Sang waktu adalah si penasehat ulung soal ngasih tahu ke kita “heii.. “ayo lakukan sesuatu sekarang , ini lah saatnya”, dari sekian episode dalam perjalanan hidup kita. Dengan segenap super variatifnya Sang pencipta ngasih modal potensi dasar ke masing-masing kita sebagai manusia, ada yang jago speaking, ada jago nyanyi, ada yang jago main bola, ada yang jago matematika dan seterusnya. Setiap ada kelebihan juga pasti ada kekurangan, teman-teman ada sebagian dari kita dibekali modal dengan tingkat ekonomi yang terbilang rendah bahkan saat fase awal kita lahir ke bumi ini, diasuh oleh kedua orang tua dengan tingkat pendidikan dan harta seadanya (*contohnya saya).
Dibesarkan dengan fasilitas pendidikan yang serba terbatas, padahal itu hal yang mendasar bekal dalam menghadapi dunia yang keras ini. Ekonomi-pendidikan minim menyelimuti masa kecil sebagian dari kita contohnya saya. Namun Allah SWT Maha adil dari keterbatasan itu, dengan keadaan nan jauh dari kata ideal, masa kecil dalam menapaki anak tangga pendidikan sungguh tidak mudah.
Sisi lain ternyata sang pencinta juga ngasih modal lain ke saya yaitu “Durability/ Daya Tahan”, kemampuan untuk bertahan lebih lama. Daya mampu untuk Bertahan dari dari guncangan dan bisikan-bisikan “hai itu sulit..” kamu gak bakal bisa..” “sudahlah hasilnya bakal sama aja”.. “ mending ayo pulang saja terlalu bikin pusing tugasnya”… bikin capek resikonya tinggi, ntar kamu mati” dan bla bla bla.
Saya coba analogikan kita itu ibaran Hiro dalam Video Game, kamu adalah Heronya. Kamu dikasih modal dasar buat “Fighting” guna menuntaskan Misi-misi mu, misal levelnya dari 1 sampe level 1000, jadi setiap level yang kamu selesaikan kamu akan dikasih bonus tambahan dan kekuatan/darah tambahan itu tujuanya membantu kamu agar dapat melewati level yang lebih tinggi lagi. yang pastinya dengan tantangan dan tingkat kesulitan lebih besar lagi.
Jadi sang pencipta juga begitu, ”lu gua kasih modal.. “xxxx” dengan tantangan “yyyy” bila lu berhasil tantangan ini,maka yang sebelumnya “xxxx” itu bakal saya tambah kuantitasnya lagi, hal yang lain sesuai kebutuhan mu dalam menyelesaikan tantangan selanjutnya. Jadi tak bisa dipungkiri saya menilai daya tahan saya hal itu membawa saya ke titik hari ini, tidak mudah mengeluh.
Hal itulah yang medasari “apa yang dapat hari ini wajib disyukuri” bila dari hasil usaha kemarin dapat hanya sepotong roti, nikmatin rotinya dengan penuh rasa syukur” evaluasi pola usaha yg kemarin rancang strategi usaha esok hari”… logikanya akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Begitu juga bila hari ini kita udah matian-matian ikhtiar soal tempat tinggal misalnya hanya dapatnya kontrakan untuk anak dan istri, mari… kurangi ngeluh mari hargai hasil keringat kita sendiri yang kemarin, ambil waktu untuk ngevaluasi metode usaha yang kita praktekan selama ini, saya percaya kita bisa mengubah keadaan bahkan untuk punya rumah sendiri (*contohnya saya).
Bila kita seorang pembelajar (siswa,mahasiswa) yang kemarin udah maksimal buat ngejar IPK dengan misi ngejar minumum batas passing grade beasiswa misalnya, udah maksimal upaya yang dilakukan. Apapun hasilnya ayo mari disyukuri, apresiasi usahamu sendiri. bila merasa kurang ambil momentum buat ngevaluasi kinerja belajar, saya percaya semester depan logikanya Insya Allah hasilnya lebih baik lagi.
Jadi teman-teman sekalian, sekecil apapun yang kamu peroleh dari hasil usamu sendiri,
sekali lagi “dari usaha mu sendiri!” ya. Mari dinikmati se versi mu sendiri, disyukuri, disenyumin… “terimakasih ya aku”, udah berusaha sekeras keras usaha diri”…. Nexs coba lagi,.. evaluasi lagi coba lagi.. evaluasi lagi.
semoga menuai hasil yang lebih baik dari hari lalu. sesuatu yang kecil yang kita syukuri dibarengi ikhtiar maksimal itu akan Allah SWT kasih yang lebih besar dan berkah InsyAllah. Hargai yang kecil dulu itu sebagai syarat dalam hal kamu di kasih yang lebih besar.
“Waktu yang bernilai memberikan kita pengalaman,lalu menciptakan dampak yang berarti”
Oleh: Farie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar