekarang dalam kondisi kritis”

     “Astafirulloh” gumamku dalam hati, tiba tiba pundak ku terasa begitu pegal, kesemutan dan sedikit migren ada rasa sakit di kepala bagian belakang, aku menahannya. Istriku setelah mendengarkan penjelasan Jefri ia menangis sejadi-sejadinya, terdengar juga suara tangis dan cucuran air mata dari Sovia kemudian memeluk ibunya. Putri tampak biasa saja (dingin), nampaknya komunikasinya dengan istriku masih belum benar-benar baik. Kemudian perlahan ia juga melunak memeluk ibunya.

    Sepuluh menit kemudian, datang seorang dokter keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri kami. Bapak keluarganya Rifan?? Setelah kami melakukan pemeriksaan serta perawatan, Rifan mengalami retak pada tulang pipi, tulang pergelangan tangan di posisi Ulna juga patah, dan satu gigi seri atas satu gigi taring bawahnya patah. mungkin ini pressing yang terlalu kuat dari benda tumpul beserta amukkan massa. Ada beberapa luka di bagian punggung dan dibagian wajah yang bakal ada bekasnya . tapi kami sudah melakukan penjahitan. 

     Hari sudah menunjukkan pukul 04.14 Wib, kami menginap di kamar tempat Irfan dirawat. Ibunya nampak duduk di kursi berdekatan dengan Irfan yang tengah berbaring. Masih menangisi si anak sulung yang tampan kebanggannya itu, kini ia menjadi sisulung yang tak punya gigi yang lengkap dan wajah berbekas luka (buruk rupa). Ia (Istriku) nampak sangat terpukul karena kejadin yang sungguh mengejutkan ini. Anak ku Putri (sibungsu) terlelap dalam pangkuan ku, dan Sovia tersandar di bahuku kemudian  perlahan ikutan  tertidur.



   Azan subuh sayub-sayub terdengar dari kejahuan, aku segera berwudlu, bersujud, memohon ampunan, memohon perlindungan, memohon keberkahan, ketenangan dan curhat kepada Zat yang menciptakan alam semesta.



 *****
Ya Rabb dikala bukti anugerah Mu menetesi hati hati kami dengan tetesan-tetesan cinta kenyamanan

Merangkul jiwa jiwa yang tak semestinya kami agung-agungkan melebihi Mu

Ya Rabb dikala kapasitas cinta Mu lengah kami sadarkan dalam rentang waktu yang tak tepat

Bagai bunga bunga yang mekar di pagi hari lupa akan kecupan segar embun yang menyiraminya

Ya Rabb dikala durasi waktu nafas yang Engkau beri tak kunjung kami resapi dalam kemaslatan umat

Ya Rabb sungguh kepemimpinan ini tentu nanti pasti Enkau pertanyakan bak penagih tampa basa basi

Ya Rabb beri aku kesempatan lagi… untuk berajut asa, dari butiran cinta Mu.

***
    Selama perawatan Rifan dirumah sakit dan perawatan korban. dari kesepakatan bersama semua biaya korban pihak keluarga kami yang menanggung. Dan mengenai Hukuman dari pihak yang berwajib tetap berjalan.

Aku dan istri beserta kerabat kian bekerja keras untuk mengimpun dana untuk memenuhi pengeluaran yang tak pernah kami bayangkan ini. Kareana butuh dana yang begitu besar aku terpaksa, menguras habis tabungan usaha kami, beberapa barang berharga, dan rumah kami juga tergadaikan. 

Sementara ini dengan terpaksa kami tinggal di rumah orang tua istri. Kami sekeluarga kini  bak satlecook yang mempertahankan batang bulunya yang sudah nyaris patah sehabis dipukul keras raket berkali-kali, dan mengikuti arus. aku arus sabar dari ujian ini. Mensyukuri apa yang ada pada hari ini, dan tentunya tetap melindungi keluarga dengan baik. 

Beberapa minggu  setelah perawatan putra ku Rifan, dari hasil sidangnya menyatakan ia difonis dengan kurungan 8 tahun penjara karena telah terlibat dalam suatu kelompok melakukan pembunuhan dan penganiayaan (dua orang korban). 

Ini lah kenyataan hari ini di saat situasi ekonomi keluarga yang terasa begitu makin sulit, di tambah tingkah laku anak-anak diluar dugaan. Kebiasaan untuk memenuhi kemauannya sudah menjadi darah daging bagi anak,  Saat permintaannya tak kunjung terpenuhi. kekeran, melawan arus menjadi pilihan. tampa mempertimbangkan apa dampaknya.

“anak ku semoga kamu mendapatkan pelajaran dari semua ini” ucap ku pelan saat fonis dijatuhkan. Kemudian mengusap rambutnya, mungkanya  sisa luka nampak masih lembam dan di perban.

**
terkadang cobaan hidup menimpukan batu kekepala kita, tapi jika sesuatu di dalam dada ini selalu berdetak. Di titik itu tak ada pilihan bagi kita selain menikmati rasa sakit dari timpukan tersebut dan kembali menjalani hidup”

**
Hari ini genap dua tahun, semejak kejadian itu kehidupan kami terus berlanjut, Putri dan Sovia sudah Sekolah Menengah Pertama, istriku sudah beberapa bulan ini berinisiatif membantu perekonomian keluarga dengan membuat bermacam macam makanana kue. Sedangkan usaha batik rumahan yang aku kelola bak “hidup segan mati tak mau”, makin lama makin sulit bersaing di pasaran. Aku tetap berusaha keras mempertahankan usaha turun temurun ini, semampu ku. walau kekhawatiran akan tidak adanya penerus lagi tetap menghantui pikiranku. Rifan yang ku harapkan sekarang masih sedang menjalani masa hukumannya.

**
Siang itu si gadis pincang ku (Sovia) baru pulang sekolah, nampak jilbab putih nya besah karena keringat sambil menenteng kotak kue yang selalu sudah kosong, dia agak tergesa-gesa mengucapkan salam 

“ayah” !!

Iya sayang”! ku tinggalkan pekerjaan ku. dan aku mengampirinya, 

“ayah minggu kemarin di sekolah sovia”, mengadakan audisi pemilihan karya terbaik 10 besar dari hasil lomba karikatur antar sekolah bulan lalu loh” 

“dan karikatur yang terpilih bakal di kontrak oleh salah satu surat kabar selama 1 tahun”.
Ohyah?? Bagus itu. Sahut ku semangat. 

“pemilihan itu sebetulnya sudah seminggu yang lalu tapi aku diam-diam kan saja” hehe (cekikikan)

Lho kenapa sayang??

“agar nanti kalau gambar aku ngak terpilih hmmm… biar ngak ada yang bakal sedih selain aku” ucapnya pelan dan tersenyum polos.

Ya udah ngak apa apa sayang, yang penting kamu sudah berusaha keras. kataku mantap menyemangatinya.

“Tapi, ayah” sahutnya sambil tersenyam-senyum geli dan …..
....

BERSAMBUNG

..saya mulai ngantuk nih... nexs time kita lanjutin yah .. hehe 

Terimakasih telah membaca ^_^


-farieco_Paldonaputra-

LOVE SOVIA 2



     Istriku ternyata masih ingin sekali mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi seorang model atau semacam publik figure seperti yang ia cita-citakan semenjak muda dahulu. Lain halnya bagiku, untuk saat ini yang paling penting anak-anak ku bisa sekolah tinggi serta mandiri, kemudian bisa menjadi penerus usaha batik ini, bagiku itu saja sudah jauh dari kata cukup. 

    Aku sangat berharap kepada sisulung (Rifan) untuk melanjutkan usaha batik ini, sementara istriku begitu sangat membangga-banggakan si sulung di tengah-tengah keluarga yang nota bene adalah bintang basket disekolahnya, langganan juara kelas, ada benarnya juga sahut sepotong pepatah “buah yang jatuh ngak bakal jauh dari pohonnya’, Rifan memilki postur atletis atletis kulit cerah serta wajah yang rupawan. sekilas ia memang punya potensi dan cocok di dunia permodelan mirip aku dikala muda dahulu.

     Sementara itu oleh istriku, sibungsu juga diajarkan dan diberi banyak wejangan bagaimana nantinya bisa menjadi seorang model yang terkenal serta mendapatkan pundi-pundi uang dengan mudah, ya itulah  istriku cita-citakan saat muda yaitu berkarir di dunia “modeling”. Untuk menunjang minat Rifan dan Putri, istriku menyokong secara penuh dan  menfasilitasi semua kebutuhan mereka seperti masuk les Seni, pakaian, camera pendukung untuk dokumentasi dan lain-lain. padahal mereka masih dalam tahap awal pendidikan, aku dan isriku terkadang sering ribut dengan masalah memfasilitasi anak-anak yang terkesan yang begitu berlebihan itu, sampai-sampai ia (istriku) mau menjual perhisan yang pernah kubelikan untuknya. Sungguh ini mengeluarkan dana berlebih-lebihan dan tidak penting.

     Kebiasaan Rifan dan Putri semakin membuatku resah, akhirnya sampai juga hingga ke pergaulan mereka. mereka lebih banyak bergaul dengan kalangan yang terbilang berada (kaya) di sekolahnya, ini adalah kemauan dan dukungan istriku agar pamor anak-anak bisa cepat naik dan terkenal, tak jarang mereka membawa teman-teman sekolahnya kerumah sekedar untuk bercerita kongko-kongko dan bektat tentang gaya hidup, yang sebetulnya hanya bersandiwara agar terlihat kaya mengedepannkan prinsip kegengsian belaka. Sementara itu anak nomor dua ku Sovia begitu sangat terabaikan, saat Rifan atau Putri bersama teman-temannya datang kerumah, istriku selalu menyuruh di iringi bentakan dan tak jarang menghardik Sovia agar cepat masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu rapat-rapat dan diam ditempat. 

     Istriku memang merasa sangat malu punya anak yang pincang, menderita penyakit kulit yang mengeluarkan bau tak sedap itu, Sovia terkesan “aib” bagi keluarga kami. Sungguh hati kecil ini meratap melihat kondisi semacam ini, awal-awalnya Sovia selalu menangis bila dipaksa untuk masuk kekamarnya dan lama-kelamaan ia mulai terbiasa mengerti dan tau diri dengan kondisinya itu. 

     Waktu terus berlalu perlahan tapi pasti dengan perawatan yang rutin dan penuh dengan kesabaran yang kujalani dan dengan segenap kasih sayang perhatian ke Sovia. Penyakit kurapnya yang dideritanya mulai mereda, Pelan-pelan rambutnya kembali bisa tumbuh panjang layaknya anak-anak pada umumnya, walau bekas dan sisa-sisa dari penyakitnya masih ada. kala putri bunsungsuku sudah tahun kedua di Sekolah Dasar, aku akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan juga Sovia, dengan kondisi fisik yang cacat (pincang) dan memiliki wajah tak secantik adiknya. 

     ia begitu bersemangat saat ku kabari bahwa ia akan belajar setiap hari tempat yang namanya “sekolah” dan akan punya banyak teman layaknya seperti adiknya aku masih ingat apa yang di ucapkannya;



     “terimaksih ayah, sovia senang sekali bakal punya banyak teman” sembari ia berjalan mendekatiku dengan langkah tak beraturan (pincang) dengan tenang ia merangkul ku, memeluk dengan erat, “terimakasih ayah”…. Matanya basah dan berbinar

“iaa sayang, ayah senang jika kamu punya banyak teman” nanti bawa main kemari, seperti temannya kaka dan adik mu” hibur ke sovia. Dan ia mengannguk dan tersenyum.

   Sovia adalah anak yang bersemangat, semua tentang sekolah nya tak luput dari perhatian ku. hasil belajarnya persemester ia memang tak sepintar adiknya, nilai-nilai Sovia “menengah” (rata-rata) tidak begitu jelek dan tidak begitu bagus, tapi ia memiliki sifat tau diri yang “baik”. ia belajar secara konsisiten mandiri setiap hari. Dari waktu ke waktu dari smester kesmester nilai si gadis pincang ku itu menampakkan sebuah perubahan, sekaligus memperlihatkan bakat yang membuat aku dan istriku mulai makin kagum padanya. ia mempunyai kemampuan daya hitung yang sangat baik diantara teman-teman sekelasnya ia sering mendapat nilai sempurna (mendekati), ia juga sering mengajari teman-teman sekelasnya dalam sebuah kelompok belajar, tak jarang teman-temannya Sovia juga datang kerumah untuk berdiskusi dengan Sovia, bahkan adiknya yang telah dua tingkat diatasnya sering dibantu memecahkan soal hitung-menghitung yang katanya rumit itu.

     Sovia perlahan tumbuh sebagai anak yang percaya diri, selain menonjol dari pelajaran menghitung sovia ternyata juga senang dengan seni gambar. siapapun bahkan aku sendiri tidak pernah menyangka saat mengetahui Sovia, si gadis malang yang dulunya sering dipaksa (sambil ter isak-isak) masuk kamar oleh ibunya, dikala teman-temannya kakak dan adiknya datang kerumah. Awalnya aku bahkan istriku mengira Sovia di kamar sedang menangis (karena selalu di omeli istriku tanpa alasan yang jelas) atau sedang memutuskan untuk tidur, ternyata anggapan ku salah.

    Suatu kali di tengah-tengah sovia di suruh mengurung diri di kamarnya, pernah diam-diam aku mengintip dari belakang pintu, aku agak tergaketkan rupanya ia sedang asik mengores-goreskan beberapa pensil warna, kemudian melukiskan diatas kertas gambar di meja belajarnya, aku tiba-tiba terdiam di belakang pintu kamarnya, sekilat itu hati ku berkata “aku kagum pada mu nak, ternyata kamu tidak karna semua ini” 

      Sovia menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuat ia senang, dia tidak larut dengan kesedihan. Semejak itu aku mengetahui satu lagi bakatnya yaitu “melukis”. Ke kepoan ku kian berlanjut, karena penasaran, pernah juga suatu saat aku nyelonong kekamar anak ku itu nampak Sovia dan Putri sudah tertidur dengan lelap, aku ingin tahu tentang gambar apa yang di buat oleh sigadisku itu?, ternyata ia punya jiwa seni unik dan dalam. aku terharu melihat goresan detail lukisan kartun yang di buatnya, gamabar putri raja nan cantik dengan gaun yang indah dan seorang raja kemudian prajurit-prajurit yang dilengkapi dengan atribut kerajaan yang detil sekali, dia juga suka membuat jenis jenis pakaian-pakainan cantik yang lagi Trend sekarang, pakaian yang sopan dan modis. selain itu dia juga membuat berbagai macam karikatur lucu, yang mengundang tawa dan unik.

       Ditengah-tengah kebahagiaan yang aku dan istriku rasakan tentang kemampuan Sovia yang tak terduga itu. Rifan yang baru saja lulus dari SMP tiba-tiba secara mengejutkan minta ganti sepeda motor kepada ibunya. karena kondisi usaha (batik) kami yang semakin mengkhawatirkan, akhirya aku tidak memenuhi permintaannya si sulung itu. Dan Rifan mencoba membetak ibunya, aku mencoba untuk menenangkan keadaan, dan perlahan menasehatinya. walau istriku dengan gampang menyarankan agar memenuhi permintaannya Rifan. aku tetap tidak memenuhi permintaan tersebut, Rifan nampaknya marah kepada ku ,begitu juga istriku yang sudah nampak menua itu. aku menyadari hal ini adalah dampak kebiasaan istriku dari dulu yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan Rifan. 

     Semenjak keuangan keluarga macet, banyak perubahan yang terjadi pada si bungsu (putri), ia sering adu mulut dengan istriku, karena kebutuhanya sering kali terpaksa tidak dipenuhi. istriku yang sudah terlanjur membiasakan mereka dengan kesenangan dan berkecukupan, sekarang dampaknya mulai diraskan, istriku mulai stres. Rifan yang baru masuk SMA akhir-akhir ini sering pulang malam bahkan ngak pulang selama dua hari, dan beri alasan belajar kelompok, sering mengilahkan nasihan dan teguran ku yang lama-lama mualai lebih tegas, kepadanya. Dalam hal membimbing anak untuk mendalami seni peran, model yang telah menghabiskan waktu dan materi oleh istriku kini aku mulai menyadari bahwa mendorong (memaksa) anak dengan sesuatu yang tidak disenangi adalah cara mendidik yang salah, Rifan barangkali mulai mencari dunia yang membuat dia lebih merasa “berdaya” dan “bebas”, wataknya kian keras dan  susah di atur. begitu juga dengan nilai belajarnya kian tak jelas…,

“ahh…. bagaimana mau menjadi penerus usaha batik keluarga kalau seperti ini!! Gumam ku.  Seiring waktu aku semakin sungguh sungguh mengkhwatirkan kondisi ini.

##

      Suatu malam, tidak seperti biasanya rumah kami digedor-gedor keras oleh seseorang, Putri dan Sovia masih terlelap dikamarnya. istriku sangat kaget dan sejurus kemudian segera membukkan pintu, ternya dia adalah Wawan dia adalah salah satu karyawan kami yang hanya tinggal beberapa orang saja, seiring nafasnya yang masih ngos-ngosan ia terdengar berbincang dengan istriku. Dari tempat ku baru saja menyelesaikan sholat malam ku,,, ku lihat istriku nampak tumbang seketika dan terkapar didepan pintu … 

sontak aku kaget dan segera berlari kearah pintu… aku sungguh khwatir 

“Din….. Dindaaaaaa” ….?? Aku merangkulnya, rasa cemas mulai menyerang..

...
BERSAMBUNG

Terimakasih telah membaca ^_^