Senin, 11 Mei 2026

Pazzle Waktu 9 : “Filosofi bapak; sekolah adalah jalan terbaik nak”

Suhu 16 ºC pagi ini terasa begitu dingin, efek sisa proses pelepasan panas bumi keadmosfer secara maksimal dari tengah malam hari, nah paginya matahari baru terbit tuh, dikondisi ini masih terasa begitu dingin jadi wajar temperatur pagi hari itu dingin terasa menusuk tulang, apalagi disini di dataran tinggi diangka  +1200mdpl.

 

Sesampai dimeja kerja saya melihat beberapa belasan kertas yang minta di tandatangani oleh devisi umum, karena saya kebetulan penganti manager unit yang tengah dinas hingga weekend.

Dengan penuh syukur misi pagi ini tertuntaskan tau kenapa? Kolaborasi yang Apik saya bersama isri tercinta setiap paginya; sarapan tuntas, kesekolah dan kekantor  ontime anak happy rumah pun bersih pencapaian hebat kami untuk mengawali hari ini Alhamdulillah.

Mana yang lebih baik pendidikan dini dibangku sekolahan  atau terlibat sedini mungkin dalam usaha mencari nafkah keluarga?

Saya cukup paham, Kita punya latar sosial, lingkungan, suku, prinsip, ekonomi, variatif dan beragam. Hal ini lah akan mempengaruhi pilihan mana yang akan menjadi prioritas hidup kita bahkan hal itu dituntut saat kita sedari kita kecil.

Saya jadi teringat dulu tahun 1997  waktu itu masih di Sekolah Dasar si bapak bilang “Sekolah adalah jalan terbaik saat ini nak”  kalimat yang terucap ini terdengar biasa. tapi mengandung makna yang sangat dalam. Ada luka dari sudut sudut huruf yang terucap dari nya, Tersirat gugup dari paras seorang laki-laki tua yang kenyang akan asam garam kehidupan. Keras likunya jalan hidup masa mudanya dalam menapaki jalur fisikal, jalur manual berbatu, jalur pekerja buruh yang lelahnya tak berujung. Ini lah menjadi dasar yang membaja kokoh tak bisa ditawar-tawar lagi bagi revolusi masadepan anak-anaknya kelak.

Pendidikan adalah jalan, beliau adalah seorang  pecinta sejarah dulu waktu kecil sering cerita banyak tentang negara, politik dan sosok pemimpin. beliau selalu bilang kalo sekolah itu kita bisa begini begitu, kalo kuli ada duit tapi kita akan sulit berkembang. Ujung-ujungnya seperti kami orang tua kalian.

Itu lah bapak kami, ditahun 1990 an anak-anaknya diwajibkan sekolah minimal SMA, itu nazarnya.jadi hukumnya Wajib.

Dari sudut pandang ini saya menilai bukan berarti tidak menempuh pendidikan sekolah bukan beberti tidak lebih baik masa depanya. Tapi menurut saya dengan pendidikan sekolah mengajarkan kita secara kontinue pembentukan karakter- pondasi diri, bila penerapan dari system yang benar ini akan berpotensi masimal hasilnya. Tapi beberapa yang terjadi penerapan yang tidak tepat ini yang jadi soal pada dunia pendidikan.

Masa mudanya banyak hal yang membuat dia terluka--menyesali dirinya yang hanya tamat Sekolah menengah pertama, beliau kerap kali bekerja sebagai kuli bangunan dirumah orang kaya mampu dasisi ekonomi disana dia belajar apa sebenarnya dari sisi formula.

Ya , Pendidiakan adalah dasar awalnya, harapan besarnya agar dapat memeperbaiki kehidupan generasi selanjutnya.

Dengan keterbatasan ekonomi keluarga yang luar biasa, beliau berdarah-darah, cidera, mecari uang untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan pangan kelurga tetap berjalan beriringan.

Allah SWT selalu kasih jalan bagi kepala keluarga yang sungguh-sungguh memperjuangkan istri dan anak-anaknya  yang dicintainya setiap kebuntuan kesuliatan menghadang. entah kenapa selalu ada jalan keluar, berbagai macam tantangan yang dihadapi orang tua saya.  

Pada tahun 2011 tepat lebih dari 30 tahun menyekolahkan 6 orang anak-naknya hingga benar-benar lempas dan hidup mandiri.

Salah satu moment yang mengharukan ditahun itu adalah tertunaikanya “Nazar” Pahlawan terbaik kami itu terhadap anak-anaknya, berhasil menyelesaikan tingkat SLTA apalagi sudah bekerja dan mandiri. maka dikurbankan seekor kambing pada setiap anak lalu dioleskan darah kambing itu ke punggung kaki setiap anak-anaknya. Sebagai bentuk simbol rasa syukur atas tercapainya  misi besar  dalam Hidupnya.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat sebesar-besarnya kepada Almarhum bapak kami Pejuang kami, kasih cinta pengorbanan yang tak terkira demi keluarga besar demi anak-anaknya yang  begitu ia sayangi.

Lantas bagaimana dengan ibuk saya? Ada jutaan kesetiaan, pengorbanan dari beliau. tak terkira versi perjuanganya seorang ibu. Semoga sehat selalu orang tua kami tersayang.

Bapak kami lulusan SMP pada masanya, lalu ibuk kami hanya sampai kelas 2 Sekolah Dasar. But Amazing anak-anak dan cucu2nya 99% lulusan Perguruan Tinggi dan diantaranya S2/Magister  (komposisinya; PNS, dan beberapa bekerja diperusahaan-perusahaan Kritikal di Negeri ini) .

Kita manusia punya rencana bahkan cita-cita dan impian, lalu kita menjaga merawat rencana itu seutuhnya walau langkahnya maraton hingga terseok-seok, lalu Yang Maha Pencipta mengaminkan menjaga mereka yang bernaung didalamnya konsistensi dalam  hari, bulan, tahunan bahkan puluhan tahun. kemudian terwujud dengan baik, bahkan melebihi dari apa yang di impikan selama ini.

Ini lah sepotong Pazzel kisah dari tekat kuat dari seorang bapak jauh dari masa lalu, ini akan menjadi tolak ukur bagi saya demi pendidikan generasi setelah saya.

Mental Generasi yang berbeda, dengan basic penerapan formula yang sama , sederhana dari bapak kami.     


“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”

Oleh: Farie

 

Farieco

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar