Ada yang sama hoby kita?
Masih sangat teringat dengan jelas, dulu… masih Sekolah Menengah Pertama dikampung saya; Selatanya Sumatera Barat, tepat dibelakang Sekolah Dasar legendaris kami. Inisiatif goro bersama pemuda desa kami, patungan dana dan terbentuklah sebuah lapangan Bulu Tangkis beton (outdor) satu-satunya dikampung kami.
Tahun 2003-2004 an, keberadaan lapangan itu cukup begitu Keren dimasanya khusus dimata saya. Sudah bak Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium bagi kami anak-anak kampung yang haus akan hiburan olahraga melepaskan keringat sepulang sekolah.
Dari pinggir lapangan ini selalu menjadi hiburan seru tiap sore sentero kampung kami, terutama saya dan teman-teman sebaya. pemuda hingga kalangan bapaQ-bapaQ. Di masa ini euforia badminton meracuni saya dan kami para bocah belia.
rasa penasaran menerawang dikepala saya waktu itu kenapa bisa dari sebatang raket dapat memantulkan bulu ayam berkecepatan tinggi?, saat itulah saya mulai suka kepo di Koran-koran halaman olahraga hingga berita ditelevisi; tentang Tournament dari kejuaraan Dunia hingga Superseries, mengenal yang namanya Taufik Hidayat dan atlet lainya.
Entah kenapa mejadi hiburan keren kalo nontonin bapak-bapak main disore hari padahal saya hampir tidak pernah diajak main, karena memang tidak ada peralatan satu apapun :D. Masa itu jika memang ingin mencoba main badminton, tidak ada yang bisa dilakukan selain minjam raket ke teman.
Faktanya: tak selamanya bisa mengandalkan itu :( .
Sekian tahun berlalu. Hobi yang terpedam.
Hingga dibangku perkuliahan-Tamat, sudah mandiri tahun 2011 merantau. Dititik diaman saya sudah menghasilkan uang sendiri, disitulah saya baru mampu beli yang namanya “Raket sendiri”, “Sepatu sendiri”, “Seragam sendiri”.
Tapi memang, entah kenapa! “aneh bin Ajaib”, bila kita merasakan suatu berupa filling yang kuat-Hasrat/daya dorong begitu bergejolak terhadap sesuatu, sebaiknya itu dikomversi menjadi kenyataan. tidak butuh lama saya jadi pemain Badminton cukup diperhitungkan dimasanya (di Perantauan).
Saya fikir Ini bagian dari merefleksi diri sisi gejolak jiwa-yang tersimpan-tertahan bertahun-tahun di dalam hati dipikiran saya. Tak peduli itu selama apapun tersimpan bahkan tertunda dalam jangka waktu yang begitu lama. Bila itu memang potensi diri, dia akan muncul kepermukaan dengan sendirinya.
Saya percaya sang “Maha Desainer” sudah mengatur sedetail dan sekomplit mungkin system dasar bertahan dan adaptasi pada Manusia. kita dipersilahkan untuk bertebaran dimungka bumi ini dengan segala keberagaman kita, tapi selalu dikasih jatah senjata-berupa Potensti untuk beraksi, kreasi, karya, ber- ekspresi dalam hidup, goalsnya membawa manfaat orang lain. tapi apakah kita sudah menemukanya atau belum?
Jadi, saya percaya setiap manusia selalu ada hoby yang bisa dikomversi kebentuk portofolio Keren minimal untuk diri sendiri.
Menembus babak semi final IKPP CUP tahun 2012 tempat saya bekerja adalah salah satu pencapaian hebat saya dalam Olahraga Bulutangkis, dalam partai Ganda selalu ada partner yang membantu dan saling menguatkan.
LaluTahun 2016, 2017,2018 adalah masa juara 1 dan 2 jadi langganan di cevitas perusahaan Electrical company.
Tahun 2019 satu satunya pemain yang dikirim dalam keikut sertaan POR Pembangkit di Surabaya. Terkhir 2025 lalu juara 1 (Emas) di Super Series 750 antar Regional Se-Nasional Pembangkit kembali dihelat juga di Kota Surabaya.
Perjalanan yang kita minati masing-masing kita juga bervariatif, tingkat kompetitif yang sangat beragam. kita bisa mengambil kopetisi sesuai kelas dan ambang batas daya yang kita miliki.
Badminton tak hanya sekedar soal menang atau kalah, tapi dalam konteks yang sangat luas. Ada fakta menarik; dari badminton akan terbentuklah komunitas lalu terciptalah persahabatan dan kekeluargaan baru.
Sejauh ini bagi saya barangkali jumlahnya ada ratusan lebih sudah menjadi keluarga baru terjalin hingga saat ini. sebagian besar karena bulu tangkis, setiap menetap disatu daerah selalu ada kelurga baru, begitu seterusnya hingga hari ini alhamdulillah.
Pada akhirnya muncul pertanyaan penting “ Jadi… kapan kita Mabar” ? hehe
walau fisik tak sekuat dulu, lompatan tidak setinggi yang dulu, tetapi setidaknya bermain untuk berkeringat, tertawa bareng dipinngir lapangan sambil ngopi.
Misi demi Merawat, Memperkokoh tali Persaudaraan kita Insyallah saya masih bisa. :D
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”
Oleh: Farie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar