Tengah kuliah berlangsung (Tahun 2009);
“bro ntar sore pulang kuliah kita lanjutkan kerjaan kemarin ya”
“lansung ni”.. ? (jawab saya)
“Ya lansunglah” ,menghitung hari plafon gedung itu segera di instal jaringan kelistrikanya jadi mesti kita dikelarin kerjaan kita”
“oke siap! Gass” jawab saya singkat.
Namanya Syahrul, teman baik saya masa kuliah paling hebat memasang instalasi listrik rumahan, Ruko/Gedung usaha. Saya banyak belajar dasar-dasar rangkaian listrik dari beliau ini, dia mampu menghitung dengan cermat seberapa kebutuhan kabel, pipa konduit, klam kabel, stop kontak, sakelar, lasdop dan lain sebagainya.
Dari bebera job terealisasi instalasi jaringan listrik ini, pernah dapat kerjaan lantai dua disalah satu gedung Showroom Mobil di Jl. Khatip Sulaiman kota Padang.
Gedung itu tengah proses Renovasi dibeberapa ruangan, otomatis perlunya perubahan jaringan instalasi kelistrikan.
Pekerjaan yang dilakoni sepulang kuliah ini biasanya berlanjut hingga tengah malam, ini menjadi sebuah moment hebat tersendiri disudut hati saya hingga hari ini. tahap membobok, ngklem, nyambung kabel, instal pipa bolak balik kami lakukan naik turun plafon atas saling bantu merangkai jaringan satu sama lain.
Tepat dibelakang gedung itu saat istirahat sholat makan, saya terduduk mengamati beberapa orang karyawan kantor itu tengah berolah raga Badminton riang gembira. Jiwa muda saya, jiwa muda si anak desa yang punya lapangan outdor badminton dibelakang sekolah dasar dikampungnya kembali meronta-ronta menonton pemandangan seru terpampang nyata didepan mata, ingin sekali hati ikut bergabung disana, melompat lalu mengayunkan raket. Tapi, seakan semesta bilang “belum waktunya anak muda”.. tidak untuk sekarang” Sabar!.
Lagi saya sampaikan itulah hebatnya memorial dijaringan otak manusia.
Masih saja ingat moment-moment se sepele begini padahal sudah bertahun-tahun berlalu.
Kami pulang pukul 22 an malam, Bos kami meminta untuk sekalian membawa hasil puing-puing sisa Renovasi bangunan mengunakan mobil barang L300 ke simpang Gia Padang masuk kedalam. Segenap sisa tenaga, kami memuat sisa material tersebut ketruk barang itu, sisa-sisa lembaran gibsum plafon, sisa batu bata,sisa pasir bercampur semen.
Sepatu kuliah kami penuh debu, baju kaos bermandikan keringat.
Kami terkapar diatas sisa-sisa material bangunan diatas truk berdebu itu, menengadah keatas menatap langit malam, tangan sudah lembab badan rasanya bengkok remuk, kumal dan berkeringat.
Dua mata saya nanar menatap langit, nun jauh disana berkelap-kelip seperti pasir diatas sana Gemintang bertaburan indah bak ribuan penonton distadion Oldtrafford Riuhh…. tepuk tangan ditimpali penuh sorakan, moment seorang Nani mencetak Gol spektakulernya :D.
Bintang-bintang keren itu seakaan menyemangati kami … “anak muda bila kamu hargai yang kecil ini malam ini, besok siap-siap terimalah yang lebih besar dan lebih terhormat lagi anak muda!.”
(Dalam hati saya) keren sekali bintang-bintang itu jauuh diatas sana ribuan-jutaan Kilometer jaraknya dari truk ini.
Semua ini saya jalani demi dapat mengetik satu baris SMS di Handphone Samsung jadul saya ke bapak saya dikampung sana, tentunya dengan rasa Gagah dan Bangga;
” Pak ndak usah kirim duit dulu, untuk makan dan jajan seminggu ini masih ada”
Hanya satu baris, lompatan kecil itu tapi sangat-sangat bernilai bagi saya. Saya bisa merasakan suasana hati dan aliran darah bapak saya waktu membaca sepotong sms dari saya itu.
Sederhana, Hanya saya berfikir Gimana caranya meringankan beban orang tua dikampung, dimana usianya yang sudah semakin menua dan membuat saya semakin kasihan.
Ada kalanya Aktifitas memuat membongkar sisa material renovasi gedung ini juga harus saya jalani seorang diri. Sakit ditangan tapi lega dihati, dapat menangani kebutuhan sendiri dengan keringat sendiri walau hanya bertahan untuk beberapa hari.
Ini menjadi suatu kebangganan tersendiri bagi saya, telah berhasil meyakinkan diri sendiri dan orang tua. Mencoba menolak menjadi beban keluarga, tapi dapat membuktikan bahwa bisa berupaya sendiri, walau menyisakan lelah tak terkira, biasanya kerap ngantuk besok paginya saat kuliah kelas teknik kami pekerjaan diam-diam tampa banyak yang tahu. bahkan oleh teman-teman kuliah sekelas saya.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman lalu menciptakan dampak yang berarti”
Oleh: Farie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar